Osaka Bawa Gaya Iverson ke US Open, Menang Dramatis di Tengah Malam New York
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka mengawali US Open dengan kemenangan dua set langsung atas Anastasia Zakharova, meski sempat kehilangan keunggulan besar.
- Penampilan Osaka kali ini tidak hanya soal tenis; ia memadukan gaya basket ala Allen Iverson dengan gaun putih berhias koran, menegaskan dirinya sebagai ikon mode di lapangan.
- Kemenangan ini membawanya ke babak kedua melawan Katerina Siniakova, dengan janji kejutan busana baru yang dinanti para penggemar.

Naomi Osaka kembali membuktikan bahwa penampilannya di lapangan tenis tidak pernah lepas dari sorotan mode. Pada laga pembuka US Open di Flushing Meadows, Selasa dini hari WIB, petenis Jepang berperingkat 13 itu tampil memukau dengan gaun putih berkerudung yang dihiasi potongan headline surat kabar tentang kariernya, sebelum berganti ke seragam basket hitam ala legenda NBA, Allen Iverson. Di balik gaya yang mencolok, Osaka harus bekerja keras untuk menaklukkan petenis Rusia Anastasia Zakharova dengan skor 7-6 (8-6), 7-6 (7-3) dalam pertandingan yang berakhir menjelang tengah malam waktu setempat.
Kemenangan ini bukan sekadar soal angka. Osaka, yang pernah dua kali juara di turnamen ini (2018 dan 2020), menunjukkan bahwa ia masih memiliki mental juara meski performanya sempat goyah. Ia memulai laga dengan percaya diri, unggul 2-0 dan nyaris 4-0 di set pertama, namun Zakharova, yang berada di peringkat 101 dunia, tidak menyerah dan memaksa tie-break. Di set kedua, pola serupa terulang: Osaka sempat unggul, tetapi lawannya kembali menyamakan kedudukan. Baru pada tie-break kedua, servis-servis keras Osaka menjadi pembeda, membawanya unggul 5-1 dan menuntaskan laga tanpa harus melalui set penentu.
Yang menarik, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pukulan-pukulannya. Osaka, yang dikenal sebagai salah satu atlet paling stylish di sirkuit WTA, mengaku terinspirasi oleh Allen Iverson, mantan bintang Philadelphia 76ers yang dianggap mengubah cara pandang terhadap fashion di dunia olahraga, khususnya basket, pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. "Dia seorang pelopor. Saya sangat mengaguminya karena dia banyak berkontribusi di dunia mode, baik disengaja maupun tidak," ujar Osaka dalam konferensi pers usai laga. "Dia mengubah cara pemain NBA berpakaian dan memicu percakapan tentang ekspresi diri melalui gaya."
Bagi penggemar tenis di Indonesia, gaya berani Osaka mungkin terasa asing, tetapi fenomena ini sejalan dengan tren global di mana atlet semakin menggunakan panggung olahraga untuk mengekspresikan identitas. Di Tanah Air, para petenis muda seperti Aldila Sutjiadi dan Christopher Rungkat juga mulai menunjukkan perhatian pada penampilan di lapangan, meski belum sejauh Osaka. Industri fashion olahraga di Indonesia pun turut tumbuh, dengan merek lokal mulai merambah pasar apparel tenis. Namun, yang lebih penting dari sekadar gaya adalah pesan Osaka bahwa atlet bisa tampil beda tanpa kehilangan fokus pada performa.
Osaka sendiri mengakui bahwa mode adalah caranya berkomunikasi. "Saya ingin bermain bagus karena saya ingin menunjukkan lebih banyak pakaian kepada kalian," katanya sambil tersenyum. "Saya suka mengekspresikan diri lewat pakaian karena saya tidak suka banyak bicara." Pernyataan ini menegaskan bahwa bagi Osaka, setiap turnamen adalah panggung ganda: pertarungan tenis sekaligus peragaan busana. Ia telah tampil dengan berbagai kostum ikonik, mulai dari gaun emas bergaya Menara Eiffel di Prancis Terbuka, kimono putih di Wimbledon, hingga outfit ubur-ubur di Australia Terbuka.
Namun, di balik gemerlap busana, ada pertanyaan besar: mampukah Osaka mempertahankan konsistensi sepanjang turnamen? Sejak kembali dari jeda panjang karena masalah kesehatan mental, performanya belum stabil. Ia tersingkir di babak awal beberapa turnamen, dan US Open menjadi ujian seberapa jauh ia bisa melaju. Melawan Siniakova, yang dikenal sebagai pemain ganda yang tangguh, Osaka tidak bisa mengandalkan gaya semata. Ia perlu mempertajam fokus dan mengurangi kesalahan sendiri, seperti yang hampir merugikannya di babak pertama.
Kemenangan dramatis ini tentu menjadi modal berharga. Namun, turnamen masih panjang, dan lawan-lawan berikutnya akan semakin berat. Apakah Osaka mampu menggabungkan gaya dan substansi untuk kembali merebut gelar di New York? Atau akankah mode justru menjadi distraksi? Publik tenis dunia, termasuk penggemar di Indonesia, akan terus mengawasi setiap langkah dan setiap busananya.



