Kontrak Baru Norris Mengubah Peta Kekuatan McLaren: Nasib Piastri di Ujung Tanduk?
Baca dalam 60 detik
- Perpanjangan kontrak Lando Norris hingga 2030 menegaskan statusnya sebagai tulang punggung McLaren, meninggalkan tanda tanya besar bagi masa depan Oscar Piastri.
- Performa Piastri musim ini menurun drastis, tertinggal 55 poin dari rekan setimnya, memicu spekulasi tentang posisinya di tim.
- Ketertarikan McLaren pada Max Verstappen menjadi ancaman laten bagi kursi Piastri, meski kontraknya masih mengikat hingga 2027.

Keputusan Lando Norris memperpanjang kontraknya di McLaren hingga 2030 bukan sekadar penguncian masa depan pembalap Inggris itu, melainkan juga sinyal telak bagi Oscar Piastri. Di tengah performa yang menurun, posisi pembalap Australia itu di tim pabrikan Woking kini berada dalam sorotan tajam, terutama setelah terungkap bahwa McLaren sempat mencoba merekrut Max Verstappen pada musim panas ini.
Setelah 12 seri berjalan, Piastri tercecer di peringkat ketujuh klasemen pembalap, tertinggal 55 poin dari Norris yang perkasa. Norris, yang telah memenangi dua grand prix beruntun, tampil sebagai kandidat kuat gelar, sementara Piastri hanya sekali terlihat kompetitif, yakni di Hungaria. Situasi ini kontras dengan musim lalu ketika Piastri sempat dianggap sebagai penantang gelar sebelum performanya meredup di sepertiga akhir musim.
Perbedaan performa keduanya tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga dari cara mereka menaklukkan mobil. Dalam sesi kualifikasi, Norris unggul telak 12-4, meski selisih waktu rata-rata hanya 0,071 detik. Namun, di hari balapan, Norris tampil jauh lebih meyakinkan. Andrea Stella, prinsipal tim McLaren, menilai bahwa Piastri kesulitan beradaptasi dengan mobil yang memiliki downforce lebih rendah tahun ini, terutama dalam kondisi grip rendah. Stella menegaskan bahwa masalah Piastri murni teknis, bukan psikologis, tetapi ia mengakui bahwa tuntutan adaptasi itu memakan waktu reaksi yang berharga.
Konteks ini menjadi krusial bagi penggemar F1 di Indonesia, yang selama ini menjadikan Piastri sebagai salah satu pembalap muda favorit. Persaingan ketat di puncak klasemen, dengan selisih tipis antara Mercedes, McLaren, dan Ferrari, membuat setiap kesalahan kecil berakibat fatal. Bagi Piastri, tekanan untuk segera bangkit sangat besar, terutama jika McLaren kembali memburu Verstappen pada musim depan. Kontrak Verstappen di Red Bull mengandung klausul performa yang bisa membuka peluang hengkang, dan McLaren dikabarkan siap menebusnya.
Di sisi lain, Mercedes justru mengambil keputusan berani dengan menjatuhkan penalti grid kepada Kimi Antonelli di Grand Prix Italia, kandangnya sendiri. Keputusan ini diambil berdasarkan perhitungan teknis, bukan emosi. Toto Wolff, bos Mercedes, dengan tegas menyatakan bahwa algoritma tidak mengenal kewarganegaraan. Antonelli, yang memimpin klasemen dengan keunggulan 59 poin, menerima keputusan ini dengan lapang dada, menyadari bahwa Monza adalah sirkuit terbaik untuk menyerap penalti mesin baru.
Sementara itu, Ferrari menegaskan kebijakan kesetaraan antara Charles Leclerc dan Lewis Hamilton. Meski sempat ada insiden di Zandvoort, tim asal Italia itu mengklaim hanya akan memprioritaskan satu pembalap jika itu jelas menguntungkan tim. Hamilton, yang tertinggal 59 poin dari Antonelli, dan Leclerc yang hanya berjarak 28 poin, bersaing ketat. Pertanyaan tentang apakah Ferrari akan memihak Leclerc secara emosional ditepis oleh Frederic Vasseur, yang menegaskan hubungan baiknya dengan kedua pembalap.
Di tengah hiruk-pikuk ini, masa depan Grand Prix Belanda juga menjadi tanda tanya. Sirkuit Zandvoort, yang populer berkat Verstappen, memutuskan untuk tidak lagi menjadi tuan rumah setelah biaya penyelenggaraan meningkat dan minat penonton menurun. Keputusan ini diambil sebelum acara tersebut merugi, sebuah langkah pragmatis yang jarang terjadi di dunia F1. Dengan Portugal dan Turki yang siap kembali ke kalender, F1 tampaknya tidak akan kekurangan tuan rumah.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Piastri membalikkan keadaan dan membuktikan bahwa ia layak bertahan di tim sebesar McLaren? Atau akankah tekanan ini justru menjadi awal dari perpisahan yang dramatis? Musim ini masih panjang, dan setiap balapan akan menjadi ujian bagi pembalap muda Australia itu.



