Djokovic Tersingkir di Babak Awal US Open: Era Keemasan Tenis Pria Berakhir?
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menelan kekalahan mengejutkan dari petenis Argentina, Navone, di babak pertama US Open, mengakhiri rentetannya yang sempurna di turnamen tersebut.
- Kekalahan ini memastikan Djokovic keluar dari jajaran 10 besar dunia untuk pertama kalinya sejak 2018, menandai perubahan besar dalam peta kekuatan tenis pria.
- Dengan mundurnya Nadal dan Federer, serta performa Djokovic yang menurun, era 'Big Three' dipastikan berakhir, membuka babak baru dominasi generasi muda seperti Sinner dan Alcaraz.

Air mata Novak Djokovic di lapangan tengah Arthur Ashe Stadium pada Minggu malam (25/8) bukan sekadar ekspresi kekalahan. Lebih dari itu, kekalahan di babak pertama US Open dari petenis Argentina, Mariano Navone, dengan skor 7-6 (7-5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1, menjadi sinyal paling jelas bahwa era keemasan tenis pria yang didominasi 'Big Three' telah benar-benar berlalu.
Bagi Djokovic, yang genap berusia 39 tahun, kekalahan ini adalah yang pertama di babak pembuka Grand Slam sejak 2006. Lebih menohok lagi, ia harus kehilangan rekor 78 kemenangan beruntun di babak pertama turnamen mayor, serta catatan sempurna 37-0 di dua putaran awal US Open. Dengan hasil ini, peringkatnya dipastikan terlempar dari 10 besar dunia untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, sebuah penurunan yang sebelumnya dianggap mustahil bagi pemain yang telah mengoleksi 24 gelar mayor.
Perjalanan Djokovic di musim ini memang penuh liku. Setelah menjalani operasi lutut dan merebut medali emas Olimpiade Paris 2024, ia mengaku belum pernah merasa sebaik ini dalam dua tahun terakhir. Namun, kondisi kesehatannya yang sensitif terhadap cuaca panas dan lembap kembali menjadi momok. Di Cincinnati Masters, ia bahkan harus memanggil fisioterapis di tengah pertandingan. Di New York, meski atap stadion sempat ditutup, Djokovic tetap kesulitan, bahkan sempat muntah dan kram di lapangan. "Seluruh tubuhku seperti mulai runtuh," ujarnya seusai pertandingan, menggambarkan betapa beratnya fisik yang harus ia hadapi.
Kekalahan ini tidak hanya berdampak pada peringkat, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan karier Djokovic. Sejak memenangkan gelar Grand Slam terakhirnya di US Open 2023, ia telah memangkas jadwal turnamennya secara drastis. Pada 2026, ia hanya tampil di tujuh turnamen, dengan total 21 pertandingan, jumlah terendah sejak 2004. Strategi ini jelas ditujukan untuk memaksimalkan peluang di turnamen besar, tetapi kritik pun bermunculan. Pat Cash, mantan juara Wimbledon, menilai bahwa tanpa jam terbang yang cukup, mustahil untuk tampil prima di Grand Slam. "Anda tidak bisa menggantikan pertandingan. Anda tidak bisa datang ke Grand Slam dalam kondisi panas dan lembap lalu berharap bisa melewati lima set," ujarnya.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kekalahan ini terasa seperti akhir dari sebuah era. Djokovic, bersama Rafael Nadal dan Roger Federer, telah mendominasi tenis pria selama hampir dua dekade. Kini, dengan pensiunnya Nadal dan Federer, serta performa Djokovic yang menurun, panggung tenis pria sepenuhnya menjadi milik generasi baru seperti Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Djokovic masih mampu bersaing di level tertinggi, atau akankah ia memilih untuk gantung raket setelah Olimpiade Los Angeles 2028?
Djokovic sendiri menegaskan keinginannya untuk terus bermain hingga Olimpiade berikutnya. Namun, setelah kekalahan pahit ini, keraguan mulai menghantuinya. Dalam film dokumenter terbarunya, ia pernah berkata, "Mengapa saya harus berbicara tentang pensiun ketika saya masih bisa membuktikan bahwa saya bisa menang?" Namun, pada Minggu malam, bukti itu semakin sulit ditemukan. Apakah ini awal dari perpisahan yang panjang, atau justru titik balik bagi sang juara untuk bangkit kembali? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: tenis pria telah memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.



