Perpisahan Penuh Haru: Stan Wawrinka Tutup Karier Grand Slam di US Open
Baca dalam 60 detik
- Stan Wawrinka mengakhiri petualangan Grand Slam-nya di US Open 2024, kalah straight set dari Matteo Berrettini di hadapan ribuan penggemar yang memadati Grandstand.
- Keputusan panitia memberikan wildcard di menit-menit terakhir setelah mundurnya Patrick Kypson terbukti tepat, mengingat besarnya animo penonton yang ingin menyaksikan momen bersejarah ini.
- Perpisahan emosional ini menegaskan warisan Wawrinka sebagai salah satu petenis dengan pukulan satu tangan terbaik, sekaligus membuka tanda tanya besar tentang regenerasi petenis Swiss pasca pensiunnya.

Stan Wawrinka, petenis asal Swiss yang telah memenangkan tiga gelar Grand Slam, secara resmi mengucapkan selamat tinggal pada ajang Grand Slam di US Open. Kekalahan straight set dari petenis Italia, Matteo Berrettini, pada Rabu (28/8) waktu setempat menjadi penutup karier gemilangnya di pentas tenis dunia.
Pria berusia 41 tahun itu tampak emosional dan nyaris menangis saat menerima sambutan hangat dari para penonton yang memadati Grandstand Court, Flushing Meadows. Padahal, awalnya Wawrinka tidak masuk dalam daftar penerima wildcard. Namun, mundurnya Patrick Kypson, petenis asal Amerika Serikat, membuka jalan baginya untuk tampil di turnamen yang pernah ia juarai pada 2016 itu.
Keputusan panitia yang sempat dipertanyakan itu ternyata tepat. Ribuan penggemar rela antre sejak pagi untuk menyaksikan aksi terakhir Wawrinka di ajang Grand Slam. Mereka bahkan mengenakan kaus bertuliskan 'Stan the Man' sebagai bentuk dukungan. Wawrinka, yang dikenal dengan pukulan satu tangan (one-handed backhand) yang mematikan, membalas dengan gesture hati dan melempar bola ke arah penonton sebagai kenang-kenangan.
Dalam pidato perpisahannya, Wawrinka mengungkapkan rasa syukurnya atas wildcard yang diberikan. "Salah satu alasan saya bermain hingga usia 41 adalah untuk merasakan momen seperti ini. Saya sangat berterima kasih atas wildcard ini. Sangat penting bagi saya untuk mengakhiri karier di tempat saya memenangkan Grand Slam 10 tahun lalu," ujarnya dengan suara bergetar.
Perjalanan Wawrinka di US Open tahun ini penuh drama. Ia baru mendapat kabar tentang wildcard pada Rabu pagi, saat sedang berada di pegunungan Swiss setelah terbang pulang dari New York dua hari sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengatur ulang penerbangan untuk kembali ke Amerika demi tampil di salah satu tempat yang paling ia cintai.
Meski kalah, Wawrinka mengaku bangga dengan perjuangannya. "Ini menunjukkan bahwa saya melakukan hal yang benar selama 20 tahun dengan selalu berjuang, selalu tampil, selalu mencoba memberikan yang terbaik, dan selalu mendorong diri saya hingga batas," tambahnya. Berrettini, yang menjadi lawan sekaligus saksi perpisahan ini, juga memberikan tepuk tangan dan pelukan hangat di net.
Kepergian Wawrinka meninggalkan jejak yang mendalam di dunia tenis, terutama bagi penggemar di Indonesia yang kerap mengidolakan petenis dengan karakter petarung. Meski tenis tidak sepopuler bulu tangkis di tanah air, momen seperti ini mengingatkan bahwa kerja keras dan dedikasi tanpa pamrih adalah kunci kesuksesan, sebuah nilai yang universal.
Pensiunnya Wawrinka juga menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang akan meneruskan tradisi tenis Swiss setelah era Roger Federer, Stan Wawrinka, dan kini Novak Djokovic yang juga mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan? Mampukah generasi baru seperti Dominic Stricker atau Leandro Riedi mengisi kekosongan yang ditinggalkan para legenda?



