Alcaraz Kembali ke Panggung Grand Slam: Kemenangan Perdana Setelah 139 Hari Absen
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat dua dunia itu menaklukkan Roman Safiullin 6-4, 6-4, 6-4 di babak pertama AS Terbuka, sekaligus mengakhiri masa pemulihan cedera pergelangan tangan yang panjang.
- Kemenangan ini menjadi sinyal kebangkitan Alcaraz di tengah persaingan ketat, terlebih setelah absennya Jannik Sinner dan tersingkirnya Novak Djokovic membuka peluang di undian.
- Fokus utama Alcaraz bukan sekadar hasil, melainkan menikmati setiap momen di lapangan, sebuah pendekatan yang bisa menjadi kunci suksesnya dalam mempertahankan gelar.

Carlos Alcaraz akhirnya merasakan kembali kemenangan di nomor tunggal setelah menunggu 139 hari. Pada laga pembuka AS Terbuka, Senin (26/8) waktu setempat, petenis asal Spanyol itu mengalahkan Roman Safiullin asal Rusia dengan skor telak 6-4, 6-4, 6-4 di Arthur Ashe Stadium, New York.
Kemenangan ini menjadi penanda kembalinya Alcaraz setelah menjalani pemulihan cedera pergelangan tangan yang memaksanya absen sejak April. Selama masa pemulihan, ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat rival-rivalnya, Alexander Zverev dan Jannik Sinner, bergiliran mengangkat trofi Grand Slam. Namun, kini sang juara bertahan AS Terbuka itu kembali dan mengaku sangat bersyukur bisa berkompetisi lagi.
"Saya merindukan penonton, energi, dan persaingan. Saya merindukan semuanya," ujar Alcaraz dalam wawancara di lapangan, dikutip dari BBC. "Saya sangat, sangat bahagia bisa bertanding lagi."
Meski bermain dengan lengan kanan yang dibalut kompresi, Alcaraz tetap menunjukkan pukulan forehand khasnya yang mematikan. Dari 28 winner yang ia catatkan, mayoritas berasal dari pukulan tersebut. Ia juga tampak menikmati pertandingan, sesekali tersenyum, bahkan menyanyikan lagu Michael Jackson saat jeda pergantian lapangan. Mantan juara Wimbledon, Pat Cash, yang menjadi komentator BBC Radio 5 Sports Extra, menilai Alcaraz merayakan setiap kemenangan kecil dengan penuh semangat.
Alcaraz mengakui bahwa servisnya belum dalam performa terbaik. "Servis adalah pukulan yang paling saya perjuangkan," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa servis yang lebih lambat merupakan taktik yang disengaja untuk mengecoh lawan. Meski begitu, ia optimistis akan meningkat seiring bertambahnya jumlah pertandingan.
"Ada beberapa keraguan dalam pertandingan ini, saya tidak akan berbohong. Saya berpikir, apakah saya akan bertahan dalam lima set? Saya butuh lebih banyak pertandingan untuk kembali ke ritme turnamen," ungkap Alcaraz. "Saya yakin saya akan menjadi lebih baik setiap harinya."
Kemenangan ini juga membuka peluang besar bagi Alcaraz untuk melaju jauh. Peta persaingan di undiannya kini terlihat lebih longgar. Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia, absen karena cedera lutut, sementara Novak Djokovic tersingkir di babak pertama oleh Mariano Navone. Satu-satunya pemain top-10 yang bisa dihadapi Alcaraz sebelum semifinal adalah Ben Shelton, yang berpotensi menjadi lawannya di perempat final.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kembalinya Alcaraz tentu menjadi kabar gembira. Pertandingan-pertandingannya yang penuh energi dan skill tinggi selalu dinantikan. Selain itu, dengan absennya beberapa pemain top, persaingan di AS Terbuka tahun ini menjadi lebih terbuka, dan Alcaraz berpeluang besar untuk mempertahankan gelarnya. Akankah ia mampu meniru pencapaian Roger Federer yang berjaya lima kali beruntun di Flushing Meadows? Kita tunggu saja aksinya di babak-babak selanjutnya.



