Liza Wang Buka Suara: Keguguran di Masa Lalu dan Keputusan Tak Punya Anak
Baca dalam 60 detik
- Divana Hong Kong Liza Wang mengaku pernah mengalami keguguran dan memilih berhenti mencoba memiliki anak.
- Ia menilai dirinya kurang sabar dan energik untuk membesarkan anak, serta khawatir tidak bisa memberikan yang terbaik.
- Pengakuan ini memicu diskusi tentang tekanan sosial terhadap perempuan dan pilihan hidup tanpa anak, relevan bagi publik Indonesia.

Divana Hong Kong, Liza Wang, yang kini berusia 79 tahun, secara terbuka menceritakan pengalaman pribadinya yang jarang diungkap: ia pernah mengalami keguguran dan setelah itu memutuskan untuk tidak lagi berusaha memiliki keturunan. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara radio baru-baru ini, mengejutkan banyak penggemar yang selama ini mengenalnya sebagai sosok kuat dan tenang di atas panggung.
Dalam perbincangan yang emosional itu, Wang ditanya apakah ia menyesali keputusan tidak menjadi ibu. Dengan tegas ia menjawab tidak. Ia lantas mengungkapkan bahwa dirinya pernah kehilangan calon buah hati, dan pengalaman tersebut membuatnya memilih untuk tidak mencoba lagi. Pengakuan ini menjadi sorotan karena selama ini kehidupan pribadi Wang jarang tersentuh pemberitaan.
Lebih jauh, Wang mengakui bahwa dirinya bukan tipe orang yang sabar dan tidak gemar mengajar orang lain. Ia merasa energinya terbatas, sehingga akan sulit memberikan waktu, perhatian, dan masa kecil yang layak bagi seorang anak. "Saya tidak suka mengajari orang. Saya merasa saya bahkan belum melakukan yang terbaik untuk diri saya sendiri," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, sebuah momen yang jarang terlihat dari sosok yang biasanya tenang.
Pengakuan Wang ini menuai beragam reaksi dari warganet, terutama di media sosial. Banyak yang memuji keberaniannya berbicara terbuka tentang pengalaman yang sangat pribadi. Komentar seperti "Saya tidak menyangka dia begitu blak-blakan soal kegugurannya" dan "Lebih baik tahu diri tidak sabar daripada melahirkan anak tapi tidak tahu cara membesarkannya" membanjiri kolom komentar. Hal ini menunjukkan bahwa isu pilihan hidup tanpa anak masih menjadi topik yang sensitif namun relevan, tidak hanya di Hong Kong tetapi juga di banyak negara Asia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, tekanan sosial untuk menikah dan memiliki anak kerap menjadi beban tersendiri, terutama bagi perempuan. Kisah Liza Wang menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki perjalanan dan pertimbangan hidup yang unik. Keputusan untuk tidak memiliki anak, apa pun alasannya, adalah hak pribadi yang perlu dihormati. Diskusi yang muncul dari pengakuan Wang dapat membuka ruang dialog yang lebih sehat tentang peran perempuan di masyarakat, di luar ekspektasi tradisional.
Selain soal anak, Wang juga mengungkapkan rencananya untuk pensiun dalam waktu dekat. Ia merasa ingatannya tidak lagi setajam dulu, dan ia tidak ingin memberikan penampilan yang kurang maksimal bagi penontonnya. Keputusan ini menunjukkan kesadaran diri dan integritas seorang seniman yang telah berkarier puluhan tahun. Bagi penggemar setianya, kabar ini tentu menjadi perpisahan yang mengharukan, namun juga menunjukkan kebijaksanaan dalam menutup babak karier.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana industri hiburan Hong Kong akan melepas salah satu ikonnya, dan apakah pengakuan jujur Wang akan menginspirasi publik untuk lebih terbuka terhadap realitas kehidupan di balik gemerlap dunia entertainment. Yang jelas, Liza Wang telah memberikan pelajaran tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima pilihan hidup dengan lapang dada.



