James Sutton: Aplikasi Kencan Justru Menjauhkan Manusia dari Cinta
Baca dalam 60 detik
- Aktor Hollyoaks, James Sutton, mengaku kesulitan menemukan pasangan setelah 18 bulan melajang dan menyalahkan aplikasi kencan.
- Ia menilai aplikasi kencan dirancang untuk membuat pengguna betah, bukan untuk mempertemukan jodoh, sehingga koneksi manusia justru semakin pudar.
- Di tengah kritiknya, Sutton justru produktif berkarya dan meluncurkan kanal OnlyFans, namun tetap meyakini cinta adalah tujuan utama hidup.

James Sutton, aktor yang dikenal lewat perannya di sinetron Hollyoaks, buka suara tentang kegelisahannya sebagai pria lajang di era modern. Setelah 18 bulan menjanda, pria 43 tahun ini mengaku merindukan kehangatan hubungan, namun ia menilai aplikasi kencan justru menjadi penghalang terbesar untuk menemukan cinta sejati.
Dalam wawancara eksklusif di acara pemutaran perdana serial Race of Wits di Shoreditch Arts Club, London, Sutton mengungkapkan bahwa malam hari adalah momen paling berat. "Saat malam tiba, saya berpikir, alangkah nikmatnya jika ada yang bisa dipeluk," ujarnya. Perasaan ini muncul setelah pernikahannya dengan Rachael Collin yang bertahan lima tahun berakhir pada 2023.
Sutton, yang juga pernah membintangi Emmerdale, mengaku memiliki masalah serius dengan aplikasi kencan. Namun, ia juga mengakui bahwa pendekatan tradisional seperti bertemu di bar atau klub kini terasa mustahil. "Saya tidak akan pernah lagi mendekati seseorang di bar. Saya takut terkesan predator atau mengganggu. Ini kekhawatiran yang sah bagi banyak pria saat ini," jelasnya.
Menurut Sutton, masyarakat modern telah kehilangan kemampuan untuk terhubung secara autentik. "Kita telah menukar koneksi, komunitas, dan percakapan dengan layar ponsel. Tempat-tempat yang dulu menjadi ruang pertemuan kini nyaris tak ada. Suasana di pub pun sangat berbeda sekarang," tuturnya. Ia menambahkan bahwa aplikasi kencan, secara desain, tidak pernah bertujuan membantu pengguna menemukan cinta. "Mereka ingin kita terus membayar dan tetap di aplikasi. Ini model bisnis yang buruk untuk urusan hati," sindirnya.
Kritik Sutton terhadap aplikasi kencan sejalan dengan fenomena global yang juga dirasakan di Indonesia. Riset dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat peningkatan penggunaan aplikasi kencan di Tanah Air, terutama di kota-kota besar. Namun, banyak pengguna justru mengeluhkan sulitnya membangun hubungan yang bermakna. Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Rara Sekar, menilai bahwa aplikasi kencan menciptakan ilusi pilihan tanpa batas, yang justru membuat pengguna semakin sulit berkomitmen. "Fenomena ini tidak hanya dialami selebritas, tapi juga generasi muda Indonesia yang terjebak dalam budaya swiping," ujarnya.
Di tengah kegelisahan asmaranya, Sutton justru menemukan pelarian dalam pekerjaan. "Selama 18 bulan ini, hasil karya saya luar biasa. Saya sangat produktif dan ambisius. Sampai-sampai saya merasa berlebihan," katanya. Namun, ia tetap mempertanyakan makna kesuksesan tanpa cinta. "Saya pernah menulis surat terbuka tentang ini. Untuk apa kita mengoptimalkan segalanya jika bukan untuk cinta? Cinta harus menjadi tujuan akhir: mencintai dan dicintai," tegasnya.
Langkah Sutton merambah ke OnlyFans dan OFTV menunjukkan bagaimana para pesohor beradaptasi dengan ekonomi kreatif digital. Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada pertanyaan besar: apakah teknologi benar-benar membantu kita menemukan koneksi yang lebih dalam, atau justru semakin menjauhkan? Sutton sendiri sepertinya masih mencari jawaban, sambil berharap suatu malam ia tak lagi merasa kesepian.



