Wafat di Usia 115 Tahun, Perempuan Tertua Jepang Meninggalkan Warisan Panjang Umur dan Dedikasi Medis
Baca dalam 60 detik
- Shigeko Kagawa, dokter perempuan tertua di Jepang, meninggal dunia pada usia 115 tahun, meninggalkan jejak pengabdian medis selama puluhan tahun.
- Dengan wafatnya Kagawa, gelar orang tertua di Jepang kini dipegang oleh Fuyo Kishimoto, wanita 114 tahun asal Kyoto.
- Kagawa dikenal sebagai pembawa obor tertua di Olimpiade Tokyo 2021 dan aktif praktik kedokteran hingga usia 80-an, menginspirasi banyak orang.

Shigeko Kagawa, perempuan tertua di Jepang yang juga seorang dokter, meninggal dunia pada usia 115 tahun di Prefektur Nara, Jepang barat. Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang mengonfirmasi kabar duka ini pada Senin (31/8/2026). Kagawa mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis pekan lalu, meninggalkan warisan panjang umur dan dedikasi luar biasa di bidang kesehatan.
Dengan kepergian Kagawa, gelar orang tertua di Jepang kini beralih ke Fuyo Kishimoto, seorang wanita berusia 114 tahun yang tinggal di Kyoto, prefektur tetangga. Peralihan ini menandai babak baru dalam catatan usia harapan hidup di Jepang, negara yang dikenal memiliki populasi berumur panjang tertinggi di dunia.
Lahir pada 1911, Kagawa menempuh pendidikan kedokteran dan lulus pada 1934. Ia sempat bekerja selama sekitar tiga tahun di departemen obstetri dan ginekologi serta penyakit dalam di sebuah rumah sakit di Osaka, sebelum akhirnya membuka klinik sendiri di Prefektur Nara pada 1937. Selama puluhan tahun, ia melayani masyarakat sebagai dokter kandungan dan internis, bahkan tetap praktik hingga usianya menginjak 80-an. Pengabdiannya yang tak kenal lelah menjadikannya sosok penting dalam layanan kesehatan komunitas di wilayah tersebut.
Kagawa juga tercatat pernah bertugas di Expo Osaka 1970, menangani keadaan darurat medis. Namun, momen yang paling membekas adalah ketika ia menjadi pembawa obor tertua dalam estafet obor Olimpiade Tokyo 2021. Di usia 110 tahun saat itu, ia membuktikan bahwa semangat dan vitalitas tidak mengenal usia.
Ketika ditetapkan sebagai orang tertua di Jepang pada Juli 2025, Kagawa sempat berbagi rahasia umur panjangnya. Ia mengaku sering melakukan kunjungan rumah dengan berjalan kaki, bahkan di tengah malam atau saat hari libur. "Umur panjang saya berakar dari kebiasaan berjalan kaki yang saya lakukan selama bertahun-tahun," ujarnya, seperti dikutip Kyodo News.
Kisah Kagawa menyoroti fenomena populasi menua di Jepang, di mana jumlah lansia terus meningkat dan harapan hidup mencapai rekor tertinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan Jepang, lebih dari 90.000 orang berusia 100 tahun atau lebih tercatat pada tahun 2025, dan angka ini diprediksi terus bertambah. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan dan jaminan sosial Jepang, yang harus beradaptasi dengan kebutuhan populasi yang semakin tua.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat populasi lansia juga diproyeksikan meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas akan mencapai 19,9% pada 2045. Pelajaran dari Jepang, seperti pentingnya gaya hidup aktif dan akses layanan kesehatan primer, dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam merancang kebijakan penuaan yang sehat.
Di tengah kabar duka ini, publik Jepang dan dunia mengenang Kagawa sebagai simbol dedikasi dan ketahanan. Kehidupannya yang panjang bukan hanya soal angka, melainkan tentang kontribusi nyata bagi sesama. Pertanyaannya, mampukah generasi berikutnya meniru jejaknya dalam menjaga kesehatan dan melayani komunitas?



