Putin-Xi Bertemu di Bishkek: Poros Timur Menegaskan Diri di Tengah Perang dan Sanksi
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Rusia dan China bertemu di sela KTT SCO di Kirgistan, menegaskan solidaritas di tengah tekanan Barat.
- Pertemuan ini menjadi panggung bagi Moskow dan Beijing untuk memperkuat poros multipolar, sementara Iran dan Turki turut hadir.
- KTT SCO berlangsung di tengah konflik Ukraina dan perang dagang, dengan implikasi bagi keseimbangan geopolitik global dan Indonesia.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping memulai pertemuan bilateral di Bishkek, Kirgistan, pada Senin (31/8), di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang berlangsung dua hari. Pertemuan ini menjadi panggung bagi kedua pemimpin untuk menegaskan kembali aliansi strategis mereka di tengah meningkatnya ketegangan global, sekaligus merayakan seperempat abad berdirinya blok regional yang kerap diposisikan sebagai penyeimbang kekuatan Barat.
Selain Putin dan Xi, sejumlah kepala negara lain turut hadir, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Kehadiran mereka menandai momen penting bagi SCO yang kini memiliki 10 anggota penuh, 15 mitra dialog, serta dua negara pengamat. Namun, di balik kemegahan pertemuan, tersimpan dinamika rumit yang mencerminkan perpecahan global saat ini.
KTT ini berlangsung di tengah invasi Rusia ke Ukraina yang telah memasuki tahun keempat, serta perang baru antara Amerika Serikat dan Iran yang baru berjalan enam bulan. Putin dan Xi, yang sebelumnya telah menggunakan forum SCO untuk mempromosikan visi dunia multipolar, kembali menegaskan komitmen mereka. Xi menyatakan hubungan Rusia-China "semakin solid" dan "prospeknya akan lebih cerah", sementara Putin menegaskan bahwa "kerja sama berkembang sukses di semua lini". Kremlin, melalui juru bicaranya Dmitry Peskov, menyebut pembahasan perang Ukraina hanya dilakukan "sepintas lalu", menandakan fokus utama pertemuan adalah memperkuat poros ekonomi dan politik.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia terus memantau pergeseran kekuatan global. Ketergantungan ekonomi Rusia pada China yang semakin dalam, serta upaya Iran mencari celah di tengah sanksi, menciptakan lanskap baru yang dapat memengaruhi harga energi dan arus perdagangan internasional. Indonesia, yang juga menjalin hubungan dagang dengan ketiga negara tersebut, perlu mencermati bagaimana poros ini akan berdampak pada stabilitas kawasan dan peluang pasar.
Putin dijadwalkan mengadakan pembicaraan terpisah dengan Pezeshkian, yang datang ke Bishkek hanya beberapa hari setelah Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan langka ke Moskow. Meski isi pembicaraan tidak diungkap, spekulasi media AS mengarah pada pembahasan Ukraina dan Iran. Dalam pernyataannya di Bishkek, Pezeshkian menegaskan bahwa melanjutkan perang bukanlah kepentingan Tehran. "Kami terus berupaya mencapai kesepakatan dan pemahaman, dan kami yakin melanjutkan perang tidak menguntungkan kami maupun kawasan," ujarnya kepada Modi.
Di tengah pertemuan, AS terus meningkatkan tekanan dengan menjatuhkan sanksi sekunder pada mitra dagang Iran di berbagai sektor. China, yang menjadi pembeli utama minyak Iran, merespons dengan pernyataan akan "mempertahankan kepentingannya" secara tegas. Iran, yang hidup di bawah sanksi sejak revolusi 1979, berulang kali menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan ekonomi, meskipun Pezeshkian mengakui negaranya menghadapi "kesulitan ekonomi".
Menurut Mohammad Hassan Najmi, pakar hubungan internasional, Tehran "percaya bahwa keanggotaan dan partisipasi aktif dalam aliansi ini dapat membantunya menghindari sanksi AS dan Eropa". Namun, ia meragukan manfaat konkret dari kelompok ini, karena "dalam masa krisis, aliansi ini jarang membantu Iran menyelesaikan masalahnya". Keraguan ini mencerminkan realitas bahwa SCO, meskipun besar, tetap beragam dan memiliki perbedaan kepentingan di antara anggotanya.
Ke depan, KTT Bishkek menjadi ujian bagi soliditas poros Timur. Mampukah SCO menjadi penyeimbang efektif bagi Barat, atau hanya menjadi forum seremonial tanpa dampak nyata? Bagi Indonesia, perkembangan ini penting untuk dicermati, terutama dalam merancang strategi diplomasi dan ekonomi di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.



