Karhutla Hanguskan Kekayaan Genetika Indonesia yang Tak Bisa Dipulihkan
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan dan lahan tahun ini tidak hanya menghanguskan area, tetapi juga memusnahkan variasi genetik spesies yang belum terdokumentasi.
- Penelitian pasca-kebakaran 1997-1998 di Kalimantan Timur menunjukkan penurunan keberagaman genetik pada populasi kupu-kupu, mengindikasikan risiko serupa pada spesies lain.
- Para ilmuwan mendesak percepatan pengambilan sampel DNA dan penguatan bank genetik nasional sebelum habitat yang tersisa ikut terbakar.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan, Sumatra, hingga Papua sepanjang tahun ini tidak hanya menghanguskan vegetasi dan mengusir satwa, tetapi juga memusnahkan arsip informasi genetika yang mungkin tak akan pernah bisa dipulihkan. Di balik asap dan karbon yang terlepas, ada kehilangan yang lebih senyap: variasi DNA dari flora dan fauna yang belum sempat terdokumentasi.
Setiap individu dalam suatu populasi membawa kombinasi genetik unik yang merupakan hasil adaptasi jutaan tahun. Ketika api melumat habitat, populasi lokal bisa punah sebelum para peneliti sempat mempelajarinya. Padahal, variasi genetik inilah yang menentukan ketangguhan spesies menghadapi perubahan lingkungan, seperti kemampuan orangutan berpindah di kanopi atau ukuran tubuh harimau sumatra yang lebih kecil dibanding kerabatnya di Benggala.
Data dari penelitian pasca-kebakaran besar 1997โ1998 di Kalimantan Timur menunjukkan penurunan keberagaman genetik pada populasi kupu-kupu Drupadia theda. Ini menjadi sinyal bahwa peristiwa serupa tahun ini berpotensi menggerus kekayaan genetik di berbagai wilayah terdampak, terutama di bentang hutan dan lahan gambut Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sebagian Kalimantan Timur.
Spesies kunci seperti orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), dan trenggiling Sunda (Manis javanica) memiliki populasi yang terfragmentasi secara alami. Setiap kelompok menyimpan adaptasi genetik spesifik terhadap lingkungannya. Kebakaran yang memutus konektivitas antar-populasi tidak hanya mengurangi jumlah individu, tetapi juga menghambat aliran gen yang diperlukan untuk menjaga vitalitas spesies dalam jangka panjang.
Burung rangkong, termasuk enggang gading (Rhinoplax vigil), juga terancam. Spesies ini bergantung pada hutan primer yang utuh untuk mencari makan dan berkembang biak. Habitat yang terpencar akibat kebakaran dapat mengisolasi kelompok-kelompok kecil, sehingga pertukaran genetik di alam menjadi semakin jarang. Pada tumbuhan, pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) yang endemik dan tumbuh lambat juga kehilangan variasi genetik yang terbentuk melalui proses evolusi panjang ketika populasinya menyusut.
Kalimantan menjadi contoh nyata betapa mendesaknya dokumentasi kekayaan hayati. Sebagian kawasan taman nasional yang disebutkan kini telah terbakar. Di area yang masih tersisa, peluang untuk mengenali dan menyimpan informasi genetik masih terbuka, tetapi waktu semakin sempit.
Indonesia sebenarnya memiliki fondasi untuk itu. BRIN telah menerbitkan Peraturan Nomor 8 Tahun 2024 tentang Tata Kelola Koleksi Ilmiah dan Peraturan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Data Riset dan Inovasi. Proyek DNA barcoding seperti IndoBioSys juga telah berjalan, menghasilkan ribuan barcode dan spesimen voucher. Namun, cakupan pengambilan sampel masih jauh dari memadai, terutama di kawasan yang belum terdokumentasi dengan baik.
Para peneliti menekankan bahwa penyimpanan sampel biologis tidak boleh menggantikan upaya perlindungan habitat. Hutan yang hidup tetap diperlukan agar populasi dapat bertahan dan berevolusi. Mencegah kebakaran harus menjadi prioritas utama. Namun, di tengah ketidakpastian, percepatan pengumpulan data genetik menjadi langkah penyelamatan yang tidak bisa ditunda.
Api akan padam dan hutan mungkin kembali hijau, tetapi jika sebuah populasi hilang sebelum DNA-nya sempat dicatat, sebagian cerita evolusi Indonesia akan ikut lenyap selamanya. Pertanyaannya, apakah kita akan bergerak sebelum semuanya terlambat?



