Dari Ladang Padi ke Bisnis Madu Hutan: Kisah Pengusaha Malaysia yang Memberdayakan Suku Asli
Baca dalam 60 detik
- Tengku Ariputra, mantan pegiat NGO, kini menjalankan merek madu liar Honey I'm Home yang bermitra dengan Suku Batek di Pahang, Malaysia.
- Model bisnisnya mengutamakan harga yang ditetapkan sendiri oleh komunitas Orang Asli, mengubah praktik eksploitatif yang selama ini merugikan mereka.
- Dengan target ekspor global, Ari berambisi menjadikan madu Tualang sebagai produk unggulan setara Manuka, sekaligus mendorong sertifikasi halal dan uji laboratorium.

Seorang pengusaha Malaysia, Tengku Ariputra, yang akrab disapa Ari, telah mengubah perjalanan hidupnya dari pengelola ladang padi menjadi pendiri merek madu liar premium, Honey I'm Home. Kisah ini bermula dari pertemuan tak sengaja dengan seorang anggota suku Orang Asli di lahannya di Kedah, yang akhirnya membawanya pada misi memberdayakan komunitas adat melalui perdagangan madu hutan yang adil.
Ari, yang sebelumnya berkarier di bidang pengembangan bisnis dan penggalangan dana untuk organisasi seperti WWF dan UNICEF, memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kedah saat pandemi Covid-19 melanda. Ia mengelola pertanian padi bersama ayah dan pamannya, serta mengubah sebagian lahan menjadi pertanian berkelanjutan yang menerima wisatawan sukarelawan. Pada masa itulah, seorang pria dari suku Batek di Jerantut, Pahang, datang membawa empat karton besar madu liar yang gagal dijual karena calon pembeli menawar terlalu rendah, dari RM120 menjadi RM40 per kilogram.
Ari awalnya hanya menawarkan bantuan penyimpanan, namun tiga bulan kemudian, pria tersebut kembali dan memintanya membeli madu itu. Alasan yang disampaikan menyentuh hati: suku Batek telah memanen madu selama lima generasi atau lebih dari 100 tahun, dan madu menjadi sumber pendapatan utama mereka. Namun, reputasi madu mereka tercemar oleh praktik pemalsuan yang dilakukan tengkulak, sehingga sulit bagi mereka untuk menjual dengan harga layak. Setelah mencoba sampelnya dan melihat pamannya yang sedang menjalani kemoterapi pulih nafsu makannya, Ari memutuskan untuk membeli madu tersebut dan memulai bisnisnya.
Dengan modal awal RM5.000 dari bibi dan teman-temannya, Ari mulai menjual madu di pasar pagi dan pasar malam, lalu merambah pasar akhir pekan kelas atas di Kuala Lumpur. Dukungan investasi dari pacarnya, Carmun Chan, dan sepupunya, Mengkit Chan, membawa bisnis ini ke level berikutnya. Kini, Honey I'm Home menjual madu Tualang 100% murni melalui situs web dan toko ritel seperti Le Bon Aout di Bangsar, dengan harga RM50 untuk 185 gram dan RM88 untuk 385 gram.
Proses produksi madu ini tidak mudah. Ari bekerja sama dengan sepuluh pemanen dari suku Batek, yang sebagian besar adalah generasi muda, sementara para tetua memimpin ekspedisi ke hutan Taman Negara yang berusia 130 juta tahun. Perjalanan memakan waktu tiga hingga enam jam, termasuk menyeberangi sungai. Panen dilakukan pada malam hari untuk menghindari sengatan lebah, dan menggunakan tangga bambu atau paku panjang tanpa pengaman. Ari bahkan harus meminta mereka memakai harness demi keselamatan. Setiap pohon Tualang, yang tingginya bisa mencapai 85 meter, dapat menghasilkan 10 hingga 500 kilogram madu.
Yang membedakan bisnis Ari adalah modelnya yang adil. Komunitas Batek diberi kebebasan menentukan harga jual, dan pembayaran dilakukan segera setelah produk diterima. Ini kontras dengan praktik sebelumnya di mana tengkulak menawarkan harga serendah RM22 per kilogram atau bahkan tidak membayar sama sekali. Ari menegaskan bahwa harga premium madu ini mencerminkan risiko dan pengetahuan turun-temurun yang dimiliki para pemanen. Ia juga berencana mengubah usahanya menjadi perusahaan sosial agar bisa mengakses lebih banyak hibah dan membangun infrastruktur bagi komunitas Orang Asli.
Ke depan, Ari ingin mengirim madunya ke laboratorium untuk menguji manfaat kesehatan, mengurus sertifikasi halal, dan memperluas kerja sama dengan komunitas Orang Asli di luar Pahang. Targetnya adalah membawa madu Tualang ke pasar global, bersaing dengan madu Manuka dari Selandia Baru. โSaya ingin menciptakan kolektif madu agar kami bisa mengontrol kualitas dan menembus pasar dunia,โ ujarnya. Pertanyaannya, bisakah model pemberdayaan seperti ini menjadi contoh bagi negara lain, termasuk Indonesia, yang memiliki kekayaan hutan dan komunitas adat serupa?



