Dubes Yaman Temui Megawati, Minta Dukungan Politik dan Pembukaan Konsulat RI di Aden
Baca dalam 60 detik
- Duta Besar Yaman untuk Indonesia, Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, bertemu Megawati Soekarnoputri di Jakarta untuk mempererat hubungan historis kedua negara.
- Dalam pertemuan tersebut, Dubes Yaman menyampaikan harapan agar Indonesia membuka konsulat di Aden serta meminta dukungan politik terkait situasi Timur Tengah.
- Megawati berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut ke Komisi I DPR RI, menandai potensi penguatan peran Indonesia di kawasan.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Yaman untuk Indonesia, Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, Senin. Pertemuan ini menjadi ajang bagi Yaman untuk menegaskan kembali ikatan sejarah yang panjang dengan Indonesia sekaligus menggalang dukungan politik di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang masih membara.
Dalam dialog yang berlangsung hangat tersebut, Dubes Salem tidak hanya menyampaikan rasa kagumnya terhadap Megawati sebagai putri Proklamator, tetapi juga memaparkan secara rinci tentang akar hubungan kedua bangsa. Menurutnya, migrasi orang-orang Yaman ke Nusantara telah berlangsung sejak abad ke-13 dan mencapai puncaknya pada abad ke-18. Mereka datang, menetap, dan turut berjuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang.
Dubes Salem menyebut sejumlah tokoh keturunan Yaman yang berkontribusi besar bagi Indonesia, seperti mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Alwi Shihab, dan mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier. Ia juga mengungkapkan data bahwa lebih dari 10 juta warga negara Indonesia saat ini merupakan keturunan Yaman, dan ada lebih dari 8.000 pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Yaman. Angka-angka ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antarmasyarakat yang telah terjalin selama berabad-abad.
Kedekatan budaya juga menjadi sorotan. Dubes Salem mencontohkan penggunaan kosakata Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Provinsi Hadhramaut, serta kemiripan tradisi kuliner antara masyarakat Yaman dan Indonesia. Hal ini, menurutnya, adalah bukti bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun di atas diplomasi formal, tetapi juga dari akar rumput yang kuat.
Di tengah narasi historis tersebut, Dubes Salem menyampaikan dua permintaan utama. Pertama, ia berharap Indonesia dapat membuka Konsulat Republik Indonesia di Aden untuk memperlancar komunikasi dan memperluas kerja sama bilateral. Kedua, ia meminta Megawati, dengan kapasitasnya sebagai ketua partai besar di parlemen, untuk memberikan perhatian terhadap situasi yang sedang dihadapi rakyat Yaman akibat konflik di Timur Tengah.
"Yaman adalah negeri yang besar dan memiliki jejak historis hubungan baik dengan Indonesia yang sangat panjang. Oleh karenanya kami berharap agar Konsulat Indonesia dapat berdiri di Aden, sehingga memudahkan kerja sama dan komunikasi yang baik antara kedua negara," tutur Dubes Salem.
Menanggapi hal tersebut, Megawati menyatakan kesediaannya untuk meneruskan aspirasi ini kepada anggota parlemen Fraksi PDIP di Komisi I DPR RI. Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa isu Yaman akan masuk dalam agenda politik luar negeri Indonesia, setidaknya melalui jalur legislatif.
Pertemuan ini memiliki implikasi penting bagi Indonesia. Di satu sisi, pembukaan konsulat di Aden akan memperkuat posisi Indonesia di kawasan Timur Tengah yang sedang dilanda ketidakstabilan. Di sisi lain, dukungan politik dari partai berkuasa dapat menjadi modal bagi Yaman dalam menghadapi tekanan internasional. Namun, langkah ini juga memerlukan kajian matang terkait keamanan dan anggaran.
Ke depan, publik akan menanti apakah pemerintah Indonesia akan merespons positif permintaan Yaman tersebut. Apakah pembukaan konsulat di Aden akan menjadi prioritas baru dalam kebijakan luar negeri Indonesia, atau hanya sebatas wacana diplomatik? Jawabannya akan menentukan arah hubungan bilateral kedua negara di tengah dinamika kawasan yang semakin kompleks.



