AS dan Iran Kembali Saling Serang, Trump Ancang-ancang Balasan Lebih Keras
Baca dalam 60 detik
- Setelah jeda lebih dari sebulan, AS menyerang posisi Iran di Selat Hormuz dan Iran membalas dengan rudal ke pangkalan AS di Yordania dan UEA.
- Presiden Trump berjanji akan merespons dengan keras, sementara Presiden Iran Pezeshkian justru menyerukan dialog di tengah meningkatnya ketegangan.
- Konflik berkepanjangan ini berisiko mengganggu pasokan minyak global, yang berimplikasi pada harga energi dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Washington dan Teheran kembali saling serang untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dengan tegas menyatakan akan merespons dengan keras, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyerukan dialog di tengah meningkatnya ketegangan.
Pada Minggu (30/8) malam waktu setempat, militer AS mengumumkan telah melancarkan serangan ke sebuah pulau di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA). Ini merupakan baku tembak pertama sejak akhir Juli, setelah sebelumnya AS gencar melakukan serangan selama 13 malam berturut-turut pada awal bulan tersebut.
Serangan AS kali ini menargetkan dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, yang menurut Washington digunakan untuk menanam ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut. Iran membantah dan menyebut serangan itu sebagai agresi, dengan media lokal melaporkan dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menghantam dua pangkalan udara AS di Yordania dengan rudal balistik, menyebabkan kerusakan parah. Namun, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat delapan rudal yang datang, tanpa menyebutkan asal-usulnya. Sementara itu, Trump mengklaim semua rudal yang ditembakkan ke pasukan AS berhasil dijatuhkan, kecuali satu yang dinilai tidak mengancam.
Iran juga mengaku telah menargetkan personel AS di sebuah pangkalan udara di UEA dan menembak jatuh drone Amerika di atas Selat Hormuz. Pihak berwenang Abu Dhabi membenarkan telah mencegat sebuah drone di perairannya, namun menolak klaim bahwa Pangkalan Udara Al Minhad menjadi sasaran sebagai tuduhan yang tidak berdasar.
Ketegangan ini terjadi setelah berminggu-minggu relatif tenang, dengan pemerintahan Trump sebelumnya mengalihkan fokus pada "perang ekonomi". Dalam unggahan di media sosial, Trump bahkan menyebut Iran sebagai "negara gagal" yang militernya hancur, keuangannya runtuh, dan kepemimpinannya kacau balau. Namun, seruan dialog dari Pezeshkian di KTT di Kirgistan menunjukkan adanya celah untuk diplomasi. "Kami terus berupaya mencapai kesepakatan dan pemahaman, dan kami yakin melanjutkan perang tidak menguntungkan kami maupun kawasan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa solusi atas masalah yang ada adalah dialog dan kerja sama.
Selat Hormuz, yang sebelum perang dilalui seperlima minyak dunia, kini menjadi titik krusial. Iran telah memblokir lalu lintas kapal komersial sejak perang dimulai pada 28 Februari, sementara AS mengklaim memiliki kendali penuh atas jalur tersebut dan telah menyelesaikan pembersihan ranjau. Iran membantah dan bahkan melaporkan sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak ranjau di dekat selat, sebuah klaim yang dibantah keras oleh militer AS sebagai disinformasi.
Diplomasi yang selama ini dijembatani mediator tampaknya menemui jalan buntu. Gencatan senjata sebelumnya dan nota kesepahaman gagal bertahan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menipu Washington untuk berperang melawan Iran demi kepentingan Israel. "Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual bahwa dia mengelabui pemerintahan AS untuk berperang dengan Iran atas nama Israel. Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan presiden AS. Ular," tulis Araghchi di platform X.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita mancanegara. Selat Hormuz adalah jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di selat tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, yang pada gilirannya akan berdampak pada harga bahan bakar domestik, inflasi, dan nilai tukar rupiah. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipasi, seperti diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kedua belah pihak mampu menahan diri dari eskalasi lebih lanjut. Seruan dialog dari Pezeshkian memberikan secercah harapan, namun sikap keras Trump dan tekanan dari sekutu-sekutunya di kawasan bisa menggagalkan upaya damai. Mampukah komunitas internasional, termasuk Indonesia, mendorong kedua negara kembali ke meja perundingan sebelum konflik ini melebar menjadi perang regional yang lebih destruktif?



