Tommy Koh Raih Penghargaan Bergengsi Asia: Diplomasi Singapura Diakui Dunia
Baca dalam 60 detik
- Diplomat senior Singapura, Tommy Koh, dinobatkan sebagai penerima Ramon Magsaysay Award 2024, sebuah pengakuan atas dedikasinya dalam diplomasi internasional.
- Penghargaan ini menyoroti peran Koh dalam negosiasi UNCLOS dan kontribusinya yang luas di bidang akademik, kebijakan publik, serta seni, yang membentuk banyak pemimpin masa depan.
- Pengakuan ini menegaskan pengaruh diplomasi Asia di panggung global, sekaligus menjadi inspirasi bagi kawasan, termasuk Indonesia, dalam membangun kerja sama internasional yang konstruktif.

Veteran diplomasi Singapura, Tommy Koh, pada usia 88 tahun, resmi dinobatkan sebagai salah satu penerima Ramon Magsaysay Award 2024, sebuah penghargaan yang kerap disebut sebagai Nobel-nya Asia. Pengumuman yang dirilis Yayasan Ramon Magsaysay pada Senin (31/8) ini menempatkan Koh di jajaran tokoh yang dianggap berjasa besar dalam memajukan perdamaian dan dialog antarbangsa.
Koh, yang telah mengabdikan 55 tahun hidupnya di Kementerian Luar Negeri Singapura, dikenal luas karena peran sentralnya dalam negosiasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Kerja kerasnya dalam menyusun kerangka pemanfaatan laut secara adil dan damai menjadi salah satu pencapaian monumental yang disorot yayasan. Namun, kontribusinya tidak berhenti di situ; pengaruhnya merambah ke dunia akademik, kebijakan publik, hingga pengembangan seni dan institusi sipil di Singapura.
Yayasan tersebut menilai Koh sebagai sosok yang mampu menjembatani kesenjangan kekuatan antarnegara melalui keyakinannya pada dialog dan supremasi hukum. "Melalui keyakinannya yang teguh pada dialog, aturan hukum, dan kerja sama internasional, ia telah membantu mewujudkan koeksistensi damai di dunia yang timpang," demikian pernyataan resmi RMAF. Pengakuan ini menegaskan bahwa diplomasi yang dijalankan Koh bukan sekadar seremonial, melainkan fondasi bagi terciptanya tatanan global yang lebih stabil.
Koh tercatat sebagai warga Singapura keempat yang menerima penghargaan ini sejak pertama kali diberikan pada 1957. Sebelumnya, nama-nama seperti Lim Kim San (1965), Goh Keng Swee (1972), dan Tony Tay (2017) telah lebih dulu mengukir prestasi serupa. Kedutaan Besar Singapura di Manila menyambut kabar ini dengan bangga, menyebutnya sebagai "pengakuan yang signifikan" atas kiprah Koh yang telah menginspirasi banyak kalangan, termasuk generasi penerus di kawasan Asia Tenggara.
Di tengah pengakuan internasional ini, penting untuk melihat bagaimana penghargaan serupa dapat menjadi cermin bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Konsistensi Koh dalam menjunjung tinggi hukum internasional dan dialog menjadi pelajaran berharga, terutama dalam penyelesaian sengketa maritim yang kerap terjadi di kawasan. Bagi Indonesia, sosok Koh bisa menjadi referensi bagaimana diplomasi yang sabar dan berbasis aturan dapat menghasilkan dampak jangka panjang yang positif, baik di tingkat bilateral maupun multilateral.
Selain Koh, dua tokoh lain juga menerima penghargaan yang sama tahun ini: aktivis Myanmar Bo Kyi (61) dan guru asal Bangladesh Runa Khan (67). Bo Kyi diakui atas perjuangannya membela tahanan politik dan hak asasi manusia di Myanmar, meski harus menghabiskan tujuh tahun di penjara. Sementara itu, Runa Khan mendirikan organisasi Friendship Bangladesh yang telah membantu masyarakat termiskin melalui layanan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Organisasinya kini mempekerjakan lebih dari 7.500 orang dan mengoperasikan tujuh kapal rumah sakit serta 550 klinik keliling.
Para penerima penghargaan akan secara resmi dianugerahi medali, sertifikat, dan hadiah uang tunai dalam sebuah seremoni di Metropolitan Theatre, Manila, pada 15 November mendatang. Pengakuan terhadap Koh dan dua tokoh lainnya ini tidak hanya merayakan pencapaian individu, tetapi juga menegaskan bahwa kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada kemanusiaan masih relevan di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Pertanyaannya, mampukah kawasan Asia terus melahirkan tokoh-tokoh seperti Koh yang mampu menembus batas-batas negara demi kebaikan bersama?



