Mel Gibson Minta Maaf Usai Diejek karena Meniru Gerakan Juru Bahasa Isyarat di Fan Expo Canada
Baca dalam 60 detik
- Aktor berusia 70 tahun itu menyampaikan permintaan maaf setelah video dirinya menirukan gerakan juru bahasa isyarat di Fan Expo Canada memicu kecaman publik.
- Insiden ini kembali mengingatkan pada kontroversi lama Gibson, termasuk pernyataan antisemitiknya pada 2006 yang sempat membuat kariernya terpuruk.
- Di tengah sorotan negatif, Gibson tengah mempersiapkan sekuel 'The Passion of the Christ' yang dinilai sebagai proyek paling ambisius dalam kariernya.

Mel Gibson, aktor senior Hollywood, menyampaikan permintaan maaf terbuka setelah aksinya menirukan gerakan juru bahasa isyarat (ASL) di panggung Fan Expo Canada, Toronto, akhir pekan lalu, memicu gelombang kritik di media sosial. Dalam pernyataan resminya, Gibson menyebut tindakannya sebagai "kebodohan yang tidak dipikirkan" dan menegaskan tidak ada niat jahat di balik gestur tersebut.
Video yang beredar luas memperlihatkan Gibson, yang dikenal lewat film Braveheart, membuat gerakan tangan berlebihan di belakang juru bahasa isyarat yang sedang menerjemahkan sambutan moderator Liam Crowley. Aksi singkat itu langsung menjadi sorotan warganet, yang menilai tindakan Gibson sebagai bentuk penghinaan terhadap komunitas tuli dan bahasa isyarat yang telah diperjuangkan pengakuannya selama bertahun-tahun.
"Kadang ketika Anda didorong naik ke panggung di bawah sorotan lampu, pikiran Anda kemana-mana, dan kadang kebodohan spontan yang tidak dipikirkan muncul," ujar Gibson dalam pernyataannya. Ia menambahkan, "Tidak ada niat jahat yang melekat, dan saya tentu meminta maaf kepada siapa pun yang merasa terganggu oleh hal ini."
Reaksi publik tidak hanya berhenti pada kritik terhadap gestur tersebut. Banyak yang mengaitkan insiden ini dengan rentetan kontroversi yang membayangi karier Gibson, terutama pernyataan antisemitik yang diucapkannya saat ditangkap polisi di Malibu pada 2006. Dalam laporan polisi saat itu, Gibson dilaporkan melontarkan kata-kata kasar tentang Yahudi, yang kemudian memicu kecaman luas dan sempat membuatnya dijauhi industri perfilman Hollywood.
Meski telah meminta maaf secara terbuka kepada komunitas Yahudi melalui surat kepada Anti-Defamation League, jejak digital tersebut tetap menjadi bayangan yang sulit dihilangkan. Pengamat media menilai, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa publik semakin sensitif terhadap isu disabilitas dan bahasa isyarat, yang selama ini kerap dianggap remeh.
Di Indonesia, isu penghormatan terhadap bahasa isyarat juga menjadi perhatian. Komunitas tuli di Tanah Air kerap menyuarakan pentingnya pengakuan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sebagai bahasa resmi, terutama dalam layanan publik dan media. Insiden yang menimpa Gibson menjadi pengingat bahwa tindakan kecil yang dianggap sepele dapat berdampak besar pada kelompok rentan, sekaligus menguji sensitivitas publik terhadap keberagaman.
Di tengah badai kritik, Gibson justru tengah bersiap merilis proyek ambisiusnya, The Resurrection of the Christ, sekuel dari film kontroversial The Passion of the Christ (2004). Dalam pernyataan awal tahun ini, Gibson mengungkapkan bahwa film tersebut merupakan misi pribadi yang telah ia bawa selama lebih dari dua dekade. "Ini jauh lebih dari sekadar film bagi saya. Ini adalah misi yang saya emban selama lebih dari dua puluh tahun untuk menceritakan apa yang saya yakini sebagai kisah terpenting dalam sejarah manusia," ujarnya.
Pertanyaannya, apakah permintaan maaf Gibson kali ini akan meredam kritik publik, atau justru semakin memperkuat citra kontroversial yang melekat padanya? Di tengah industri hiburan yang semakin peka terhadap isu inklusivitas, langkah Gibson ke depan akan menjadi ujian apakah ia mampu memisahkan karya seni dari kontroversi pribadi yang terus menghantuinya.



