Pembunuhan Berantai di Chonburi: Dua Tersangka Diperiksa, Polisi Buru Dua Kakak Beradik Rusia dan Keluarga Thailand
Baca dalam 60 detik
- Polisi Thailand menahan dua tersangka terkait tewasnya lima orang di Chonburi, sementara dua pelaku lain masih diburu.
- Para tersangka diduga menyamar sebagai polisi untuk mencuri kendaraan, dengan korban termasuk dua warga Rusia dan satu keluarga lokal.
- Investigasi mengungkap keterlibatan mantan narapidana yang baru bebas dua bulan, memicu kekhawatiran akan kejahatan terorganisir di kawasan wisata.

Polisi Thailand tengah menginterogasi dua tersangka yang diduga terlibat dalam pembunuhan lima orang di Provinsi Chonburi, sementara dua pelaku lain masih dalam pengejaran. Para korban ditemukan dalam dua insiden terpisah, meliputi sepasang kakak beradik asal Rusia dan satu keluarga Thailand beranggotakan tiga orang. Motif sementara yang diungkap aparat adalah pencurian kendaraan, dengan para pelaku menyamar sebagai petugas kepolisian untuk melancarkan aksinya.
Kasus ini mulai terkuak setelah jenazah Diana Nazimova (22) dan adiknya, Roman Nazimova (17), ditemukan terkubur di kawasan hutan Huai Yai. Tak lama kemudian, polisi menemukan jasad Wichian (53), Chantana (50), dan putri mereka Nichapha (18) di perkebunan kelapa yang tidak jauh dari lokasi penemuan pertama. Kombinasi dua kasus ini mengguncang publik Thailand, terutama karena para tersangka diduga memanfaatkan seragam polisi untuk menipu korban.
Komisioner Kepolisian Wilayah 2, Letnan Jenderal Chatchai Surachetphong, menyatakan bahwa sebagian keterangan tersangka telah cocok dengan bukti fisik dan arah penyelidikan. Namun, ia mengakui masih ada dua pelaku lain yang belum tertangkap dan diperkirakan masih berada di area tersebut. "Kami terus memantau pergerakan mereka," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tim gabungan telah disiagakan di sejumlah titik strategis.
Dari hasil pemeriksaan awal, korban pria mengalami luka tembak, sementara korban wanita menunjukkan bekas kekerasan fisik. Polisi belum menemukan indikasi kekerasan seksual. Sepeda motor milik korban Rusia disebut sempat dibongkar dan sebagian komponennya dijual, namun akhirnya dikubur setelah kasus ini mencuat ke publik. Sementara itu, mobil pikap milik keluarga Thailand rencananya akan digunakan untuk mengangkut narkoba, meski klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Kedua tersangka yang diamankan, yang diidentifikasi sebagai Pong dan Thong, memberikan keterangan yang saling bertentangan. Thong menuding Pong sebagai eksekutor utama, sementara Pong mengklaim korban pria melawan dan korban wanita tewas dalam perkelahian. Polisi masih mendalami kebenaran di balik pernyataan tersebut, termasuk kemungkinan adanya paksaan. Thong bahkan mengaku bertindak di bawah tekanan karena takut keluarganya menjadi sasaran Pong.
Kasus ini menyoroti celah keamanan di kawasan wisata Thailand, yang kerap menjadi incaran sindikat kejahatan. Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap mantan narapidana dan modus kejahatan yang semakin canggih. "Masyarakat harus waspada terhadap orang yang mengaku petugas, terutama di daerah terpencil," kata seorang analis keamanan yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa koordinasi antarnegara juga krusial untuk mengungkap jaringan internasional yang mungkin terlibat.
Polisi masih memburu dua tersangka lain yang disebut bernama Ball dan Fluke, yang disebut-sebut sebagai otak di balik pembunuhan keluarga Thailand. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai status hukum mereka. Sementara itu, penyelidikan terus berlanjut untuk mengungkap apakah para pelaku terlibat dalam kasus kejahatan lain, mengingat salah satu tersangka baru saja bebas dari penjara.
Kasus ini meninggalkan pertanyaan besar: apakah ini aksi kriminal biasa atau bagian dari jaringan yang lebih luas? Dengan dua pelaku masih buron, masyarakat Chonburi dan wisatawan asing tetap diliputi kecemasan. Pihak berwenang berjanji akan menuntaskan kasus ini hingga tuntas, namun dibutuhkan waktu untuk memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah terulangnya tragedi serupa.



