Kebakaran Hutan di Kalsel Tewaskan 12 Bekantan, Habitat Terfragmentasi Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- BKSDA Kalimantan Selatan memastikan 12 bekantan mati terbakar di Desa Balimau, Hulu Sungai Selatan, bersama seekor piton dan king kobra.
- Kebakaran melanda 80 persen lahan milik warga, sementara tanah desa selamat; habitat bekantan terpecah dua dan terhalang jalan.
- Populasi bekantan di kawasan itu ditaksir 60 ekor, namun angka itu masih perlu diverifikasi lapangan pasca-insiden.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan memastikan 12 ekor bekantan (Nasalis larvatus) tewas dalam kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Peristiwa ini menjadi pukulan terbaru bagi satwa endemik Kalimantan yang statusnya dilindungi.
Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna, mengungkapkan bahwa laporan pertama diterima pada Minggu (13/9) dari petugas pemadam kebakaran setempat dan warga. Tim penyelamatan langsung dikerahkan untuk mengecek luas area terdampak dan kemungkinan adanya satwa yang selamat. "Ada 12 ekor bekantan, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra yang ikut terbakar," ujarnya saat dikonfirmasi di Banjarmasin, Senin (14/9).
Hasil pengecekan menunjukkan habitat bekantan di lokasi tersebut terbagi menjadi dua kantong terpisah, masing-masing seluas dua hingga tiga hektare, dan dipisahkan oleh jalan. Satu kantong merupakan tanah desa, sedangkan yang lain adalah lahan milik masyarakat. Kebakaran menghanguskan sekitar 80 persen area milik warga, sementara tanah desa tidak tersentuh api. Seluruh bangkai bekantan ditemukan di lahan milik warga.
Menurut Agus, kondisi habitat yang sempit dan terpecah-pecah membuat bekantan kesulitan melarikan diri ketika api membesar dan angin bertiup kencang. "Habitatnya memang terfragmentasi, tidak satu hamparan ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah," jelasnya. Fragmentasi ini juga diperparah oleh keberadaan jalan yang membelah kedua kantong, sehingga satwa tidak memiliki jalur evakuasi alami.
Kawasan tersebut bukan hanya rumah bagi bekantan. Lutung (hirangan dalam bahasa lokal) dan monyet ekor panjang juga menghuni area yang sama. Tim BKSDA masih memantau keberadaan satwa-satwa tersebut pasca-kebakaran. Selain itu, BKSDA telah menguburkan seluruh bangkai bekantan. Jika ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain, misalnya penembakan, bangkai akan dikirim ke dokter hewan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
BKSDA Kalsel kini berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan kecamatan untuk menentukan langkah penanganan. Masyarakat diimbau ikut memantau kemungkinan satwa yang masih membutuhkan evakuasi. "Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya," tambah Agus.
Insiden ini menyoroti persoalan lebih besar: kebakaran lahan di Kalimantan Selatan kerap terjadi pada musim kemarau, dan lahan milik masyarakat menjadi titik rawan. Data BKSDA menunjukkan bahwa area penggunaan lain (APL) di Desa Balimau merupakan jalur jelajah bekantan, tetapi tidak memiliki status konservasi yang kuat. Ketika api datang, satwa dilindungi menjadi korban pertama.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar catatan kelam lingkungan. Bekantan adalah spesies ikonik yang hanya hidup di Kalimantan dan berperan penting dalam regenerasi hutan melalui penyebaran biji. Kehilangan 12 individu dalam satu kejadian bisa berdampak pada keseimbangan populasi lokal, terutama karena jumlah total di kawasan itu diperkirakan hanya 60 ekor. Angka itu pun masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan.
Ke depan, pertanyaannya apakah pemerintah akan memperkuat perlindungan habitat terfragmentasi seperti di Balimau, atau justru membiarkan lahan masyarakat menjadi zona rawan kebakaran tanpa pengelolaan. Tanpa intervensi, bekantan dan satwa lain di Kalimantan berisiko kehilangan tempat hidupnya secara perlahan.



