Banjir dan Longsor Landa Sri Lanka, Lima Tewas dan Ribuan Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras memicu banjir dan tanah longsor di Sri Lanka, menewaskan lima orang dan melukai tiga lainnya.
- Pemerintah menutup sekolah di wilayah pegunungan pusat, sementara evakuasi melibatkan hampir 2.000 warga.
- Bencana ini memperlambat pemulihan pasca-siklon Ditwa yang menewaskan ratusan orang dan menyebabkan kerugian miliaran dolar.

Kolombo โ Hujan deras yang mengguyur Sri Lanka selama dua hari terakhir memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah, menewaskan sedikitnya lima orang dan memaksa pemerintah menutup sekolah di kawasan pegunungan penghasil teh, Selasa (4/8). Bencana ini kembali menguji ketahanan negara yang masih berjuang memulihkan diri dari siklon dahsyat tahun lalu.
Menurut Pusat Manajemen Bencana (DMC) setempat, wilayah pegunungan di bagian tengah menjadi area terdampak paling parah. Lima korban tewas ditemukan tertimbun longsor yang menerjang dua rumah, sementara tiga lainnya luka-luka dan dua orang dilaporkan hilang. Juru bicara DMC, Pradeep Kodippili, mengonfirmasi bahwa hujan dan banjir juga merusak 129 rumah serta memaksa hampir 2.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Personel angkatan laut dan darat telah dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di rumah mereka. Tayangan televisi lokal memperlihatkan tim penyelamat bahu-membahu dengan warga sipil mengeluarkan orang-orang dari rumah yang terendam, sementara bongkahan batu besar, lumpur, dan tiang listrik tumbang menghambat akses jalan di beberapa ruas utama kawasan tengah.
Bencana ini menjadi pukulan telak bagi Sri Lanka yang belum sepenuhnya pulih dari Siklon Ditwa pada November lalu. Siklon tersebut menewaskan hampir 640 orang, memengaruhi dua juta jiwa, dan menimbulkan kerugian ekonomi ditaksir mencapai US$4,1 miliar. Provinsi Tengah, yang kini kembali dilanda musibah, adalah wilayah yang paling parah terkena dampak siklon, dan pemerintah masih kesulitan membangun ulang jalan, rel kereta, serta rumah-rumah warga.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap bencana hidrometeorologi. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, saat dihubungi terpisah, menegaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan serupa, terutama di daerah perbukitan dengan curah hujan tinggi. โKesiapsiagaan dan sistem peringatan dini berbasis komunitas menjadi kunci untuk mengurangi risiko,โ ujarnya.
Longsor dan banjir memang merupakan bencana alam paling merusak di Sri Lanka, yang hampir setiap tahun melanda kawasan perbukitan tengah dan dataran rendah. Musim hujan monsun kerap memicu tanah longsor di perbukitan, sementara daerah rendah tergenang, memaksa ribuan orang mengungsi. Pola ini juga akrab di Indonesia, khususnya di Jawa Barat dan Sumatera Barat, yang kerap dilanda longsor saat hujan deras.
Pemerintah Sri Lanka kini berhadapan dengan dilema besar: memulihkan infrastruktur yang rusak akibat siklon sekaligus merespons darurat baru. Dengan musim hujan yang masih berlangsung, risiko longsor susulan tetap tinggi. Pertanyaannya, apakah negara ini mampu mempercepat rehabilitasi dan membangun kembali sistem drainase serta peringatan dini yang lebih tangguh sebelum datangnya bencana berikutnya?



