Serangan Pisau di Guangzhou: Polisi Ringkus Pelaku, Korban Luka Ringan
Baca dalam 60 detik
- Polisi Guangzhou menangkap seorang pria setelah insiden penikaman di kawasan kampus Xiaoguwei Island, Panyu, Senin sore.
- Sejumlah korban luka dilarikan ke rumah sakit, namun tidak ada yang mengalami cedera mengancam nyawa.
- Insiden ini kembali memicu diskusi tentang keamanan publik dan pengawasan senjata tajam di kota-kota besar Tiongkok.

Kepolisian Guangzhou, Tiongkok selatan, menahan seorang pria yang diduga melakukan penyerangan dengan senjata tajam di kawasan kampus Xiaoguwei Island, Distrik Panyu, pada Senin (waktu setempat). Insiden ini menimbulkan kepanikan di area publik dan memicu respons cepat dari aparat keamanan.
Menurut laporan yang dihimpun dari otoritas setempat, panggilan darurat mulai masuk sekitar pukul 17.20 waktu setempat. Warga melaporkan adanya aksi penikaman di depan sebuah restoran hotpot di kawasan tersebut. Polisi segera meluncur ke lokasi dan mengamankan pelaku, sementara para korban dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Biro Keamanan Publik Kota Guangzhou dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa seluruh korban telah menerima perawatan medis dan tidak ada yang berada dalam kondisi kritis. Meski demikian, insiden ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga, terutama karena lokasi kejadian berada di dekat kawasan perguruan tinggi yang biasanya ramai aktivitas mahasiswa.
Hingga berita ini diturunkan, motif pelaku masih dalam penyelidikan. Polisi belum merilis identitas tersangka maupun korban. Sejumlah saksi mata mengaku melihat korban dengan luka di bagian wajah, berdasarkan foto-foto yang beredar di media sosial. Namun, pihak berwenang belum mengonfirmasi detail tersebut.
Insiden serangan pisau di ruang publik sebenarnya jarang terjadi di Tiongkok, mengingat negara itu menerapkan kontrol ketat terhadap kepemilikan senjata tajam. Meski demikian, beberapa kasus serupa pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, memicu perdebatan tentang kesehatan mental dan efektivitas pengawasan keamanan di area keramaian.
"Kami menerima laporan dan langsung bergerak. Pelaku berhasil diamankan, korban sudah ditangani," ujar seorang pejabat kepolisian Guangzhou, seperti dikutip media lokal.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan di ruang publik, terutama kawasan pendidikan dan pusat kuliner, perlu terus diperkuat. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung memiliki tantangan serupa dalam hal pengawasan keamanan dan penanganan gangguan jiwa yang bisa memicu tindakan kekerasan. Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan dapat meningkatkan patroli serta sistem respons cepat.
Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya deteksi dini terhadap potensi gangguan psikologis di masyarakat. Di Tiongkok, diskusi tentang kesehatan mental masih menjadi isu sensitif, namun semakin terbuka seiring meningkatnya tekanan hidup di perkotaan. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental juga terus tumbuh, tetapi akses layanan konseling dan psikiatri masih terbatas di banyak daerah.
Ke depan, penyelidikan atas motif pelaku akan menjadi kunci untuk memahami apakah insiden ini terkait dengan masalah pribadi, gangguan jiwa, atau faktor lain. Publik menantikan transparansi dari pihak berwenang, sementara pemerintah kota di berbagai negara dihadapkan pada tantangan untuk menciptakan ruang publik yang aman tanpa mengorbankan kebebasan sipil.



