Polisi Filipina Buru Penembak Petugas Lalu Lintas di Cotabato: Korban Ketiga dalam Tugas
Baca dalam 60 detik
- Seorang petugas lalu lintas di Midsayap, Cotabato, ditembak dari belakang saat bertugas, menjadi korban ketiga dalam insiden serupa.
- Wali kota setempat mengecam keras aksi ini dan memerintahkan polisi untuk menangkap pelaku, yang terekam CCTV melarikan diri dengan sepeda motor.
- Serangan berulang terhadap aparat penegak hukum di wilayah tersebut memicu kekhawatiran akan keselamatan petugas dan penegakan hukum di daerah rawan konflik.

Seorang petugas lalu lintas di Midsayap, Cotabato, Filipina, ditembak dari belakang oleh orang tak dikenal pada Selasa pagi (4/8) saat sedang menjalankan tugas di Barangay Poblacion 1. Korban, Juius Reberal Lajot (43), kini dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah peluru mengenai bagian belakang kepalanya.
Wali Kota Midsayap, Rolly Sacdalan, langsung mengecam keras serangan tersebut dan memerintahkan kepolisian untuk memburu pelaku. โKami mengutuk kekerasan terhadap petugas lalu lintas kami. Tangan hukum panjang! Tuhan itu adil! Betapa menyebalkannya,โ ujarnya dalam bahasa Filipina, seperti dikutip Philippine Daily Inquirer/ANN.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV), Lajot sedang berdiri di depan sebuah toko roti ketika seorang pria bertopi, berkacamata hitam, bermasker putih, mengenakan kemeja tanpa lengan dan celana pendek biru, mendekatinya dari belakang dan melepaskan tembakan. Pelaku kemudian melarikan diri dengan sepeda motor.
Kepolisian Midsayap yang dipimpin Letnan Kolonel William Facsoy Jr. menyatakan penyelidikan dan operasi pengejaran sedang dilakukan untuk mengidentifikasi, menemukan, dan menangkap pelaku. โKami sangat mengutuk penembakan ini,โ kata Facsoy, menegaskan komitmen untuk membawa pelaku ke pengadilan.
Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap petugas penegak hukum di wilayah Cotabato. Lajot adalah petugas lalu lintas ketiga di Midsayap yang menjadi korban serangan senjata saat bertugas. Hal ini memunculkan pertanyaan serius tentang keamanan aparat di daerah yang kerap dilanda konflik komunal dan kehadiran kelompok bersenjata.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan bagi aparat penegak hukum, terutama di daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Di Indonesia, petugas lalu lintas juga kerap menghadapi risiko saat bertugas, meskipun insiden penembakan relatif jarang. Namun, kasus kekerasan terhadap petugas di Filipina menyoroti kebutuhan akan peningkatan keamanan dan dukungan psikologis bagi aparat di lapangan.
Para analis keamanan menilai bahwa serangan berulang terhadap petugas lalu lintas di Cotabato dapat mengindikasikan adanya upaya untuk melemahkan otoritas pemerintah di daerah tersebut. โIni bukan sekadar tindakan kriminal biasa, tetapi bisa menjadi bagian dari pola intimidasi terhadap aparat,โ ujar seorang pengamat keamanan yang enggan disebutkan namanya. Pola ini perlu diwaspadai karena dapat mengganggu stabilitas dan pelayanan publik.
Pemerintah daerah Midsayap diharapkan tidak hanya fokus pada penangkapan pelaku, tetapi juga pada langkah preventif, seperti peningkatan patroli keamanan dan pemberian alat pelindung bagi petugas. Pertanyaan yang menggantung: apakah aparat keamanan di daerah rawan akan mendapat perlindungan yang memadai, atau akankah korban berikutnya berjatuhan sebelum pelaku tertangkap?



