Tragedi Gempa Kumamoto: Perintah Kembali ke Mal Berujung Maut, Perusahaan Akui Salah
Baca dalam 60 detik
- Dua karyawan toko di Aeon Mall Kumamoto tewas setelah diperintahkan kembali ke dalam gedung untuk mengamankan uang, padahal sempat selamat dari gempa.
- Manajer penjualan Habita, Koji Yuse, mengakui perintah tersebut tidak tepat dan menyampaikan permintaan maaf resmi kepada keluarga korban.
- Gempa berkekuatan 7,1 SR yang mengguncang Kumamoto menewaskan sedikitnya 36 orang, dengan dua kematian lain masih dalam penyelidikan.

Gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa lalu, tidak hanya merenggut puluhan nyawa, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius tentang protokol keselamatan kerja. Dua karyawan toko serba ada di Aeon Mall Kumamoto tewas dalam ledakan yang menyusul gempa, setelah mereka diperintahkan kembali ke dalam gedung untuk mengamankan uang tunai, padahal sebelumnya sempat dievakuasi dengan selamat.
Perusahaan pengelola toko tersebut, Habita, yang berbasis di Kumamoto, pada Senin (3/8) secara resmi meminta maaf kepada keluarga korban dan menyerahkan laporan tertulis kronologi kejadian. Pengakuan ini menjadi sorotan tajam di tengah duka mendalam yang melanda masyarakat setempat, sekaligus memicu diskusi tentang keseimbangan antara keselamatan karyawan dan tanggung jawab operasional bisnis.
Ledakan dahsyat yang merobek bangunan Aeon Mall Kumamoto di Kashima Town terjadi setelah guncangan gempa dengan intensitas hingga level 7, level tertinggi pada skala seismik Jepang. Peristiwa ini menewaskan tujuh orang, termasuk dua karyawan Habita yang menjadi korban. Salah satu korban adalah seorang wanita berusia 22 tahun yang sebelumnya telah berhasil keluar dari mal saat gempa pertama terjadi.
Koji Yuse, manajer penjualan Habita yang berusia 64 tahun, mengungkapkan kepada wartawan bahwa ia telah memerintahkan manajer toko untuk menyuruh dua karyawan tersebut kembali ke dalam gedung. Tugas mereka adalah memindahkan hasil penjualan hari itu dari toko di lantai dua ke brankas di lantai satu. "Saya rasa perintah itu tidak tepat. Saya sangat menyesalinya," ujar Yuse, seperti dikutip dari laporan Xinhua.
Kejadian ini menyoroti dilema yang sering dihadapi perusahaan ritel di Jepang, di mana prosedur pengamanan uang tunai terkadang mengabaikan risiko keselamatan jiwa. Meskipun Jepang dikenal memiliki budaya keselamatan yang ketat, insiden ini menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, keputusan di lapangan bisa menjadi penentu hidup atau mati. Para ahli keselamatan kerja menilai bahwa perintah untuk kembali ke area yang baru saja diguncang gempa besar, tanpa mempertimbangkan potensi gempa susulan atau kerusakan struktural, merupakan kelalaian yang fatal.
Bagi Indonesia, yang juga terletak di Cincin Api Pasifik dan sering dilanda gempa, tragedi ini menjadi pelajaran berharga. Standar operasional prosedur (SOP) keselamatan di pusat perbelanjaan dan perkantoran di tanah air perlu dievaluasi ulang, terutama dalam hal evakuasi dan penanganan aset saat bencana. Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat menjadikan insiden ini sebagai bahan kajian untuk memperkuat regulasi keselamatan kerja, khususnya di sektor ritel yang rentan terhadap risiko serupa.
Pemerintah Prefektur Kumamoto melaporkan bahwa hingga Selasa pagi, 36 orang telah dipastikan tewas akibat gempa, sementara dua kematian lainnya masih dalam penyelidikan. Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan, sementara warga yang selamat mulai menghadapi trauma dan kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, Habita berjanji akan bekerja sama penuh dengan otoritas untuk menyelidiki insiden ini dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah kasus ini mendorong perubahan regulasi yang lebih ketat di Jepang dan negara-negara rawan gempa lainnya, termasuk Indonesia, untuk memprioritaskan keselamatan jiwa di atas kepentingan bisnis? Atau justru menjadi catatan kelam yang terlupakan begitu duka mereda? Yang jelas, nyawa dua karyawan yang gugur dalam menjalankan perintah menjadi pengorbanan yang tidak seharusnya terjadi, dan menjadi pengingat bahwa dalam situasi darurat, keputusan yang diambil dalam hitungan detik bisa berakibat seumur hidup.



