Runtuhnya Gedung Hunian di India: Sembilan Tewas, Operasi Penyelamatan Terus Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Sebuah bangunan tempat tinggal bertingkat di Bhiwandi, Maharashtra, ambruk pada Kamis malam, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan memicu operasi pencarian korban.
- Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur perkotaan di India, di mana bangunan tua dan konstruksi ilegal sering kali menjadi pemicu tragedi serupa.
- Pemerintah setempat berjanji melakukan investigasi menyeluruh, sementara keluarga korban menanti kabar dari tim penyelamat yang masih bekerja di lokasi.

Sedikitnya sembilan orang tewas dan sejumlah lainnya masih tertimbun reruntuhan setelah sebuah gedung hunian bertingkat ambruk di kawasan Bhiwandi, negara bagian Maharashtra, India, pada Kamis malam. Peristiwa ini memicu operasi penyelamatan besar-besaran yang berlangsung sepanjang malam hingga Jumat pagi, dengan tim penyelamat berjuang menjangkau korban yang diduga masih berada di bawah puing-puing.
Bhiwandi, yang terletak di dekat pusat keuangan Mumbai, dikenal sebagai kawasan padat dengan industri tekstil dan permukiman yang tumbuh tanpa perencanaan matang. Menurut pejabat setempat, bangunan yang runtuh merupakan hunian multi-lantai yang dihuni banyak keluarga. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti ambruknya gedung, namun dugaan awal mengarah pada struktur bangunan yang sudah tua dan tidak terawat.
Insiden ini kembali membuka luka lama tentang buruknya pengawasan konstruksi di India. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus runtuhnya bangunan di Mumbai dan sekitarnya kerap terjadi, terutama saat musim hujan ketika tanah menjadi labil dan bangunan yang sudah rapuh tak mampu menahan beban. Data dari National Crime Records Bureau India menunjukkan ratusan orang tewas setiap tahun akibat bangunan roboh, menjadikan ini salah satu masalah keselamatan publik yang paling memprihatinkan di negara tersebut.
Tim penyelamat yang dikerahkan dari kepolisian, pemadam kebakaran, dan badan penanggulangan bencana nasional (NDRF) bekerja tanpa henti. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat puing-puing besar, sementara anjing pelacak digunakan untuk mendeteksi keberadaan korban. Hingga Jumat siang, beberapa orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, namun jumlah pasti korban yang masih tertimbun belum dapat dipastikan. Warga sekitar yang panik berkumpul di lokasi, berharap kabar baik dari kerabat mereka yang belum ditemukan.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya penegakan regulasi bangunan. Di Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya, banyak bangunan tua yang berusia puluhan tahun dan dihuni secara padat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas tata kota sebenarnya memiliki kewenangan untuk melakukan inspeksi, namun implementasinya sering terkendala birokrasi dan minimnya kesadaran pemilik bangunan. Kasus di India menunjukkan bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berujung pada bencana kemanusiaan.
Pejabat Maharashtra menyatakan akan membentuk tim investigasi untuk menyelidiki penyebab runtuhnya gedung, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran izin mendirikan bangunan (IMB). Sementara itu, pemerintah negara bagian berjanji memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Namun, bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, pertanyaan yang lebih mendesak adalah: di mana mereka akan tinggal selanjutnya, dan bagaimana memastikan kejadian serupa tidak terulang?
Operasi penyelamatan masih berlangsung, dan setiap jam sangat menentukan bagi mereka yang masih menunggu di bawah reruntuhan. Pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang: apakah regulasi yang ada sudah cukup ketat, atau justru perlu ada terobosan baru dalam pengawasan konstruksi di kawasan padat penduduk? Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya penting bagi India, tetapi juga bagi negara-negara berkembang lain yang menghadapi tantangan serupa.



