Paus Leo Rayakan Ulang Tahun ke-71 di Perpustakaan Vatikan, Buka Pameran Air "AQVA"
Baca dalam 60 detik
- Paus Leo merayakan ulang tahunnya yang ke-71 dengan mengunjungi Perpustakaan Apostolik Vatikan dan meresmikan pameran bertema air "AQVA-Catastrophe and Wonder".
- Dalam acara sederhana itu, ia meniup lilin kue dan mengenang ibunya yang seorang pustakawan, menyebut perpustakaan sebagai tempat yang istimewa.
- Paus kelahiran Chicago ini tercatat sebagai pemimpin Gereja Katolik pertama dari Amerika Serikat, menggantikan Paus Fransiskus sejak Mei 2025.

Paus Leo genap berusia 71 tahun pada Senin (14/9) dan memilih merayakannya bukan di Basilika Santo Petrus, melainkan di Perpustakaan Apostolik Vatikan. Di sana, ia membuka pameran bertajuk "AQVA-Catastrophe and Wonder" yang mengangkat tema air, lalu meniup lilin kue ulang tahun yang telah disiapkan.
Kunjungan tersebut menjadi agenda resmi kepausan sekaligus momen personal. Dalam sambutannya, Paus Leo menyebut penyelenggaraan ilahi membawanya ke perpustakaan bersejarah itu pada hari istimewanya. Ia juga mengenang ibundanya yang berprofesi sebagai pustakawan, sehingga tempat tersebut memiliki makna khusus baginya.
Pameran "AQVA" sendiri menyoroti dualitas air: sebagai sumber kehidupan sekaligus pemicu bencana. Vatikan tampaknya ingin mendorong refleksi global tentang krisis air bersih, perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya yang adilโisu yang kerap menjadi perhatian dalam ensiklik kepausan terbaru.
Bagi publik Indonesia, peristiwa ini lebih dari sekadar seremonial. Vatikan memiliki pengaruh moral yang besar terhadap kebijakan iklim dan kemanusiaan global. Pameran bertema air dapat menjadi pengingat bahwa Indonesia, sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, menghadapi risiko banjir, abrasi, dan krisis air bersih yang kian nyata. Gereja Katolik Indonesia yang memiliki basis massa signifikan juga dapat menjadikan pesan Paus sebagai landasan advokasi lingkungan di tingkat lokal.
Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai gaya kepemimpinan Paus Leo yang sederhana namun simbolis efektif untuk menarik perhatian media tanpa harus menggelar acara megah. "Ini adalah cara halus untuk menyampaikan pesan bahwa isu air dan lingkungan adalah bagian dari misi gereja," ujar seorang analis Vatikan yang tidak ingin disebutkan namanya.
"Penyelenggaraan ilahi membawa saya ke tempat ini pada hari istimewa saya. Ibu saya seorang pustakawan, jadi perpustakaan selalu punya tempat di hati saya," ujar Paus Leo dalam kesempatan itu.
Perayaan ulang tahun di perpustakaan juga menegaskan arah kepausan Leo yang menekankan literasi, dialog antarbudaya, dan pelestarian warisan sejarah. Perpustakaan Apostolik Vatikan sendiri menyimpan ribuan manuskrip kuno dan arsip berharga, yang kini semakin terbuka untuk penelitian publik melalui digitalisasi.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Paus Leo akan menjadikan isu air dan lingkungan sebagai tema utama dalam ensiklik atau sinode mendatang. Jika ya, dampaknya bisa terasa hingga ke kebijakan negara-negara dengan mayoritas Katolik, termasuk Indonesia, dalam hal pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana. Akankah pesan dari perpustakaan itu menjelma menjadi gerakan global?



