Runtuhnya Atap Rumah Akibat Hujan Monsun di Lahore: Sembilan Tewas, Pakistan Kembali Berduka
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras memicu ambruknya atap rumah bertingkat di Lahore, menewaskan sembilan orang dari tiga keluarga.
- Pakistan, yang menyumbang emisi karbon kurang dari 1%, menjadi salah satu negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
- Insiden ini menambah daftar panjang korban hujan di Pakistan, dengan lebih dari 100 orang tewas sejak akhir Juni.

Hujan monsun yang mengguyur kota Lahore, Pakistan, sejak Rabu malam (30/7) memicu runtuhnya atap sebuah rumah bertingkat di kawasan Baghbanpura. Musibah itu menewaskan sedikitnya sembilan orang dari tiga keluarga yang tinggal di dalamnya, sementara sejumlah penghuni lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur di negara Asia Selatan itu terhadap cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
Menurut keterangan resmi otoritas setempat, suara gemuruh keras membangunkan warga sekitar saat rumah tersebut ambruk. Tim penyelamat yang tiba di lokasi langsung bergotong royong dengan warga untuk mencari korban di balik puing-puing. Operasi pencarian berlangsung hampir 24 jam sebelum akhirnya seluruh jenazah berhasil dievakuasi. Beberapa korban selamat yang tertimbun reruntuhan dilaporkan dalam kondisi kritis, seperti diungkapkan oleh layanan darurat provinsi Punjab.
Warga setempat menduga bahwa hujan yang terus-menerus telah melemahkan struktur atap bagian atas rumah. Kurangnya perawatan bangunan membuat atap tersebut akhirnya runtuh, dan dampaknya memicu keruntuhan beruntun pada lantai-lantai di bawahnya. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan bangunan, terutama di kawasan yang rawan bencana hidrometeorologi.
Pakistan memang tengah menghadapi musim hujan yang jauh di atas normal dalam beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan mengaitkan tren ini dengan perubahan iklim global. Meskipun negara ini hanya menyumbang kurang dari satu persen emisi gas rumah kaca dunia, penelitian menunjukkan bahwa Pakistan termasuk salah satu negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Sejak akhir Juni, lebih dari 100 orang tewas dalam berbagai insiden terkait hujan, termasuk 14 anak yang meninggal ketika atap sebuah pusat bimbingan belajar runtuh.
Otoritas Pakistan tidak menutup kemungkinan terulangnya bencana besar seperti banjir dahsyat tahun 2022 yang menenggelamkan sepertiga wilayah negara itu, menewaskan 1.737 orang, dan mengungsikan jutaan penduduk. Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa infrastruktur yang rapuh dan kesiapan yang minim akan kembali diuji oleh curah hujan ekstrem.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin yang relevan. Negeri kita juga berulang kali dilanda banjir dan tanah longsor akibat hujan deras, dan banyak bangunan di daerah padat penduduk yang tidak memenuhi standar keamanan. Kasus di Lahore menggarisbawahi bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas negara, dan negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Pakistan sama-sama berada di garis depan risiko. Namun, adaptasi dan mitigasi seringkali terhambat oleh keterbatasan anggaran dan prioritas pembangunan.
Para ahli memperkirakan bahwa frekuensi dan intensitas hujan ekstrem akan terus meningkat seiring naiknya suhu global. Pakistan, seperti halnya Indonesia, perlu segera memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko bencana. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah ini akan berjalan secepat laju perubahan iklim itu sendiri?



