Di Balik Mantri BRI: Mendampingi UMKM Lubuklinggau, Menjaga Literasi Data di Era Digital
Baca dalam 60 detik
- Teti Ernawati, tenaga pemasar mikro BRI Unit Garuda Lubuklinggau, membina ratusan debitur di empat kelurahan dengan sektor karet dan perdagangan sebagai tulang punggung.
- Selain pembiayaan, ia mendorong pelaku usaha strategis menjadi agen BRILink dan mengedukasi nasabah soal perlindungan data pribadi di ranah digital.
- Peran mantri sebagai ujung tombak inklusi keuangan menyoroti tantangan literasi digital yang masih menganga di wilayah semiperkotaan seperti Lubuklinggau.

Di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, denyut ekonomi tidak hanya ditopang perdagangan, tetapi juga perkebunan karet yang menjadi sandaran hidup sebagian warga. Di tengah karakter wilayah yang menantang itulah Teti Ernawati menjalankan perannya sebagai tenaga pemasar mikro atau Mantri BRI Unit Garuda, Branch Office Lubuklinggau, sejak 2017. Ia membina ratusan debitur yang tersebar di empat kelurahan: Lubuk Tanjung, Tanjung Aman, Tanjung Indah, dan Watas.
Pendekatan yang dipilih Teti bukan sekadar menyalurkan kredit. Ia melakukan kunjungan rutin berbasis letak wilayah untuk memastikan produktivitas kerja sekaligus memaksimalkan potensi tiap kelurahan. Dari interaksi langsung itu, ia memetakan kebutuhan pelaku usaha, membantu UMKM yang tengah tumbuh melalui pembiayaan, hingga mendorong pedagang strategis menjadi agen BRILink. Langkah ini memperluas jangkauan layanan keuangan tanpa harus menunggu nasabah datang ke kantor cabang.
Yang menarik, persoalan yang dihadapi Teti tidak selalu berkaitan dengan naik-turunnya omzet. Di wilayah perkotaan, ia masih menemukan nasabah yang belum menyadari pentingnya menjaga data pribadi ketika menggunakan layanan keuangan digital. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa inklusi keuangan tidak cukup berhenti pada akses, tetapi harus dibarengi dengan literasi keamanan transaksi. Edukasi yang ia lakukan menyasar kesadaran untuk lebih berhati-hati dalam mengelola informasi pribadi.
"Sebagai Mantri BRI, saya memilih pendekatan melalui interaksi dan komunikasi yang baik. Memahami kebutuhan nasabah adalah kunci bagaimana kita mengambil tindakan untuk selanjutnya," ujar Teti.
Bagi Teti, bertemu banyak karakter dan cerita kehidupan menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Ia mengaku belajar lebih bijak dalam mengambil keputusan sekaligus menemukan kebanggaan karena dapat memberi arti bagi orang lain. "Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pelaku usaha yang kita dampingi terus berkembang dan sukses," ungkapnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny menilai pengalaman Teti mencerminkan bagaimana peran mantri dibangun melalui kedekatan dengan masyarakat dan pemahaman terhadap kebutuhan mereka. Menurutnya, kedekatan itu memungkinkan BRI memahami perkembangan usaha nasabah secara langsung, yang menjadi bagian penting dalam upaya memperluas akses layanan keuangan di berbagai wilayah.
Kisah Teti bukan sekadar cerita personal. Ia menggambarkan bagaimana bank berpelat merah menempatkan mantri sebagai ujung tombak di daerah yang belum sepenuhnya tersentuh layanan digital. Di Lubuklinggau, ekonomi yang bertumpu pada karet dan perdagangan membuat kebutuhan pembiayaan sangat bergantung pada sektor-sektor yang fluktuatif. Kehadiran mantri membantu pelaku usaha mengelola risiko, memperluas pasar, dan mengadopsi kanal pembayaran digital melalui BRILink.
Namun, tantangan literasi digital tetap menjadi pekerjaan rumah. Jika nasabah belum paham cara melindungi data pribadi, risiko penipuan dan penyalahgunaan informasi bisa menggerus kepercayaan terhadap layanan keuangan. Karena itu, edukasi yang dilakukan mantri seperti Teti menjadi investasi jangka panjang bagi industri perbankan, terutama di wilayah semiperkotaan yang masih rentan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa banyak debitur yang bisa dibina, tetapi seberapa cepat literasi keamanan transaksi menyebar ke pelosok. Tanpa itu, inklusi keuangan berisiko menjadi semu: akses terbuka, tetapi kerentanan tetap tinggi.



