Gempa Kumamoto Mempererat Ikatan Petani Jepang dan Dua Magang Filipina
Baca dalam 60 detik
- Dua pekerja magang asal Filipina selamat dari gempa berkekuatan 7 skala intensitas Jepang di Hikawa, Kumamoto, dan memilih bertahan membantu petani yang menaungi mereka.
- Insiden ini menyoroti kerentanan pekerja migran dalam bencana serta pentingnya ikatan non-biologis yang terbentuk di tengah krisis.
- Keputusan mereka untuk tetap tinggal mencerminkan solidaritas yang mungkin menjadi model bagi pengelolaan pekerja asing di negara rawan bencana seperti Indonesia.

Dua perempuan pekerja magang asal Filipina selamat dari guncangan dahsyat yang melanda kawasan Hikawa, Prefektur Kumamoto, Jepang, pada 28 Juli lalu. Peristiwa itu tidak hanya menguji kesiapsiagaan mereka, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan dengan petani lokal yang selama ini menampung mereka.
Kazuyo Sekimoto, 56 tahun, pemilik lahan pertanian di Hikawa, tak kuasa menahan haru ketika memastikan kedua anak asuhnya selamat. Rumahnya sempat rusak berat dalam gempa Kumamoto satu dekade lalu, sehingga instingnya langsung memerintahkan evakuasi. Namun, kedua pekerja magang itu ternyata sudah lebih dulu keluar dari bangunan tambahan tempat mereka tinggal sebelum teriakan Sekimoto terdengar.
Guncangan kali ini tercatat pada level 7 dalam skala intensitas seismik Jepang—level tertinggi yang pernah ada. Salah satu pekerja magang berusia 24 tahun mengaku pernah merasakan gempa di Filipina, tetapi tidak ada yang sekuat ini. Sementara rekannya yang berusia 31 tahun menatap bangunan yang runtuh dan menyadari bahwa keterlambatan beberapa detik saja bisa berakibat fatal.
Di tengah musim panen yang akan segera tiba, Sekimoto sempat menawarkan kedua pekerja itu untuk pulang ke Filipina. Namun, keduanya memilih bertahan. Meski gempa susulan masih mengancam, mereka menilai Sekimoto—yang mereka panggil “ibu”—juga sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkan bantuan. “Kami bukan saudara sedarah, tetapi kami keluarga,” ujar Sekimoto dengan mata berkaca-kaca.
Kisah ini menyoroti dimensi kemanusiaan dari program magang teknis yang kerap menuai kritik karena kondisi kerja yang keras. Di Indonesia, skema serupa juga banyak digunakan untuk mengirim tenaga kerja ke Jepang. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, ribuan pekerja migran Indonesia ditempatkan di sektor pertanian dan manufaktur Jepang setiap tahun. Mereka menghadapi risiko serupa ketika bencana alam terjadi, seperti gempa bumi atau tsunami yang juga rawan melanda negeri ini.
Para ahli keselamatan kerja menilai bahwa insiden di Hikawa menjadi pengingat pentingnya pelatihan evakuasi bagi pekerja asing. “Mereka harus tahu prosedur darurat sejak hari pertama, bukan hanya sekadar teori,” kata seorang pengamat ketenagakerjaan yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa ikatan emosional antara pemberi kerja dan pekerja, seperti yang ditunjukkan Sekimoto, dapat menjadi faktor penentu dalam keputusan untuk bertahan atau meninggalkan zona bahaya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana negara-negara pengirim pekerja migran, termasuk Indonesia, dapat memperkuat perlindungan bagi warganya di luar negeri. Apakah cukup dengan perjanjian bilateral, atau perlu ada standar global yang mengatur keselamatan pekerja dalam situasi darurat? Kisah dua perempuan Filipina ini mungkin hanya satu dari banyak cerita, tetapi ia menawarkan pelajaran berharga tentang solidaritas lintas batas yang tumbuh justru di tengah reruntuhan.



