Pagar Jeruk dan Kepemimpinan Perempuan: Model Baru Selamatkan Tesso Nilo dari Konflik Gajah
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Perempuan Batang Nilo (Perbani) di Riau memakai pagar jeruk untuk meredam konflik gajah-manusia, sekaligus memulihkan hutan Tesso Nilo.
- Lewat sekolah perempuan dan unit simpan pinjam, Perbani membangun kemandirian ekonomi sekaligus mendorong anggotanya masuk ke ruang publik.
- Keberhasilan Perbani menjadi contoh nyata bahwa pelibatan perempuan dalam konservasi bisa menciptakan solusi berkelanjutan bagi kawasan lindung.

Di tengah ancaman deforestasi yang menggerus Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau, sekelompok perempuan di Desa Lubuk Kembang Bunga justru menghadirkan inovasi yang mengubah konflik menjadi harmoni. Dengan menanam pagar jeruk di sekeliling kebun sawit, mereka berhasil mengusir gajah Sumatera tanpa kekerasan, sekaligus membuka jalan bagi pemulihan hutan yang selama ini terdegradasi.
Ernita, seorang ibu rumah tangga berusia 33 tahun, adalah salah satu pelopor praktik ini. Sebelum mengenal pagar jeruk, kebun sawitnya kerap dirusak gajah hingga ia harus menanam ulang empat sampai lima kali. Kini, setelah menanam sekitar 600 batang jeruk di lahan seluas 1,5 hektar, gajah tak lagi mendekat. โAlhamdulillah, setelah buat pagar jeruk, belum pernah dimakan gajah lagi,โ ujarnya. Gajah, yang dikenal sensitif terhadap bau dan duri, memilih menghindari area yang dipagari tanaman tersebut.
Ide pagar jeruk ini lahir dari Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) yang melihat bahwa pagar listrik justru banyak membunuh gajah. Direktur Eksekutif YTNTN, Yuliantony, menjelaskan bahwa pagar jeruk adalah solusi tengah yang menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu, warga juga menanam tanaman pakan kesukaan gajah seperti nangka, cempedak, dan pisang di area lain, sehingga gajah memiliki sumber makanan tanpa harus masuk ke kebun warga. Pendekatan ini terbukti efektif di tiga lokasi dan menjadi model mitigasi konflik yang ramah satwa.
Di balik inovasi teknis ini, terdapat kekuatan sosial yang tidak kalah penting: Kelompok Perempuan Batang Nilo (Perbani). Terbentuk pada 2016, kelompok yang beranggotakan 30 perempuan ini tidak hanya fokus pada penanaman jeruk, tetapi juga membangun kapasitas anggota melalui sekolah perempuan. Materi yang diajarkan mencakup kepemimpinan, keberanian berbicara di depan umum, hingga perencanaan kegiatan. Hasilnya, beberapa anggota Perbani kini menduduki jabatan publik, dari ketua rukun tetangga hingga anggota DPRD. Rena Sandriani, ketua Perbani, mengakui bahwa kelas gender yang diikutinya hampir satu dekade lalu masih membekas dan terus membentuk cara pandangnya.
Perbani tidak berhenti pada konservasi. Mereka mengembangkan unit simpan pinjam (USP) yang modal awalnya hanya Rp3 juta dari simpanan pokok anggota. Kini, dana yang dikelola mencapai lebih dari Rp100 juta, digunakan untuk membiayai pendidikan anak, perbaikan rumah, dan kebutuhan kebun. Selain itu, kelompok ini juga membudidayakan madu kelulut, mengelola bank sampah, dan memproduksi pupuk organik dari kotoran gajah. Semua kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan anggota, tetapi juga memperkuat kemandirian kelompok tanpa ketergantungan pada donor eksternal.
Herlia Santi, Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Riau, menegaskan bahwa penguatan ekonomi adalah pintu masuk untuk melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, perempuan sering terabaikan dalam pengelolaan sumber daya alam, padahal mereka adalah pengguna utama air, kayu bakar, dan hasil hutan. โJika ini berkelanjutan dan kelompok Perbani semakin luas jangkauannya, maka akan ada efek domino dalam upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan TNTN,โ ujarnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Rehabilitasi hutan TNTN masih menghadapi kendala serius, termasuk pembakaran kawasan oleh pihak yang mengklaim lahan untuk sawit. YTNTN mencatat bahwa upaya pemulihan hutan seluas 400 hektar seringkali gagal karena aksi-aksi tersebut. Selain itu, kemitraan konservasi Perbani dengan Balai TNTN sempat berakhir karena jarak tempuh yang jauh. Namun, semangat anggota Perbani tidak surut. Mereka terus mencari peluang baru, seperti demplot hortikultura dan penjualan bibit, untuk menjaga keberlanjutan organisasi.
Kisah Perbani adalah bukti bahwa konservasi tidak harus selalu berhadapan dengan kepentingan ekonomi. Dengan pendekatan yang melibatkan perempuan dan inovasi lokal, konflik antara manusia dan satwa liar dapat dikelola secara damai. Pertanyaannya, mampukah model ini direplikasi di kawasan lain di Indonesia yang menghadapi masalah serupa? Jika jawabannya ya, maka Tesso Nilo tidak hanya menjadi saksi keberhasilan sekelompok perempuan, tetapi juga menjadi contoh bagi upaya konservasi di seluruh negeri.



