Negosiasi Bocor ke Publik, Menteri Olahraga Italia Kritik Langkah FIGC Dekati Guardiola
Baca dalam 60 detik
- FIGC secara terbuka mengakui telah mendekati Pep Guardiola untuk menangani timnas, namun sang pelatih asal Spanyol menolak tawaran tersebut.
- Menteri Olahraga Andrea Abodi menilai langkah itu sebagai perjudian yang tidak perlu, mengingat rendahnya peluang Guardiola menerima tawaran.
- Andrea Pirlo diangkat sebagai pelatih anyar dengan kontrak empat tahun, meski ia masih harus menyelesaikan kontraknya di klub Uni Emirat Arab.

Keputusan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk membuka pembicaraan dengan Pep Guardiola secara terang-terangan menuai kritik tajam dari Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi. Menurutnya, negosiasi yang bocor ke publik hanya menunjukkan ketidakmatangan manajemen dan berpotensi merugikan citra timnas sebelum uji coba sesungguhnya di lapangan.
Dalam pernyataan kepada Sky TG 24, Abodi menegaskan bahwa jika FIGC tidak memiliki keyakinan kuat terhadap respons positif Guardiola, seharusnya pendekatan itu dilakukan secara tertutup. Ia menyebut langkah tersebut sebagai "perjudian" yang tidak terencana. โKetika Anda mengomunikasikan opsi seperti ini secara terbuka, Anda harus punya tingkat kepercayaan yang masuk akal untuk mendapatkan hasil. Jika tidak, lebih baik tetap diam,โ ujarnya.
Kontras dengan ambisi besar, FIGC justru berakhir dengan kegagalan diplomatik. Guardiola, yang tengah fokus bersama Manchester City, tidak bersedia meninggalkan klubnya untuk menangani Azzurri. Alih-alih pelatih top, federasi kemudian beralih ke Andrea Pirloโmantan gelandang ikonik yang kini melatih United FC di Uni Emirat Arab. Pirlo dijadwalkan meneken kontrak empat tahun, namun ia harus lebih dulu memutus kontrak dengan klubnya saat ini.
Keputusan FIGC menimbulkan tanda tanya besar, terutama karena jejak Pirlo sebagai pelatih belum terlalu mentereng. Selepas menangani Juventus pada musim 2020โ21, ia hanya mampu mempersembahkan Coppa Italia dan Supercoppa Italiana. Setelah itu, karier kepelatihannya berlanjut ke Sampdoria dan Karagumruk di Turki, tanpa prestasi signifikan. Abodi, meski kritis, tetap memberikan dukungan bersyarat. โSaya hanya seorang penggemar timnas. Saya berharap pilihan ini membuahkan hasil. Ini adalah jalur jangka panjang, dan Pirlo perlu membuktikan kemampuannya di panggung yang lebih besar,โ katanya.
Kisruh ini mengingatkan pada dinamika serupa di Indonesia, di mana PSSI kerap menghadapi sorotan publik saat proses perekrutan pelatih timnas. Transparansi yang berlebihan tanpa kepastian kerap memicu spekulasi dan tekanan yang tidak perlu. Bedanya, FIGC memiliki sumber daya dan jaringan yang lebih luas, namun justru terjerumus dalam kesalahan komunikasi yang sama. Pelajaran yang bisa dipetik: diplomasi sepak bola tingkat tinggi memerlukan kehati-hatian dan kerahasiaan, bukan sekadar gebyar pemberitaan.
Ke depan, ujian sesungguhnya bagi FIGC dan Pirlo adalah apakah keputusan berani ini akan berbuah prestasi di turnamen besar seperti Piala Eropa atau Kualifikasi Piala Dunia. Publik Italia, yang terbiasa dengan standar tinggi, tidak akan sabar menunggu lama. Apakah Pirlo mampu mengulang kesuksesan sebagai pemain, atau justru menjadi antiklimaks bagi sepak bola Italia?



