Mundur setelah 16 Hari: Paolo Maldini Tinggalkan Timnas Italia karena Beda Visi dengan FIGC
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini dan Leonardo mundur dari posisi direktur teknis dan penasihat FIGC setelah hanya 16 hari, menyusul penolakan usulan Andrea Pirlo sebagai pelatih.
- Konflik dipicu oleh perbedaan pandangan antara Maldini yang menginginkan regenerasi dan FIGC yang lebih memilih pelatih berpengalaman seperti Conte atau Mancini.
- Kasus ini mengungkap ketegangan struktural di federasi Italia, di mana otonomi teknis direktur dibatasi oleh keputusan politik presiden.

Paolo Maldini hanya bertahan 16 hari sebagai direktur teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) setelah memutuskan mundur, bersama penasihat Leonardo, karena usulannya menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih timnas ditolak mentah-mentah oleh Presiden FIGC Giovanni Malagò. Keputusan ini menandai kegagalan visi perubahan yang coba dibawa legenda AC Milan tersebut dalam tubuh federasi.
Menurut laporan Corriere della Sera yang dikutip Football Italia, konflik bermula saat Malagò menolak pencalonan Pirlo dengan alasan kurang tepat, dan mendorong nama Antonio Conte atau Roberto Mancini. Maldini yang merasa otoritas teknisnya diabaikan, kemudian juga mengusulkan Thiago Motta, namun kembali ditolak. Dalam pernyataan yang bocor ke media, Maldini mengatakan, “Mereka tidak menginginkan perubahan.”
Polemik semakin tajam ketika terungkap bahwa Pirlo pernah menjadi duta merek perusahaan taruhan Rusia, yang menjadi alasan politis di balik penolakan. Namun Maldini menilai itu hanya dalih untuk mempertahankan status quo. Leonardo, rekan setim Maldini di era keemasan Milan, ikut mundur setelah melihat bahwa kemandirian pengambilan keputusan mereka sudah tidak dihormati.
Kasus ini menjadi cermin bagi federasi sepak bola di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di tanah air, intervensi politik dalam pemilihan pelatih timnas kerap terjadi, baik dari pihak federasi maupun pemangku kepentingan lain. Ketika visi teknis jangka panjang dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek atau tekanan eksternal, seringkali regenerasi pelatih dan pengembangan sepak bola nasional terhambat. Pengunduran diri Maldini bisa menjadi pelajaran bahwa tanpa adanya otonomi teknis yang jelas, pembenahan sepak bola hanya akan berjalan di tempat.
Pendekatan otoritatif yang ditunjukkan Malagò dalam percakapan terakhirnya dengan Maldini—menurut laporan Repubblica—menjadi titik akhir hubungan kerja mereka. “Pirlo adalah keputusan yang malang, tetapi saya presiden dan pada titik ini saya ambil tanggung jawab dan saya yang memutuskan,” ujar Malagò, menunjukkan bahwa hierarki wewenang lebih diutamakan ketimbang masukan teknis. Kondisi ini memicu pertanyaan besar: seberapa independen posisi direktur teknis di FIGC?
Ke depan, langkah yang diambil FIGC akan menjadi sorotan publik dan media Italia. Dengan kepergian dua figur ikonik yang dikenal kritis terhadap sistem, federasi harus mencari wajah-wajah baru yang bisa diterima internal maupun publik. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah FIGC akan kembali pada pola lama yang justru membuat timnas gagal di ajang internasional, ataukah akhirnya berani membuka ruang perubahan yang lebih progresif? Bagi Indonesia, ini juga menjadi refleksi agar federasi tidak terjebak dalam pusaran politik yang mengorbankan masa depan sepak bola.



