Kimi Antonelli Menangi GP Italia, Rebut 66 Poin atas Russell: Mampukah Ferrari Jinakkan Leclerc?
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli tampil gemilang dengan menang dari posisi ke-19 di GP Italia, memperlebar jarak atas George Russell menjadi 66 poin.
- Insiden antara Charles Leclerc dan Lewis Hamilton di lap pertama memicu ketegangan internal Ferrari, memperlihatkan masalah manajemen tim.
- Sirkuit Madrid yang baru debut akhir pekan ini diprediksi tidak cocok dengan karakter McLaren, membuka peluang kejutan.

Kimi Antonelli menorehkan kemenangan monumental di Grand Prix Italia, Minggu (โฆ), dengan melesat dari posisi ke-19 di grid dan finis terdepan di hadapan publik sendiri. Pebalap Mercedes itu sekaligus memperkokoh puncak klasemen dengan keunggulan 66 poin atas rekan setimnya, George Russell, setelah Max Verstappen melengkapi podium di posisi ketiga.
Kemenangan yang disebut-sebut bakal dikenang sebagai salah satu performa terbaik dalam sejarah Formula 1 itu langsung memicu pertanyaan besar: apakah Ferrari mampu mengelola konflik internal yang dipicu insiden antara Charles Leclerc dan Lewis Hamilton di lap pertama? Leclerc dinilai terlalu agresif saat menekan Hamilton di chicane pertama, memaksa rekan setimnya keluar lintasan dan jatuh ke posisi ke-10. Satu lap kemudian, Leclerc sendiri tersingkir setelah kecelakaan di Parabolica, yang diduga terkait dengan duel sengit melawan Oscar Piastri dari McLaren.
Ketegangan di kubu Ferrari semakin terasa ketika Hamilton, yang kehilangan poin berharga dalam perburuan gelar, melontarkan kritik pedas terhadap keputusan tim yang dinilainya mengabaikan peluangnya. "Sudah terlalu larut untuk keputusan seperti itu," ujarnya, merujuk pada kebijakan kesetaraan pembalap yang diterapkan Ferrari. Sementara itu, Leclerc membantah anggapan bahwa dirinya kerap menjadi biang kecelakaan, dengan menunjuk pada data yang menunjukkan bahwa ia hanya dua kali gagal finis musim ini, sedangkan Hamilton empat kali dalam periode yang sama.
Insiden ini membuka kembali diskusi tentang gaya balap Leclerc yang agresif, yang oleh sebagian pengamat dianggap sebagai bumerang. Namun, bos tim Ferrari, Frederic Vasseur, memilih untuk menenangkan situasi dengan berjanji akan berbicara secara internal sebelum memberikan komentar publik. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga fokus tim menjelang seri berikutnya di Madrid, di mana tekanan akan kembali meningkat.
Di sisi lain, kemenangan Antonelli juga menyoroti kecerdasan strategi Mercedes. Keputusan untuk tidak memanggil Russell ke pit saat virtual safety car (VSC) dipertanyakan, tetapi analisis tim menunjukkan bahwa strategi satu kali pit stop adalah pilihan terbaik. Russell sendiri mengaku tidak berpikir untuk mengganti ban, meski ia sempat kesal dengan timing VSC yang menguntungkan Antonelli. Toto Wolff, prinsipal Mercedes, membela keputusan tersebut dengan mengacu pada simulasi komputer yang menempatkan strategi satu stop lebih unggul.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kemenangan Antonelli menegaskan munculnya generasi baru pebalap Eropa yang agresif dan cerdas. Namun, yang lebih menarik adalah potensi persaingan ketat di sisa musim, terutama dengan hadirnya sirkuit baru Madrid yang dinilai tidak cocok dengan karakter mobil McLaren. Andrea Stella, prinsipal McLaren, mengakui bahwa trek dengan tikungan pendek seperti Madrid mungkin bukan keunggulan mereka, meski ia tetap optimistis. "Kami akan mencoba yang terbaik," ujarnya.
Aston Martin, yang sempat tampil menjanjikan dengan upgrade besar di Hungaria, justru kembali terpuruk di Monza. Meski sasis baru berhasil memangkas waktu lap hingga dua detik, mesin Honda spesifikasi kedua yang baru diperkenalkan belum memberikan peningkatan signifikan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim yang berbasis di Silverstone itu, terutama karena mereka masih tertinggal di klasemen.
Dengan persaingan yang semakin ketat, pertanyaan besarnya adalah: akankah Ferrari mampu menyelesaikan masalah internalnya dan kembali menjadi penantang serius, atau justru semakin terpuruk? Sementara itu, Antonelli tampaknya akan terus menjadi momok bagi para pesaingnya. Akankah ada yang mampu menghentikan lajunya?



