Donnarumma Terlempar dari Daftar Kandidat Yashin Trophy 2026, Dominasi Italia di Gawang Mulai Pudar?
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, nama Gianluigi Donnarumma absen dari nominasi penghargaan kiper terbaik dunia edisi 2026.
- Daftar 10 kandidat Yashin Trophy tahun ini didominasi penjaga gawang dari La Liga dan Premier League, tanpa perwakilan Serie A.
- Absennya Donnarumma memunculkan pertanyaan tentang regenerasi kiper Italia dan perubahan standar penilaian performa kiper global.

Gianluigi Donnarumma, kiper andalan Paris Saint-Germain dan kapten tim nasional Italia, harus merelakan posisinya dalam daftar nominasi Yashin Trophy 2026. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, nama kiper berusia 27 tahun itu tidak tercantum dalam daftar 10 penjaga gawang terbaik dunia yang dirilis Selasa pagi waktu setempat. Ini menjadi sinyal pergeseran peta kekuatan kiper elite Eropa, sekaligus pukulan telak bagi kebanggaan sepak bola Italia yang selama ini identik dengan tradisi kiper kelas dunia.
Daftar nominasi tahun ini memang mengejutkan. Tidak ada satu pun perwakilan dari Serie A atau pemain berpaspor Italia. Sebagai gantinya, nama-nama seperti Thibaut Courtois (Real Madrid), Emiliano Martinez (Aston Villa), dan David Raya (Arsenal) justru mendominasi. Kehadiran kiper-kiper muda seperti Joan Garcia dari Barcelona dan Matvey Safonov dari PSG juga menandai babak baru dalam regenerasi posisi penjaga gawang. Sementara itu, kiper-kiper dari liga di luar lima besar Eropa, seperti Yassine Bounou (Al-Hilal) dan Edouard Mendy (Al-Ahli), tetap diperhitungkan berkat performa konsisten di kompetisi Asia dan Afrika.
Bagi Donnarumma, ini adalah kemunduran signifikan. Pada 2025, ia baru saja dinobatkan sebagai kiper terbaik dunia setelah membawa PSG meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Ia juga menjadi salah satu dari dua kiper yang pernah memenangkan penghargaan ini dua kali, bersama Emiliano Martinez. Namun, penampilannya yang kurang konsisten sepanjang musim 2025-2026, termasuk sejumlah blunder di laga-laga krusial, tampaknya menjadi pertimbangan utama para juri.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan tren sepak bola modern. Klub-klub besar kini lebih mengutamakan kiper yang mampu bermain dengan kaki (sweeper keeper) dan memiliki distribusi bola akurat, bukan sekadar penyelamat ulung. Donnarumma, meski masih tangguh dalam satu lawan satu, dinilai kurang menonjol dalam aspek tersebut dibandingkan Courtois atau Raya. Analis sepak bola Italia, Marco Rossi, menilai bahwa standar penilaian penghargaan ini telah bergeser. "Yashin Trophy kini tidak hanya mengukur refleks atau penyelamatan, tetapi juga kontribusi dalam membangun serangan. Donnarumma mungkin masih hebat, tetapi ia tidak lagi dianggap sebagai inovator di posisinya," ujarnya.
Bagi Indonesia, berita ini relevan dalam konteks perkembangan sepak bola nasional. Ketergantungan pada kiper asing di Liga 1 sering kali mengorbankan pengembangan kiper lokal. Padahal, sejarah membuktikan bahwa kiper-kiper hebat lahir dari kompetisi domestik yang kuat. Jika Italia saja mulai kehilangan pamor di level global, Indonesia perlu mengambil pelajaran bahwa investasi pada pembinaan kiper muda harus menjadi prioritas, bukan sekadar membeli pemain asing siap pakai. Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) bisa mencontoh pendekatan klub-klub Eropa yang memberikan menit bermain kepada kiper muda di liga domestik, seperti yang dilakukan Barcelona dengan Joan Garcia.
Ke depan, tantangan bagi Donnarumma adalah membuktikan bahwa dirinya masih layak disebut yang terbaik. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara, ia memiliki panggung sempurna untuk membungkam kritik. Namun, pertanyaannya adalah: apakah ia mampu beradaptasi dengan tuntutan sepak bola modern, atau justru akan tergusur oleh generasi baru kiper yang lebih serba bisa? Bagi Italia, absennya Donnarumma dari daftar ini mungkin menjadi alarm untuk segera melakukan regenerasi di posisi penjaga gawang, mengingat usia kiper cadangan mereka pun sudah tidak muda lagi.



