Ranieri dan Mancini Siap Pimpin Restorasi Timnas Italia Setelah Kegagalan Proyek Maldini
Baca dalam 60 detik
- Klub sepak bola Italia tengah bersiap menyambut kembalinya Roberto Mancini ke kursi pelatih nasional, kali ini didampingi Claudio Ranieri sebagai direktur teknis.
- Proyek anyar yang digagas Paolo Maldini dan Leonardo kandas dalam waktu dua pekan karena penolakan FIGC terhadap Andrea Pirlo yang terafiliasi bandar judi Rusia.
- Duet Ranieri-Mancini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Azzurri setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022 dan ketidakstabilan di pucuk pimpinan.

Badan sepak bola Italia (FIGC) dikabarkan tengah merancang ulang struktur kepelatihan tim nasional dengan menggandeng dua nama besar: Claudio Ranieri sebagai direktur teknis dan Roberto Mancini sebagai pelatih kepala. Langkah ini muncul setelah proyek singkat bersama Paolo Maldini dan Leonardo runtuh dalam waktu kurang dari dua minggu.
Menurut sejumlah sumber di Italia, termasuk Sky Sport Italia, Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ akan segera mengusulkan Mancini dalam rapat federal yang berlangsung di Roma. Kehadiran Ranieri sebagai direktur teknis menjadi paket yang sulit dipisahkan, mengingat pengalaman keduanya di level tertinggi sepak bola Eropa. Keputusan ini diambil setelah manajemen FIGC menolak menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih karena perannya sebagai duta merek untuk perusahaan taruhan Rusia.
Kegagalan proyek Maldini-Lionardo menjadi pukulan telak bagi upaya regenerasi timnas Italia. Baru dua pekan berjalan, ambisi membangun era baru kandas setelah FIGC menganggap Pirlo tidak layak secara etika. Mantan bek Juventus, Giorgio Chiellini, sempat digadang-gadang mengisi posisi direktur teknis, namun ia menegaskan tetap bertahan di klubnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika internal FIGC ini menjadi pelajaran berharga. Kasus penolakan Pirlo yang terkait dengan industri judi mengingatkan pada kebijakan FIFA dan PSSI yang ketat terhadap afiliasi sponsor perjudian. Di Indonesia, regulasi serupa diterapkan untuk menjaga integritas kompetisi, meski tantangan dari iklan judi online masih kuat. Selain itu, kolaborasi antara pelatih senior dan direktur teknis seperti Ranieri-Mancini bisa menjadi model adopsi klub-klub Indonesia yang kerap berganti pelatih tanpa visi jangka panjang.
Mancini bukan nama asing di kursi panas Azzurri. Pelatih berusia 59 tahun itu sebelumnya sukses membawa Italia menjuarai Piala Eropa 2020 sebelum tiba-tiba mengundurkan diri pada 2023 untuk menangani tim nasional Arab Saudi. Kini, kembalinya Mancini bersama Ranieri diharapkan mampu meramu kembali skuad Italia yang sempat terseok-seok setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
Pertanyaan besarnya: apakah duet ini sanggup mengulang sukses era 2020? Atau justru akan kembali terjerat konflik internal seperti kegagalan proyek Maldini? Dengan kualifikasi Euro 2028 yang sudah di depan mata, FIGC tidak punya banyak waktu untuk membangun kembali fondasi tim.



