Kiper 18 Tahun Tempuh 2.000 Mil dengan Van untuk Cari Klub, Berakhir di Italia
Baca dalam 60 detik
- Milo Beimers, eks kiper Glentoran, berkeliling Eropa selama 30 hari bersama ayahnya menggunakan van untuk mencari klub baru.
- Perjalanan berisiko itu membawanya menandatangani kontrak dengan Viterbese, klub Serie D Italia, setelah melalui serangkaian uji coba.
- Kisah Beimers menyoroti cara tak lazim bagi pesepak bola muda untuk menembus industri yang kompetitif, menginspirasi pemain lain untuk proaktif mencari peluang.

Milo Beimers, kiper muda asal Kanada, akhirnya menemukan pelabuhan baru setelah menempuh perjalanan darat sejauh 2.000 mil dari Belfast menyusuri Eropa. Remaja berusia 18 tahun itu resmi bergabung dengan Viterbese, klub Serie D Italia, setelah 30 hari hidup berpindah-pindah dalam sebuah van bersama ayahnya.
Keputusan Beimers meninggalkan Glentoran, klub yang membesarkannya sejak usia 13 tahun, bukanlah langkah yang diambil dengan mudah. Alih-alih menunggu tawaran datang, ia memilih berkeliling Spanyol dan Portugal dengan membawa daftar uji coba yang tidak pasti. Rencana awalnya memang sederhana: mencoba peruntungan di beberapa klub, tetapi tanpa jaminan satu pun akan menerimanya.
Perjalanan itu penuh dinamika. Beimers sempat menjalani trial di Hercules, Spanyol, lalu terbang ke London untuk kesempatan lain, sebelum akhirnya sebuah panggilan telepon mengarahkannya ke Italia. Di sana, ia mengikuti uji coba selama sebulan dan berhasil meyakinkan manajemen Viterbese untuk merekrutnya. "Ada banyak suka dan duka, tetapi pada akhirnya semuanya berbuah manis dan risiko itu terbayar," ujarnya kepada BBC Sport.
Viterbese, yang berbasis di kota bersejarah dekat Roma, memang tengah berjuang bangkit setelah terdegradasi ke Serie D musim lalu. Klub ini bahkan telah bergabung dengan Vigor Campagnano Gialloblu untuk musim baru, namun identitas Viterbese tetap melekat. Beimers mengaku tertarik dengan ambisi klub untuk kembali ke Serie C, serta fasilitas yang ditawarkan, termasuk stadion berkapasitas 7.000 penonton. "Mereka punya sejarah panjang, dan orang-orang di dalamnya sangat hangat. Saya sangat peduli dengan suasana di luar lapangan," katanya.
Debutnya bersama Viterbese langsung menuai hasil manis. Pada laga akhir pekan lalu, Beimers berhasil menjaga gawangnya tetap perawan dalam kemenangan telak 4-0 atas Anagni. Ia pun mulai memimpikan pertandingan-pertandingan besar, seperti menghadapi Napoli, Roma, atau raksasa Milan di ajang Coppa Italia. "Itu akan luar biasa. Saya bahkan belum bisa memprosesnya," tuturnya.
Di balik kesuksesan itu, Beimers juga jujur tentang sisi kelam perjalanan ini. Jauh dari keluarga dan teman, ia mengaku kerap merasa kesepian dan homesick. "Saya merindukan teman dan keluarga, sulit berada jauh dari mereka. Ada juga ketidakpastian tentang masa depan," ungkapnya. Melalui media sosial, ia sengaja membagikan momen-momen sulit tersebut, bukan hanya sisi gemerlapnya. "Penting untuk menunjukkan bahwa ini tidak mudah, bahkan ketika terlihat menyenangkan," tambahnya.
Perjalanan ini juga menjadi ajang mempererat hubungan ayah-anak. Kevin Beimers, seorang desainer video game asal Kanada, disebut sebagai "orang yang tepat" untuk menemani petualangan ini. Meski sempat diwarnai argumen kecil, Beimers mengaku hubungan mereka semakin dekat. "Dia bagian besar dari hidup saya," katanya.
Kini, Beimers harus beradaptasi dengan gaya sepak bola Italia yang berbeda, mulai dari teknik menangkap bola hingga cara menghadapi tendangan sudut. Ia juga tengah belajar bahasa Italia, karena sebagian besar rekan setimnya tidak fasih berbahasa Inggris. "Sepak bola adalah bahasa universal. Bukan soal kata-kata, tapi bagaimana kita menyampaikannya," ujarnya.
Kisah Beimers menjadi pengingat bahwa di tengah persaingan ketat industri sepak bola, kreativitas dan keberanian mengambil jalan tak biasa bisa menjadi pembeda. Ia berharap pengalamannya menginspirasi pemain muda lain untuk tidak menunggu peluang, melainkan menciptakannya sendiri. "Jika peluang tidak datang padamu, kamu harus membuatnya sendiri," tegasnya.
Namun, pertanyaan besarnya kini: apakah langkah berani Beimers akan menjadi tren baru di kalangan pesepak bola muda yang kesulitan mendapatkan klub? Atau justru menjadi pengingat bahwa jalan pintas pun tetap membutuhkan kerja keras dan ketahanan mental? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: Beimers telah membuktikan bahwa mimpi bisa dikejar, bahkan dari atas sebuah van.



