Tradisi Berburu Paus Lamalera di Ujung Tanduk: Antara Warisan dan Tekanan Zaman
Baca dalam 60 detik
- Desa Lamalera di Lembata, NTT, mencatat hasil tangkapan paus sperma yang terus menurun, dari tiga ekor pada 2025 menjadi hanya satu ekor hingga Juli tahun ini.
- Perburuan tradisional ini diakui sebagai warisan budaya, namun belum diajukan ke UNESCO, sementara para tetua berharap status tersebut dapat melindungi masa depannya.
- Globalisasi dan berkurangnya minat generasi muda untuk melaut menjadi tantangan baru bagi kelestarian tradisi yang telah berusia berabad-abad ini.

Di tengah gempuran modernisasi, sebuah desa terpencil di pesisir selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih mempertahankan ritual berburu paus yang diwariskan turun-temurun. Namun, tradisi yang telah menjadi identitas komunitas Lamalera ini kini menghadapi ujian berat: hasil tangkapan yang kian menipis dan generasi muda yang mulai enggan meneruskan profesi berisiko tinggi tersebut.
Lamalera, yang dihuni sekitar 1.600 jiwa, dikenal luas karena praktik perburuan paus subsisten yang telah berlangsung berabad-abad. Berbeda dengan perburuan komersial, aktivitas ini dilakukan semata untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga keseimbangan sosial. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengakui tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya nasional, namun langkah untuk mendapat pengakuan internasional dari UNESCO belum juga direalisasikan.
Musim berburu tahunan dimulai setiap 1 Mei, tetapi persiapannya telah dimulai jauh sebelumnya melalui serangkaian upacara adat. Tobu Neme Fate, misalnya, merupakan ritual sakral yang digelar pada 29 April untuk memohon rekonsiliasi dan keselamatan. Menurut tokoh adat Vincentius Geleka Bataona, upacara ini wajib dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud persatuan sebelum melaut. Keesokan harinya, klan Langowujon melakukan ritual Ie Gerek yang dipercaya dapat memanggil roh paus, dilanjutkan dengan doa bagi nelayan yang gugur di laut.
Pada puncaknya, Misa Leva digelar di pantai untuk memberkati perahu tradisional peledang dan tombak. Pastor Fransiskus Xavenius Heaven menilai perpaduan antara agama Katolik dan tradisi lokal ini menjadi kekuatan besar bagi masyarakat Lamalera. Sejak misionaris Katolik tiba pada 1886, agama justru beradaptasi dengan kearifan lokal, bukan menggantikannya. Hal ini tercermin dari cara Gereja mengakomodasi ritual-ritual leluhur dalam kehidupan keagamaan sehari-hari.
Namun, di balik kemegahan ritual, terdapat risiko yang mengancam nyawa. Para lamafa atau juru tombak harus rela menceburkan diri ke laut untuk menancapkan tombak bambu ke tubuh paus, tanpa bantuan teknologi modern. Benjamin Keleka Tapoona, salah satu lamafa muda, mengaku ketakutan terbesarnya adalah terlilit tali pusat penarik. "Ekor paus bisa menyabet kru. Beberapa orang tewas, lainnya cedera parah. Baru-baru ini seorang kakek kehilangan kaki karena talinya," ungkapnya.
Ketergantungan pada hasil laut tidak hanya soal daging, tetapi juga sistem barter yang masih bertahan. Di pasar tradisional Wulandoni, warga Lamalera menukarkan ikan atau daging paus dengan hasil bumi. Maria Gasparine Kremo, yang berjalan kaki dua jam setiap pekan, menegaskan bahwa uang bukanlah syarat utama. Satu potong daging paus segar bisa ditukar dengan enam buah pisang, sementara daging kering senilai dua belas ubi jalar.
Sayangnya, keberuntungan semakin jarang berpihak. Matheus Gilo Bataona, kepala Desa Lamalera B, mengakui bahwa hasil tangkapan seringkali tidak mencukupi kebutuhan. "Pada 2018 atau 2019, kami pernah menangkap tujuh ekor dalam sehari, tetapi itu tidak terjadi lagi," katanya. Para nelayan pun terpaksa beralih menangkap lumba-lumba, ikan pilot, dan hiu untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Para konservasionis mulai menyuarakan perlunya batas tangkap yang hati-hati. Putu Liza Mustika, dosen ilmu lingkungan di James Cook University, mencontohkan diskusi tentang kuota tahunan, misalnya 10 ekor menurut ilmuwan versus 20 ekor menurut masyarakat. "Itulah diskusi yang perlu kita lakukan," tegasnya. Di sisi lain, pemerintah daerah berupaya mengurangi ketergantungan warga pada mamalia laut dengan menyediakan perahu nelayan modern. Namun, Hadi Umar, kepala dinas perikanan Lembata, menyadari bahwa perubahan pola pikir generasi tua hingga muda membutuhkan waktu.
Globalisasi perlahan mengikis minat anak muda Lamalera untuk menjadi nelayan. Marianus Yakobus Rubo Bataona, misalnya, memilih kuliah di bidang bimbingan konseling daripada meneruskan tradisi keluarga. "Impian saya menjadi lamafa memudar karena orang tua melarang saya melaut. Itu cara mereka melindungi saya," ujarnya. Kisah pilu Ignasius Seran Blikololong, yang kehilangan putra bungsunya dalam perburuan, menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah tradisi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah Lamalera mempertahankan warisan budayanya tanpa mengorbankan nyawa dan keberlanjutan ekosistem? Atau justru pengakuan UNESCO akan menjadi penyelamat dengan membuka peluang ekowisata yang lebih terkontrol? Jawabannya bergantung pada kemampuan masyarakat beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.



