Pentagon Kucurkan Dana Hampir US$7 Miliar ke Oracle: Langkah Besar Efisiensi Software Militer AS
Baca dalam 60 detik
- Kontrak senilai hampir US$7 miliar selama 10 tahun ditandatangani Pentagon dengan Oracle untuk menyatukan lisensi perangkat lunak yang sebelumnya terfragmentasi.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi Chief Information Officer Pentagon, Kirsten Davies, yang sebelumnya juga mengamankan kontrak serupa dengan Microsoft senilai US$9,69 miliar.
- Penghematan diperkirakan mencapai US$441 juta, namun kontrak ini juga menyoroti hubungan dekat pendiri Oracle, Larry Ellison, dengan Presiden Donald Trump.

Pentagon mengumumkan perjanjian senilai hampir US$7 miliar dengan Oracle untuk mengonsolidasikan lisensi perangkat lunak on-premises di seluruh departemen pertahanan Amerika Serikat. Kontrak berdurasi hingga sepuluh tahun ini menjadi langkah terbaru dalam upaya efisiensi pengeluaran teknologi informasi militer yang selama ini dinilai boros akibat pembelian terpecah-pecah.
Perjanjian yang dinegosiasikan oleh Departemen Angkatan Laut ini mencakup seluruh Pentagon, termasuk Coast Guard dan komunitas intelijen. Dalam pernyataan resmi, Chief Information Officer Pentagon Kirsten Davies menegaskan bahwa integrasi ini akan menghemat setidaknya US$441 juta dari dana pembayar pajak. "Dengan secara fundamental memperbaiki cara kami membeli kemampuan Oracle on-premises, kami mendorong penghematan sekaligus melayani para prajurit secara lebih cepat dan efektif," ujar Davies.
Langkah ini bukan yang pertama. Pada Mei lalu, kantor Davies juga menandatangani kontrak serupa dengan Microsoft senilai US$9,69 miliar selama lima tahun. Kesepakatan itu menyatukan lisensi Microsoft dan perangkat lunak perusahaan lainnya yang sebelumnya tersebar di berbagai layanan militer, komunitas intelijen, dan Coast Guard ke dalam satu kontrak tunggal. Dua perjanjian ini menandai dorongan besar di bawah kepemimpinan Davies untuk mengendalikan pengeluaran perangkat lunak yang duplikatif selama bertahun-tahun.
Konteks Indonesia: Konsolidasi pengadaan perangkat lunak seperti yang dilakukan Pentagon bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah Indonesia, yang juga kerap menghadapi fragmentasi pembelian lisensi di berbagai kementerian dan lembaga. Dengan total belanja teknologi informasi pemerintah yang terus meningkat, adopsi model enterprise-wide agreement berpotensi menekan kebocoran anggaran dan meningkatkan interoperabilitas sistem. Namun, tantangan koordinasi antarinstansi dan risiko ketergantungan pada satu vendor perlu diantisipasi.
Menariknya, kontrak Oracle ini juga menyoroti hubungan dekat antara pendiri Oracle, Larry Ellison, dengan Presiden AS Donald Trump. Meskipun Davies menekankan aspek efisiensi, pengamat menilai bahwa kedekatan Ellison dengan Gedung Putih bisa menjadi faktor yang memperlancar negosiasi. Namun, Pentagon membantah adanya pengaruh politik dalam keputusan pengadaan.
Ke depan, keberhasilan konsolidasi ini akan diukur dari realisasi penghematan dan peningkatan efektivitas operasional militer. Pertanyaan yang mengemuka: apakah model ini akan diperluas ke sektor lain di pemerintahan AS, dan bagaimana dampaknya terhadap persaingan vendor teknologi seperti Amazon Web Services atau Salesforce yang juga mengincar kontrak serupa?



