Honda dan Nissan Sepakat Kembangkan OS Bersama untuk Mobil Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Honda dan Nissan akan bersama-sama mengembangkan sistem operasi kendaraan generasi berikutnya dengan basis OS milik Nissan.
- Langkah ini diambil untuk mempercepat pengembangan software-defined vehicle dan menekan biaya produksi lewat standardisasi.
- Kesepakatan formal ditargetkan rampung pada Agustus, sebagai respons terhadap dominasi Tesla dan produsen China di segmen kendaraan listrik.

Dua raksasa otomotif Jepang, Honda Motor Co. dan Nissan Motor Co., memutuskan untuk mengembangkan sistem operasi (OS) bersama yang akan menjadi inti kendaraan generasi mendatang. Keputusan ini diambil untuk mempercepat inovasi dan bersaing dengan pemimpin pasar dari Amerika Serikat dan China.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, OS yang dikembangkan akan mengadopsi platform milik Nissan sebagai basis. Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya standarisasi yang selama ini terhambat karena masing-masing perusahaan memiliki sistem operasi sendiri. Sebelumnya, upaya penyatuan OS sempat mandek karena kekhawatiran akan sulitnya mengembalikan biaya pengembangan jika sistem diseragamkan.
Perusahaan juga berencana untuk berbagi unit kontrol elektronik (ECU), yang berfungsi mengelola berbagai sistem kendaraan berdasarkan instruksi dari OS. Kesepakatan formal diperkirakan akan ditandatangani pada awal Agustus mendatang. Selain itu, kedua perusahaan sempat mempertimbangkan opsi Nissan memproduksi kendaraan Honda di Amerika Serikat, namun prioritas saat ini tetap pada pengembangan kendaraan generasi berikutnya.
Kendaraan generasi baru yang dikenal sebagai software-defined vehicle (SDV) memiliki kemampuan menerima pembaruan perangkat lunak melalui internet. Fitur ini memungkinkan penambahan fungsi seperti kemampuan mengemudi otonom tanpa harus mengubah perangkat keras. Persaingan di segmen ini semakin ketat, terutama dari Tesla Inc. asal AS dan produsen China seperti BYD yang gencar mengembangkan teknologi serupa.
"Menyatukan OS memungkinkan kedua perusahaan menekan biaya dan mempercepat pengembangan kendaraan yang lebih kompetitif," ungkap seorang sumber yang dekat dengan negosiasi.
Konteks Indonesia: Sebagai basis produksi otomotif regional, Indonesia diprediksi akan merasakan dampak dari kolaborasi ini. Pabrik perakitan Honda dan Nissan di Tanah Air berpotensi menjadi salah satu lokasi produksi kendaraan dengan OS baru tersebut. Namun, adopsi SDV juga menuntut kesiapan infrastruktur digital dan regulasi, termasuk over-the-air update dan standar keamanan siber. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi agar industri otomotif nasional tidak tertinggal dalam ekosistem kendaraan yang semakin terhubung.
Ke depan, keberhasilan proyek ini akan sangat menentukan peta persaingan di pasar otomotif global. Akankah langkah standarisasi OS ini menjadi jawaban bagi produsen Jepang untuk menghadapi gempuran Tesla dan rival China? Atau justru muncul hambatan teknis dan biaya baru? Yang jelas, industri otomotif sedang berubah cepat, dan Indonesia harus siap menjadi bagian dari rantai pasok teknologi masa depan.



