Sekolah Tinggi Singapura Geser Fokus dari STEM ke STEAM: Apa Artinya bagi Lulusan Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Permintaan pendidikan STEAM di Singapura melonjak 47% dalam dua tahun terakhir, menandai pergeseran dari fokus teknis ke keterampilan kreatif dan sosial.
- Universitas-universitas seperti SUTD dan SMU mengintegrasikan seni dan humaniora ke dalam kurikulum teknologi untuk menjawab kebutuhan pasar kerja era AI.
- Tren ini menjadi sinyal bagi Indonesia untuk menyeimbangkan kurikulum pendidikan tinggi dengan soft skills, agar lulusan siap bersaing di tengah otomatisasi.

Lembaga pendidikan tinggi di Singapura tengah mengubah haluan kurikulum dari penekanan pada STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) menuju STEAM yang menambahkan seni ke dalamnya. Pergeseran ini bukan sekadar tren, melainkan respons atas semakin cerdasnya kecerdasan buatan (AI) yang mengambil alih tugas-tugas teknis dan rutin, sehingga keterampilan seperti kreativitas, empati, dan pemecahan masalah menjadi semakin bernilai.
PSB Academy, salah satu institusi pendidikan swasta di Singapura, mencatat lonjakan permintaan program STEAM hingga 47 persen dalam dua tahun terakhir. Jumlah mahasiswa di program ini naik dari sekitar 3.400 pada 2023 menjadi 5.000 pada tahun lalu. CEO PSB Academy, Derrick Chang, mengungkapkan bahwa pendorong utama permintaan ini adalah keinginan mahasiswa untuk memperluas keahlian di luar bidang studi utama mereka. Mahasiswa teknik, misalnya, kini tertarik mengasah kemampuan desain dan komunikasi, sementara mereka yang berlatar non-teknis perlu merasa nyaman menggunakan AI.
“Era di mana seorang teknisi hanya mengandalkan keahlian teknis sudah berakhir. Insinyur masa kini dan masa depan harus mampu mengomunikasikan pemikiran dan inovasinya,” ujar Chang. Ia menegaskan bahwa kemampuan multidisiplin menjadi kunci bertahan di ekonomi baru yang tidak lagi berjalan pada satu jalur tunggal. Untuk mendukung visi ini, PSB Academy sedang membangun Integrated STEAM Hub di Tai Seng yang ditargetkan rampung pada 2027, dengan ruang belajar interdisipliner dan fasilitas berteknologi tinggi.
Pergeseran serupa juga terjadi di Singapore University of Technology and Design (SUTD). Universitas ini memperbarui kurikulumnya untuk menarik mahasiswa yang berminat pada ekonomi, bisnis, psikologi, dan filsafat, di samping mereka yang kuat di matematika dan sains. Dr. Grace Dixon, asisten kepala program di SUTD, menekankan bahwa mata kuliah humaniora tidak boleh dipandang sekadar “soft skills” pelengkap gelar teknik. Sebaliknya, mata kuliah tersebut membantu mahasiswa memahami konteks dan masalah yang hendak dipecahkan sebelum menggunakan desain dan AI. “Pertanyaannya bukan hanya ‘bisakah kita melakukan ini’, tetapi ‘haruskah kita’, untuk siapa, dan dalam kondisi apa? Jika kerangka masalahnya salah, solusi teknis yang hebat pun bisa keliru sasaran,” katanya. SUTD juga menyediakan platform investasi senilai S$35 juta (sekitar US$27,6 juta) untuk mendanai proyek kewirausahaan mahasiswa dan alumni.
Di kampus James Cook University Singapura, pendekatan serupa diterapkan melalui fasilitas penetasan ikan barramundi yang meniru kondisi industri akuakultur. Mahasiswa dilatih untuk tanggap terhadap situasi tak terduga, membangun ketahanan dan keterampilan praktis. Profesor Carole-Anne Upton, wakil rektor untuk Singapura, menyebut ketahanan sebagai keterampilan yang sulit diajarkan, tetapi esensial di tengah perubahan dunia kerja. Sementara itu, Singapore Management University (SMU) mengambil langkah lebih literal dengan memulai kursus koreografi tari yang mengeksplorasi budaya dan identitas Singapura. Profesor Mark Chong dari SMU menjelaskan bahwa tari, jika dipadukan dengan kajian intelektual, dapat menjadi sarana untuk merenungkan makna multikulturalisme dan identitas nasional—sesuatu yang belum bisa ditiru AI.
Fenomena ini tidak hanya menyentuh calon lulusan, tetapi juga para profesional yang ingin meningkatkan keterampilan. Di Kaplan, sekitar 60 persen mahasiswa Singapura adalah pekerja awal atau menengah. Managing Director Kaplan Singapura, Alex Chevrolle, menjelaskan bahwa perusahaan kini mencari individu yang mampu menginterpretasi informasi dari AI, menganalisisnya, memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti, serta mengomunikasikan dan mengadvokasi wawasan tersebut kepada kolega. Hal serupa terjadi di Management Development Institute of Singapore (MDIS), di mana lebih dari separuh mahasiswanya adalah pekerja dewasa. Kampus baru MDIS tahun depan akan dilengkapi alat digital untuk memicu kreativitas, sambil mempertahankan pembelajaran tatap muka. MDIS juga beralih dari ujian terpusat ke penugasan berbasis masalah bisnis nyata.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan pelajaran berharga. Meskipun pemerintah Indonesia gencar mendorong penguasaan STEM, terutama di era industri 4.0, kebutuhan akan keterampilan lunak seperti komunikasi, empati, dan kemampuan berpikir kritis tidak bisa diabaikan. Kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia perlu menyeimbangkan aspek teknis dengan humaniora agar lulusan tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dan memimpin di tengah perubahan. Investasi dalam pengembangan soft skills, baik melalui mata kuliah khusus maupun kegiatan ekstrakurikuler, menjadi krusial untuk menyiapkan tenaga kerja yang tangguh.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah institusi pendidikan akan mengadopsi pendekatan STEAM, tetapi seberapa cepat mereka dapat beradaptasi. Dengan AI yang terus berkembang, nilai manusia justru terletak pada kreativitas, penilaian etis, dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Apakah Indonesia siap menjawab tantangan ini?



