Nvidia dan SK Group Gelontorkan Rp8.000 Triliun untuk Proyek Pusat Data AI Global
Baca dalam 60 detik
- Nvidia dan SK Group mengumumkan investasi lebih dari US$500 miliar untuk membangun pusat data AI raksasa dan mengembangkan memori generasi terbaru.
- Kemitraan ini mencakup SK Hynix sebagai pemasok eksklusif memori HBM4 untuk Nvidia, serta pembangunan pusat data 2GW oleh SK Telecom yang akan beroperasi pada 2027.
- Langkah ini memperkuat dominasi Nvidia di pasar AI dan berpotensi memengaruhi ketersediaan infrastruktur AI di Asia, termasuk Indonesia.

Nvidia dan konglomerat Korea Selatan SK Group meluncurkan inisiatif bersama senilai lebih dari US$500 miliar atau sekitar Rp8.000 triliun untuk membangun pusat data AI berskala besar dan mengembangkan memori berkinerja tinggi, sebuah langkah yang diproyeksikan akan mengubah lanskap komputasi AI global. Proyek ini mencakup kerja sama jangka panjang dengan SK Hynix dalam pengembangan memori HBM4 dan pembangunan fasilitas pusat data bertenaga 2 gigawatt (GW) yang akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
Dalam pengumuman yang dirilis Jumat lalu, Nvidia menyatakan bahwa SK Telecom, anak usaha SK Group, akan bertanggung jawab membangun pusat data tersebut dengan daya 2 GW menggunakan chip Vera Rubin milik Nvidia dan memori HBM4 dari SK Hynix. Tahap pertama diperkirakan mulai beroperasi pada 2027. Inisiatif ini juga mencakup perluasan pusat data Naver di Korea Selatan yang melibatkan perusahaan investasi Brookfield.
Kemitraan ini tidak hanya soal pasokan memori, tetapi juga riset bersama untuk aplikasi AI seperti pelatihan model AI, agen AI, dan AI fisik (physical AI). Menurut analis industri, kerja sama ini memperkokoh posisi Nvidia sebagai pemasok utama infrastruktur AI di tengah persaingan ketat dengan AMD dan perusahaan rintisan seperti Cerebras. Di sisi lain, SK Hynix dipastikan menjadi pemasok eksklusif HBM4 untuk Nvidia, mengalahkan Samsung yang juga berlomba di segmen memori AI.
Bagi Indonesia, proyek ini menjadi sinyal bahwa permintaan akan pusat data AI terus melonjak. Dengan Korea Selatan sebagai salah satu hub AI Asia, keterlibatan Nvidia dan SK Group bisa memicu investasi serupa di negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia, yang tengah mendorong pembangunan pusat data dan ekosistem AI nasional, perlu mencermati model kolaborasi ini sebagai referensi. Kepala Pusat Studi AI Universitas Indonesia, Prof. Budi Rahardjo, yang dihubungi LyndHub, menilai bahwa langkah Nvidia-SK Group menunjukkan skala modal yang dibutuhkan untuk bersaing di era AI. โIndonesia harus mulai berpikir soal kemitraan strategis dengan pemain global, bukan hanya sebagai konsumen,โ ujarnya.
Proyek ini juga menyoroti pentingnya ketersediaan energi dan infrastruktur listrik. Pusat data 2 GW membutuhkan pasokan listrik yang setara dengan dua reaktor nuklir skala sedang. Di Indonesia, pembangkit listrik berbasis batubara masih dominan, sementara pusat data AI umumnya menuntut energi hijau. Hal ini bisa menjadi tantangan jika Indonesia ingin menarik investasi serupa di masa depan.
Ke depan, kesuksesan inisiatif ini akan bergantung pada kemampuan Nvidia dan SK Group merealisasikan pembangunan tepat waktu serta mengelola rantai pasok semikonduktor yang rentan terhadap gangguan geopolitik. Jika berjalan lancar, proyek ini tidak hanya akan memperkuat dominasi Nvidia, tetapi juga memicu pergeseran peta kekuatan industri AI globalโdengan Asia sebagai episentrum barunya. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia siap menangkap peluang di tengah gelombang investasi ini?



