Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman: Misi NASA yang Siap Menguak Misteri Terbesar Alam Semesta
Baca dalam 60 detik
- Teleskop Nancy Grace Roman akan diluncurkan pada akhir Agustus dari Florida, delapan bulan lebih cepat dari jadwal dan di bawah anggaran.
- Dengan bidang pandang 100 kali lebih luas dari Hubble, Roman mampu memetakan miliaran galaksi dan menguji apakah energi gelap bersifat konstan atau berubah.
- Misi ini juga akan menggunakan teknik mikrolensing untuk menemukan ribuan planet baru, termasuk planet yang mengorbit jauh dan planet tanpa bintang induk.

NASA bersiap meluncurkan observatorium luar angkasa yang diyakini mampu menjawab sejumlah pertanyaan fundamental dalam astronomi modern. Teleskop Nancy Grace Roman, yang dinamai menurut kepala astronomi pertama NASA dan perempuan eksekutif pertama badan antariksa tersebut, akan mengupas tuntas asal-usul alam semesta, komposisinya, serta evolusinya dari masa ke masa.
Berbeda dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb yang dirancang untuk mengamati objek individual dengan detail luar biasa, Roman justru dibangun untuk melakukan survei langit dalam skala besar. Kemampuan ini memungkinkan para astronom memperoleh gambaran yang jauh lebih luas tentang kosmos dan perubahannya. Menariknya, teleskop ini memiliki sejarah unik: awalnya merupakan satelit mata-mata "cadangan" yang disumbangkan ke NASA oleh badan intelijen Amerika Serikat.
Roman membawa dua instrumen utama. Instrumen medan lebar (wide field instrument) mampu mendeteksi cahaya inframerah, menembus debu kosmik, dan mengamati lebih dalam ke alam semesta. Bidang pandangnya sekitar 100 kali lebih besar dari kamera inframerah Teleskop Hubble, namun dengan ketajaman serupa. Alhasil, survei yang membutuhkan waktu berabad-abad bagi Hubble dapat diselesaikan Roman dalam waktu yang jauh lebih singkat. Instrumen kedua adalah koronagraf, yang berfungsi memblokir silau bintang terang sehingga planet-planet redup di sekitarnya bisa terlihat—seperti menutup mata dari sinar Matahari untuk melihat benda samar di dekatnya.
Salah satu sasaran utama Roman adalah menguji model kosmologi modern yang menyatakan bahwa materi biasa hanya menyusun sebagian kecil alam semesta. Sekitar 25 persen sisanya adalah materi gelap—yang tidak memancarkan atau memantulkan cahaya namun gravitasinya mengikat galaksi—dan 70 persen adalah energi gelap, yang mendorong percepatan ekspansi alam semesta. Selama ini para astronom menganggap energi gelap bersifat konstan, namun hasil penelitian terbaru mengindikasikan bahwa energi gelap bisa berubah seiring waktu. Roman akan menguji kedua skenario ini secara langsung.
Jika energi gelap terbukti konstan, alam semesta akan terus mengembang tanpa batas. Sebaliknya, jika berubah, hal itu bisa mengarah pada penemuan fisika baru di luar teori yang ada. Roman juga diharapkan dapat memecahkan teka-teki mengapa saat ini kepadatan materi dan energi gelap hampir seimbang—sebuah masa transisi yang singkat dalam skala kosmik. Apakah ini kebetulan atau petunjuk penting? Hanya data dari Roman yang bisa menjawabnya.
Di luar energi gelap, Roman akan melakukan survei planet di luar tata surya terbesar yang pernah ada, menggunakan teknik mikrolensing gravitasi. Metode ini memanfaatkan gravitasi bintang di depan untuk membelokkan dan memperbesar cahaya bintang latar, seperti lensa alami. Jika bintang tersebut memiliki planet, maka akan terlihat kilatan kecil tambahan. Dengan cara ini, Roman dapat menemukan planet-planet dengan orbit lebar, planet bermassa rendah, bahkan planet yang mengambang bebas tanpa bintang induk—objek yang sulit dideteksi dengan metode transit atau kecepatan radial.
Roman juga menjadi bagian dari era baru astronomi survei, bersama misi Euclid milik Badan Antariksa Eropa dan Observatorium Vera C. Rubin di Chili. Ketiganya akan memetakan alam semesta dalam berbagai panjang gelombang, jarak, dan skala waktu. Roman akan bekerja sama dengan Teleskop James Webb: Roman mengidentifikasi pola berskala besar dan objek langka, lalu Webb mempelajarinya secara detail. Kombinasi keluasan dan kedalaman ini menjadi kunci astronomi modern.
Dampak terbesar Roman mungkin justru datang dari hal-hal tak terduga. Dengan pengamatan berulang pada area langit yang luas, teleskop ini berpotensi mendeteksi peristiwa langka dan fenomena yang belum pernah terlihat sebelumnya. Bagi para astronom, inilah aspek paling menarik dari misi ini. Roman tidak hanya akan menguji pemahaman kita saat ini, tetapi juga membuka jalan menuju fisika baru.



