Wawancara Langka Patti Smith 1978 Dirilis Ulang, Potret Sang Legenda di Puncak Karier
Baca dalam 60 detik
- Rekaman wawancara Patti Smith tahun 1978 yang tersimpan selama setengah abad akhirnya didigitalisasi dan dirilis ke publik.
- Dalam sesi berdurasi 44 menit itu, Smith membahas album 'Easter' yang baru dirilis serta pandangannya tentang musik dan media.
- Ini adalah bagian dari proyek digitalisasi 500 kaset wawancara musisi legendaris yang akan diunggah secara bertahap.

Setengah abad setelah direkam, wawancara eksklusif bersama Patti Smith—sang ikon punk dan penyair—kini dapat dinikmati publik dalam format digital. Rekaman yang dilakukan jurnalis Rick Sky pada 26 Maret 1978 di Paris itu sebelumnya hanya tersimpan dalam bentuk kaset analog dan belum pernah terdengar di era digital hingga sekarang.
Wawancara berlangsung di Pavillon de Paris, sesaat sebelum Smith naik panggung. Kala itu, ia tengah dalam masa promosi album Easter yang baru dirilis 23 hari sebelumnya. Album tersebut memuat lagu legendaris "Because the Night" yang kemudian menjadi salah satu karya paling ikonik dalam sejarah musik rock. Dalam rekaman berdurasi 44 menit ini, Smith berbicara terbuka tentang proses kreatif, hubungannya dengan media, kehidupan pribadi, serta pandangannya terhadap industri musik yang terus berubah.
Rilisnya wawancara ini merupakan bagian dari proyek ambisius Bang Showbiz yang mendigitalisasi lebih dari 500 kaset wawancara langka dengan musisi dunia. Selain Smith, koleksi tersebut mencakup wawancara bersama Queen, David Bowie, Mick Jagger, dan puluhan nama besar lainnya. Semua rekaman akan diunggah secara bertahap melalui kanal YouTube resmi mereka sepanjang tahun ini.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kehadiran arsip semacam ini membuka jendela langka ke masa lalu industri musik global. Di tengah maraknya konten instan dan algoritma, rekaman analog seperti ini menawarkan kedalaman perspektif yang jarang ditemukan. Smith, yang dikenal dengan gaya puitis dan sikap anti kemapanan, menjadi saksi sekaligus pelaku perubahan budaya pop di akhir 1970-an.
Proyek digitalisasi ini juga menjadi pengingat betapa rentannya warisan budaya terhadap waktu. Banyak kaset wawancara serupa yang rusak atau hilang karena penyimpanan yang tidak memadai. Langkah Bang Showbiz menyelamatkan dan membagikannya secara gratis patut diapresiasi, sekaligus menjadi contoh bagi institusi lain untuk melakukan hal serupa.
Ke depannya, publik dapat menantikan lebih banyak lagi rekaman bersejarah yang akan dirilis. Pertanyaannya, sejauh mana minat generasi muda—yang terbiasa dengan konten berdurasi pendek—terhadap wawancara panjang penuh refleksi seperti ini? Ataukah arsip semacam ini hanya akan menjadi tontonan nostalgia bagi mereka yang hidup di era tersebut?



