Dikira Sam Worthington, Joel Edgerton Pilih Bermain Peran Demi Penggemar
Baca dalam 60 detik
- Aktor Joel Edgerton memilih tidak mengoreksi penggemar yang salah mengidentifikasinya sebagai bintang Avatar, Sam Worthington, dan malah menerima pujian untuk peran tersebut.
- Fenomena mistaken identity juga dialami Jennifer Connelly, yang kerap dikira Demi Moore oleh penggemar hingga harus menunjukkan paspor.
- Kasus kekeliruan identitas seperti ini kerap terjadi di kalangan selebritas global, termasuk di industri hiburan Indonesia, dan sering dihadapi dengan profesionalisme.

Joel Edgerton, aktor yang tengah naik daun lewat serial Dark Matter, memilih memainkan peran lain di luar layar: berpura-pura menjadi Sam Worthington saat seorang penggemar histeris mendekatinya. Kejadian itu berlangsung dalam sebuah pertemuan tatap muka, ketika seorang wanita muda menghampiri Edgerton dengan mata berkaca-kaca, meminta tanda tangan. Tanpa ragu, Edgerton mengabulkan permintaan itu—dan baru tersadar bahwa penggemar tersebut salah orang.
Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Edgerton menceritakan bahwa sang penggemar memuji perannya di Avatar, film yang sebenarnya dibintangi Sam Worthington. Alih-alih meluruskan kesalahan, aktor berusia 52 tahun ini memilih mengucapkan terima kasih dan menerima pujian tersebut. “Saya hanya bilang, ‘Terima kasih, terima kasih.’ Setiap kali orang salah mengidentifikasi saya dengan film tertentu, saya hanya mengucapkan terima kasih,” ujarnya. Edgerton yakin bahwa penggemar itu akhirnya menyadari kesalahannya setelah melihat inisial “J.E.” di tanda tangan.
Fenomena mistaken identity ini tidak hanya menimpa Edgerton. Rekan mainnya di Dark Matter, Jennifer Connelly, juga sering dikira sebagai Demi Moore. Connelly mengisahkan bahwa saat melewati pemeriksaan keamanan, seorang petugas bersikeras bahwa ia adalah Moore, hingga ia harus menunjukkan paspor untuk membuktikan identitas aslinya. “Mereka bilang, ‘Oh my God, kamu Demi Moore.’ Saya jawab, ‘Bukan.’ Mereka tetap ngotot. Akhirnya saya tunjukkan paspor,” kata Connelly. Bahkan, ada penggemar yang mengklaim ia pernah bermain dalam film bersama Brad Pitt—padahal Connelly sama sekali tidak terlibat.
“Mereka bilang, ‘Oh my God, kamu Demi Moore.’ Saya jawab, ‘Bukan.’ Mereka tetap ngotot.” — Jennifer Connelly
Kekeliruan identitas di kalangan artis bukanlah hal langka. Di Indonesia, misalnya, tak jarang penggemar salah mengira antara satu aktor dengan aktor lain yang memiliki kemiripan fisik, seperti antara Raffi Ahmad dan Irwansyah di era 2000-an, atau antara Luna Maya dan Maria Sayang di awal karier. Namun, para selebritas biasanya menyikapinya dengan santai, mengingat risiko mempermalukan penggemar di depan umum. Edgerton sendiri menganggap bahwa kebingungan semacam itu wajar, dan ia memuji Sam Worthington sebagai “pria yang tampan”.
Kisah ini juga menyoroti tantangan psikologis di balik popularitas: penggemar kerap membangun keterikatan emosional yang kuat terhadap aktor, sehingga sulit membedakan antara karakter dan pemeran asli. Menurut psikolog hiburan, fenomena parasocial relationship ini semakin intensif di era media sosial, di mana penggemar merasa “kenal” secara pribadi dengan sang idola. Di Indonesia, tren ini terlihat dari penggemar yang rela antre berjam-jam hanya untuk bertemu artis, meskipun seringkali gagal mengenali wajah asli tanpa riasan atau kostum.
Ke depannya, dengan semakin banyaknya platform streaming dan konten digital, kemungkinan kesalahan identitas justru bertambah. Akankah para aktor terus memilih diam dan bermain peran, atau mulai lebih tegas meluruskan kesalahan? Yang jelas, Edgerton dan Connelly telah menunjukkan bahwa profesionalisme dan empati bisa menjadi jawaban, setidaknya hingga penggemar menyadari sendiri kekeliruan mereka.



