Saga Gantungkan Harapan pada Zombie Land Saga: Anime Jadi Mesin Baru Ekonomi Lokal
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kota Saga mengalokasikan dana khusus untuk kolaborasi dengan anime Zombie Land Saga, menargetkan peningkatan belanja wisatawan.
- Proyek ini diprediksi menghasilkan dampak ekonomi hingga 410 juta yen, dengan dukungan kuat dari penggemar di seluruh Jepang.
- Strategi ini menjadi contoh bagaimana konten populer dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan pariwisata berkelanjutan.

Pemerintah Kota Saga, Jepang barat daya, serius menjadikan anime populer "Zombie Land Saga" sebagai motor penggerak pariwisata. Dalam rancangan anggaran tambahan yang diumumkan pada 25 Agustus, alokasi khusus sebesar 17,84 juta yen (sekitar Rp1,9 miliar) disiapkan untuk proyek kolaborasi dengan waralaba anime yang berlatar kota tersebut.
Langkah ini bukan sekadar seremonial. Kota Saga menganggarkan total 1,629 miliar yen untuk berbagai program pada tahun fiskal 2026, dengan proyek anime menjadi salah satu prioritas. Kolaborasi ini mencakup kerja sama dengan Festival Balon Udara Internasional Saga, Museum Balon Saga, serta perangko rally yang menjangkau seluruh penjuru kota. Bahkan, komitmen finansial hingga tahun fiskal 2027 telah digariskan, menunjukkan keseriusan pemerintah kota dalam menjadikan anime sebagai aset jangka panjang.
Puncak dari strategi ini adalah acara "homecoming" yang dijadwalkan pada 24-25 April 2027 di SAGA Arena, lokasi yang muncul di adegan akhir film "Zombie Land Saga: Yumeginga Paradise". Pemerintah kota berharap dapat menarik penggemar dari berbagai prefektur untuk berkeliling kota dan meningkatkan belanja mereka. Sebelumnya, pada Juli lalu, kota ini telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan komite produksi film anime tersebut, dan meluncurkan bus kota bertema "Franchouchou"—nama grup idola fiktif dalam anime—sebagai proyek perdana.
Antusiasme publik terlihat nyata. Kampanye crowdfunding yang digulirkan melalui program donasi "pajak kampung halaman" sejak 6 Agustus berhasil melampaui target 3 juta yen hanya dalam empat hari. Hingga 24 Agustus, 181 orang telah menyumbang total 3,8 juta yen, dengan mayoritas donatur berasal dari luar Prefektur Saga. Wali Kota Saga, Hidetaka Sakai, mengakui tingginya ekspektasi penggemar terhadap acara tersebut. "Saya merasakan banyak orang yang menantikan acara homecoming dan ingin ikut serta dalam kegembiraan ini," ujarnya dalam konferensi pers.
Pemerintah kota memperkirakan proyek ini akan menghasilkan efek riak ekonomi sekitar 410 juta yen, mencakup belanja akomodasi, makanan, penggunaan bus kolaboratif, serta pengeluaran wisatawan yang berkeliling kota. Sakai menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. "Melalui proyek kolaboratif, kami ingin membangun kegembiraan di seluruh kota dan menciptakan peluang bagi bisnis lokal untuk menghasilkan uang," jelasnya. Ia menambahkan, "Kami ingin mengembangkan proyek terkait secara berkelanjutan, tidak hanya pada hari-hari acara, dan menghubungkannya dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal."
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di tengah upaya menggenjot pariwisata, kolaborasi antara pemerintah daerah dan konten populer seperti anime terbukti mampu menjangkau pasar penggemar yang luas dan loyal. Indonesia, dengan kekayaan budaya dan potensi kreatifnya, dapat mengambil pelajaran dari Saga. Misalnya, pengembangan destinasi berbasis film atau serial populer—seperti yang dilakukan Kota Wae Rebo dengan dokumenter, atau rencana promosi melalui konten kreator—bisa dioptimalkan dengan pendekatan serupa: melibatkan penggemar sejak awal, menawarkan pengalaman eksklusif, dan membangun narasi yang berkelanjutan.
Di luar proyek anime, anggaran tambahan Saga juga mencakup investasi 26 juta yen untuk mendirikan perusahaan listrik lokal yang memanfaatkan energi dari pembakaran sampah, serta 16,5 juta yen untuk renovasi gedung balai kota dengan menambah minimarket di lantai dasar. Ini menunjukkan bahwa pemerintah kota tidak hanya fokus pada pariwisata, tetapi juga pada keberlanjutan infrastruktur dan pelayanan publik.
Ke depan, keberhasilan proyek ini akan diuji pada April 2027. Pertanyaannya, apakah ledakan ekonomi yang diharapkan mampu bertahan setelah euforia acara usai? Pemerintah Saga tampaknya sudah menyiapkan jawaban dengan merancang proyek berkelanjutan. Namun, apakah model ini bisa direplikasi di kota-kota lain yang memiliki potensi serupa? Hanya waktu yang akan membuktikan.



