Jaismine Lamboria: Dari Kapten Cool ke Target Emas Commonwealth Glasgow
Baca dalam 60 detik
- Petinju India Jaismine Lamboria, juara dunia kelas 57 kg, membidik emas Commonwealth Games Glasgow setelah meraih perunggu pada edisi 2022.
- Menjadi perempuan pertama yang direkrut Korps Polisi Militer India, Lamboria mendapat dukungan penuh dari program Mission Olympics Angkatan Darat.
- Inspirasi dari MS Dhoni dan warisan tinju keluarga mendorongnya membuktikan dominasi perempuan di olahraga yang identik dengan maskulinitas.

Jaismine Lamboria datang ke Glasgow Commonwealth Games dengan satu misi: mengubah warna medali perunggu yang ia rebut empat tahun lalu menjadi emas. Petinju kelas 57 kg asal India ini bukan hanya juara dunia, tetapi juga simbol perlawanan terhadap stereotip gender di negara yang baru memasukkan cabang tinju putri dalam pesta olahraga persemakmuran sejak 2014.
Ketenangannya di atas ring kerap dibandingkan dengan legenda kriket MS Dhoni, yang dijuluki 'Captain Cool'. Lamboria mengaku pola pikir mantan kapten timnas India itu menjadi acuannya saat tekanan menumpuk. “Saya ingin setenang dia,” ujarnya. Sikap itu akan diuji saat ia berhadapan dengan petinju-petinju tangguh di Glasgow, setelah sukses di Kejuaraan Dunia Liverpool tahun lalu dengan mengalahkan peraih perak Olimpiade Paris, Julia Atena Szeremeta dari Polandia.
Perjalanan Lamboria menuju puncak tidak mulus. Debut Olimpiade di Paris 2024 berakhir di ronde pertama setelah kalah dari Nesthy Petecio, peraih perak Tokyo 2020. Kekalahan itu menjadi titik balik. Ia kembali ke kelas 57 kg setelah tiga tahun bertinju di 60 kg, sebuah keputusan berisiko yang akhirnya membawanya ke gelar dunia. “Kekecewaan di Paris justru membuka mata saya,” kata Lamboria. “Saya melakukan perubahan fisik dan mental yang signifikan, terutama di Army Sports Institute Pune.”
Pendukung utamanya datang dari institusi yang tak lazim bagi petinju perempuan: Angkatan Darat India. Setelah meraih perunggu di Commonwealth Games Birmingham 2022, Lamboria menjadi petinju perempuan pertama yang direkrut ke dalam Corps of Military Police. Ia kini berlatih di bawah Mission Olympics Wing, program yang juga melahirkan juara Olimpiade lempar lembing Neeraj Chopra. Pada awal 2024, Angkatan Darat bahkan meluncurkan Girls Sports Company untuk melatih remaja putri usia 12-16 tahun di empat cabang olahraga, termasuk tinju. “Saya mungkin yang pertama, tapi bukan yang terakhir,” tegas Lamboria.
Warisan tinju mengalir dalam darahnya. Kakek buyutnya, Hawa Singh, adalah petinju kelas berat pertama India yang merebut medali emas Asian Games berturut-turut pada 1966 dan 1970. Namun, yang paling diingat Lamboria bukanlah medali, melainkan kerendahan hati sang legenda. “Dia kuat, tapi juga rendah hati,” kenangnya. Inspirasi lain datang dari para senior seperti MC Mary Kom, Vijender Singh, hingga atlet lintasan Milkha Singh dan perenang Michael Phelps. Dukungan keluarga sederhana—ayahnya bekerja sebagai satpam, ibunya ibu rumah tangga—menjadikannya perempuan pertama di keluarga inti yang serius menekuni olahraga.
Lamboria sadar dirinya kini menjadi panutan. “Tinju sudah lama dianggap olahraga maskulin. Sebagai petinju perempuan dan tentara, saya ingin membuktikan bahwa kami juga bisa berprestasi di panggung dunia,” ujarnya. Pertandingan tinju putri Commonwealth Games akan berlangsung mulai 24 Juli, dengan final pada 31 Juli dan 1 Agustus. Jika sukses, emas Glasgow bukan hanya medali, tetapi juga pernyataan bahwa generasi baru petinju perempuan India telah tiba. Pertanyaannya, dapatkah Lamboria mengulang momen di Liverpool saat lagu kebangsaan berkumandang? Glasgow akan memberi jawaban.



