Pantler Tak Jadi Tutup: Kue Jepang-Prancis di Singapura Selamat, Pendiri Mundur
Baca dalam 60 detik
- Patisserie Pantler batal tutup setelah 12 tahun beroperasi, dengan pemilik baru yang akan mengambil alih mulai September 2024.
- Para pendiri, Matthias Phua dan Tomoharu Morita, mundur dari bisnis, namun tim inti tetap dipertahankan untuk menjaga kualitas produk.
- Kesetiaan pelanggan yang membanjiri toko menjadi faktor kunci yang mengubah keputusan penutupan menjadi akuisisi.

Patisserie Pantler, toko kue Jepang-Prancis yang telah beroperasi selama 12 tahun di Singapura, membatalkan rencana penutupannya. Melalui unggahan Instagram pada 3 September, manajemen mengumumkan bahwa bisnis akan berlanjut setelah adanya minat dari sejumlah pihak yang ingin mengambil alih atau berinvestasi.
Sejak awal, Pantler telah menjadi destinasi favorit bagi pecinta pastry di Singapura. Dengan resep andalan seperti kue cokelat-hazelnut Yatsura, chou à la crème, dan Swiss roll, toko ini berhasil membangun basis pelanggan setia. Namun, kondisi pasar yang tidak menguntungkan sempat membuat pendiri, Matthias Phua, menyatakan bahwa bisnis ini "tidak berkelanjutan". Rencana penutupan pun diumumkan, dengan tanggal akhir operasional yang semula ditetapkan pada 30 Agustus, kemudian diperpanjang hingga 6 September.
Keputusan untuk tetap beroperasi ini tidak lepas dari respons luar biasa pelanggan. Setelah pengumuman penutupan, antrean panjang terlihat di depan toko di River Valley, dan pesan dukungan membanjiri media sosial. Matthias Phua mengaku terkejut dengan sambutan tersebut. "Saya tahu ada orang yang menyukai Pantler, tetapi melihat antrean dan menerima begitu banyak pesan, catatan pribadi, dan hadiah, itu cukup emosional," ujarnya kepada 8days. Respons ini menyadarkannya bahwa Pantler telah menjadi "lebih dari sekadar bisnis" bagi sebagian pelanggan.
Dalam proses negosiasi, Phua mengaku telah berbicara dengan beberapa calon investor. Ia memilih salah satu yang dianggap paling cocok, meski enggan mengungkapkan identitasnya. "Niatnya adalah agar Pantler tetap berada di River Valley dan terus beroperasi seperti sekarang," tambahnya. Nilai transaksi tidak diungkapkan karena masih dalam proses hukum dan administrasi.
Meskipun pendiri, Matthias Phua dan koki pastry asal Jepang, Tomoharu Morita, akan mundur, sebagian besar tim inti tetap dipertahankan. Sous chef Ling Tian Wei, yang telah mendampingi Morita selama enam tahun, akan terus memproduksi hidangan yang sama. "Akan ada beberapa perubahan seiring waktu ketika pemilik baru menyesuaikan diri, tetapi tidak akan ada perombakan langsung," jelas Phua.
Kisah Pantler menjadi contoh nyata bagaimana loyalitas pelanggan dapat menjadi penyelamat bisnis. Di tengah tren penutupan usaha kecil di berbagai kota, fenomena ini menunjukkan bahwa ikatan emosional antara konsumen dan merek memiliki nilai ekonomi yang nyata. Bagi para pelaku usaha di Indonesia, pelajaran yang dapat diambil adalah pentingnya membangun komunitas yang kuat di sekitar produk, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek.
Meskipun pemilik baru akan membawa "mata segar dan energi baru", tantangan tetap ada. Bagaimana mempertahankan kualitas yang telah menjadi ciri khas Pantler sambil beradaptasi dengan perubahan pasar? Pertanyaan ini akan menjadi ujian bagi kelangsungan bisnis dalam jangka panjang. Ke depannya, publik akan menantikan inovasi apa yang akan dibawa oleh kepemilikan baru tanpa menghilangkan esensi yang membuat Pantler dicintai.



