Ditikung Sahabat dan Suami, Shania Twain Tetap Percaya Cinta di Usia 60
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi country Shania Twain mengaku butuh waktu hingga usia 60 tahun untuk benar-benar memahami arti cinta setelah dikhianati suami dan sahabatnya.
- Ia menikahi mantan suami sahabatnya yang juga menjadi korban perselingkuhan, membuktikan bahwa luka bisa sembuh dengan keberanian untuk memulai lagi.
- Lewat album terbaru 'Little Miss Twain', Shania mendokumentasikan perjalanan emosionalnya dari masa kecil hingga menjadi bintang global.

Shania Twain menolak membiarkan pengkhianatan mantan suaminya memupus keyakinannya pada cinta. Di usia 60 tahun, pelantun "Man! I Feel Like a Woman!" ini justru menemukan keberanian untuk kembali jatuh cinta dan menikah dengan pria yang pernah menjadi suami dari sahabat yang mengkhianatinya.
Kisah pilu itu bermula pada 2008, ketika pernikahan Shania dengan produser rekaman Robert "Mutt" Lange yang telah berlangsung 14 tahun hancur. Lange berselingkuh dengan Marie-Anne Thiebaud, sahabat sekaligus asisten pribadi Shania. Pengkhianatan ganda ini menghancurkan hatinya, namun tidak menghilangkan harapannya pada cinta.
"Cinta itu menakutkan, tetapi semua tentang risiko. Anda tidak akan pernah tahu ke mana akhirnya," ujar Shania dalam wawancara dengan The Sun, seperti dikutip LyndHub. Ia menekankan pentingnya kerentanan (vulnerability) sebagai kunci untuk membuka hati kembali. "Kadang cinta begitu kuat sehingga Anda tidak bisa menahannya. Saat itulah Anda harus melepaskan semua perlindungan diri."
Yang menarik, Shania kemudian menemukan cinta baru pada Frederic Thiebaud, mantan suami Marie-Anne. Keduanya saling mendukung saat memulihkan diri dari pengkhianatan pasangan masing-masing, dan menikah pada 2011. Kisah ini menjadi bukti bahwa cinta bisa muncul dari situasi paling tak terduga.
Dalam album terbarunya yang bertajuk Little Miss Twain, Shania menuangkan pengalaman pahit manis tersebut ke dalam lagu-lagu seperti "Scary Thing" dan "Problematic". Ia menggambarkan album itu sebagai buku harian yang merekam perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi bintang dunia. "Ini fase hidup yang banyak orang tidak tahu. Saya merenungkan di mana saya berada saat itu, siapa yang ada di sekitar, dan suasananya. Sangat seperti diary," jelasnya.
Bagi publik Indonesia, kisah Shania mungkin mengingatkan pada sejumlah artis Tanah Air yang juga harus melewati badai perselingkuhan dan bangkit kembali. Namun, yang membedakan adalah cara Shania memaknai waktu. "Saya berharap bisa melakukannya dengan benar di usia 50-an, tetapi itu belum cukup. Saya perlu berada di usia 60-an untuk mulai memahaminya. Dan itu tidak masalah. Saya berencana hidup sampai 200 tahun kok," ujarnya bercanda.
Pernyataan itu menunjukkan kedewasaan emosional yang langka: kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses. Shania tidak hanya bertahan, tetapi juga mentransformasi rasa sakit menjadi karya seni. Ia mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang menghindari luka, melainkan tentang keberanian untuk terus mencoba meski pernah terbakar.
Dengan album barunya, Shania seolah ingin membuktikan bahwa kisah cinta bisa ditulis ulang, bahkan di usia yang tak lagi muda. Pertanyaannya kini: akankah pendengar di Indonesia turut terinspirasi untuk memandang cinta dengan cara yang sama?



