Katarina Johnson-Thompson Mundur dari Commonwealth Games, Fokus ke Kejuaraan Eropa
Baca dalam 60 detik
- Juara bertahan heptathlon Katarina Johnson-Thompson memutuskan mundur dari Commonwealth Games 2025 demi memulihkan cedera dan memprioritaskan Kejuaraan Eropa.
- Atlet Inggris berusia 33 tahun itu menjadi satu dari sembilan nama besar yang absen, termasuk Dina Asher-Smith dan Matthew Hudson-Smith.
- Keputusan ini menyoroti tekanan jadwal atlet elite dan dilema antara membela negara di multievent versus tampil maksimal di kejuaraan kontinental.

Katarina Johnson-Thompson, peraih emas heptathlon di dua edisi Commonwealth Games berturut-turut, memutuskan mundur dari pesta olahraga Persemakmuran yang digelar di Glasgow mulai Kamis (23/7). Atlet Inggris berusia 33 tahun itu masih dalam masa pemulihan cedera dan memilih fokus pada Kejuaraan Atletik Eropa yang berlangsung pada Agustus mendatang.
Keputusan ini diumumkan Johnson-Thompson melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengaku kecewa tidak bisa berlaga di hadapan publik sendiri dan mempertahankan gelar juara. "Meski cedera yang saya alami awal musim ini sudah membaik, saya belum bisa kembali ke level yang dibutuhkan untuk tampil maksimal," tulisnya. Setelah berdiskusi dengan tim, ia memilih memberikan diri kesempatan terbaik untuk siap di Kejuaraan Eropa.
Johnson-Thompson bukan satu-satunya bintang yang absen. Tim Inggris mengonfirmasi bahwa total sembilan atlet mundur dari skuad atletik. Nama-nama seperti Dina Asher-Smith, Daryll Neita, Matthew Hudson-Smith, dan Amber Anning—semua peraih medali Olimpiade—juga tidak tampil di Glasgow. Ini menjadi pukulan bagi daya saing Inggris di nomor lintasan dan lapangan.
Fenomena mundurnya atlet papan atas dari Commonwealth Games bukan hal baru. Bagi atlet level dunia, jadwal kompetisi yang padat—termasuk Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan Kejuaraan Eropa—seringkali memaksa mereka memilih prioritas. Apalagi jika cedera mengintai, keputusan untuk tidak memaksakan diri menjadi langkah rasional demi karier jangka panjang.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat atlet-atlet Tanah Air juga kerap menghadapi dilema serupa dalam memilih ajang multievent seperti SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade. Manajemen beban latihan dan pemulihan cedera menjadi krusial agar prestasi tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan atlet.
Commonwealth Games sendiri tetap akan berlangsung dengan partisipasi 54 negara anggota Persemakmuran. Namun, absennya beberapa nama besar Inggris mengurangi daya tarik kompetisi. Pertanyaan selanjutnya: akankah Kejuaraan Eropa di Birmingham mampu menyajikan tontonan setara dengan hadirnya Johnson-Thompson dan kawan-kawan? Ataukah cedera masih menjadi momok yang menghantui?



