China Pamer Robot dan Mobil Listrik AI di Forum Media Asia-Pasifik, Sinyal Dominasi Teknologi Jelang KTT APEC
Baca dalam 60 detik
- Forum Media Asia-Pasifik di Shenzhen menampilkan demonstrasi robot humanoid, layanan otomatis, dan kendaraan listrik pintar sebagai etalase kecerdasan buatan China.
- Acara yang dihadiri 42 negara ini menjadi ajang diplomasi teknologi Beijing, sekaligus memperkuat posisi tawar menjelang KTT APEC.
- Kehadiran media Indonesia, termasuk Antara dan Tribun Network, mengindikasikan potensi kolaborasi dan transfer teknologi yang bisa berdampak pada industri kreatif dan manufaktur nasional.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan KTT APEC, China memanfaatkan Forum Media Asia-Pasifik (APMF) di Shenzhen untuk memamerkan kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang telah merasuk ke berbagai sektor—dari robot pelayan hotel hingga mobil listrik yang bisa 'menari'. Lebih dari sekadar pameran, ajang yang berlangsung 3-5 September ini menjadi panggung Beijing untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya pabrikan dunia, tetapi juga pusat inovasi yang siap memimpin era baru.
Forum yang digelar di Qianhai International Convention Center itu mempertemukan sekitar 35 pembicara dari 42 negara, termasuk para menteri informasi, pemimpin redaksi, dan eksekutif perusahaan teknologi. Mereka menyaksikan langsung bagaimana pabrik OPPO di Dongguan mempekerjakan robot Aimas yang mampu bercakap-cakap, sementara di fasilitas BYD di Shenzhen, lini produksi mobil listrik dikendalikan sistem otonom. Bahkan robot pengantar makanan berukuran 40x40x80 sentimeter dengan lincahnya menyusuri koridor hotel, memanggil lift, dan mengetuk pintu kamar tamu—sebuah pemandangan yang mungkin masih asing di Indonesia.
Puncak acara ditandai penandatanganan kemitraan strategis antar 16 media dari berbagai negara, termasuk Kantor Berita Antara dari Indonesia. Momen ini bukan sekadar seremonial; ia merefleksikan bagaimana China ingin membangun narasi 'kemakmuran bersama' melalui konektivitas media dan teknologi. Bagi Indonesia, kehadiran Direktur Pemberitaan Antara Virgandi Prayudantoro dan CEO Tribun Network Dahlan Dahi menunjukkan adanya peluang untuk belajar dari percepatan adopsi AI di China, yang menurut Dahlan—yang juga Ketua Komisi Digital Dewan Pers—perlu diimbangi dengan kesiapan regulasi dan etika jurnalisme.
Demonstrasi teknologi yang ditampilkan sejalan dengan tema forum, "Membangun Jalan Menuju Kemakmuran Bersama Masyarakat Asia-Pasifik: Konsensus dan Aksi Media". Namun, di balik kemewahan robot dan mobil listrik, terdapat pesan geopolitik yang halus. Dengan KTT APEC yang akan digelar di Peru akhir tahun ini, China ingin memastikan bahwa standar teknologi dan narasi digital yang berkembang di kawasan memiliki warna Beijing. Langkah ini juga menjadi jawaban atas persaingan teknologi dengan Amerika Serikat yang semakin memanas.
Bagi Indonesia, pameran ini memberikan gambaran nyata tentang masa depan manufaktur dan layanan. Jika China mampu mengintegrasikan AI hingga ke pengaturan lampu jalan dan lini produksi kasur, maka Indonesia perlu berbenah. Investasi di bidang infrastruktur digital dan sumber daya manusia menjadi prasyarat agar tidak sekadar menjadi pasar. Pertanyaan yang menggantung: akankah Indonesia mengambil peran aktif dalam ekosistem AI regional, atau hanya menjadi penonton di tengah perlombaan raksasa teknologi?



