Philippine Airlines Borong 9 Airbus A350, Ekspansi Rute Jarak Jauh Makin Agresif
Baca dalam 60 detik
- Philippine Airlines memesan sembilan Airbus A350-1000 dan opsi lima unit tambahan, sehari setelah memesan 15 Boeing 787 Dreamliner.
- Langkah ini menandai pemulihan maskapai tertua di Asia itu setelah keluar dari kebangkrutan Chapter 11 pada 2021.
- Ekspansi armada ini menyasar pasar diaspora Filipina di Amerika Utara, sejalan dengan rencana bergabung ke aliansi oneworld.

Philippine Airlines (PAL) kembali menggebrak industri penerbangan global dengan memesan sembilan unit Airbus A350-1000 dan hak untuk membeli lima unit tambahan, hanya sehari setelah mengumumkan pembelian 15 Boeing 787 Dreamliner. Langkah agresif ini menjadi sinyal kuat bahwa maskapai tertua di Asia itu serius memperluas jaringan penerbangan jarak jauhnya, terutama ke Amerika Utara.
Pesanan yang diumumkan di ajang Farnborough Airshow, Inggris, pada Selasa (21/7) itu merupakan bagian dari strategi PAL yang baru keluar dari perlindungan kebangkrutan Chapter 11 Amerika Serikat pada akhir 2021. Setelah melalui restrukturisasi yang memangkas utang dan merampingkan armada, PAL kini fokus membangun kembali rute-rute jarak jauh yang sempat terhenti akibat pandemi.
Presiden PAL Richard Nuttall mengonfirmasi bahwa pesawat pertama dari pesanan Airbus A350-1000 dijadwalkan tiba pada awal 2030. Sebelumnya, PAL juga telah memesan sembilan unit A350-1000 yang akan dikirim mulai Desember 2025. Dengan tambahan pesanan baru ini, PAL dipastikan akan memiliki salah satu armada widebody termuda di kawasan Asia Tenggara.
Keputusan PAL memborong pesawat dari dua raksasa manufakturโAirbus dan Boeingโdalam waktu berdekatan menunjukkan fleksibilitas dan ambisi maskapai yang dikendalikan oleh konglomerat Filipina Lucio Tan. Grup Tan memiliki portofolio bisnis yang luas, mulai dari aviasi, perbankan, rokok, minuman, properti, hingga pendidikan.
PAL tidak sendiri. Maskapai-maskapai Asia dan Timur Tengah juga berlomba memperbarui dan memperluas armada widebody mereka untuk menangkap lonjakan permintaan perjalanan internasional pascapandemi. Rute jarak jauh menjadi medan pertempuran utama, dan PAL ingin memastikan posisinya tidak tertinggal.
Fokus PAL pada rute Amerika Utara bukan tanpa alasan. Komunitas diaspora Filipina di AS dan Kanada sangat besar, dan permintaan perjalanan antara Manila dan kota-kota seperti Los Angeles, San Francisco, dan New York terus tumbuh. Pesawat A350-1000 yang memiliki jangkauan ultra-panjang dinilai ideal untuk melayani rute-rute tersebut tanpa perlu transit.
Langkah ini juga sejalan dengan rencana PAL untuk bergabung dengan aliansi oneworld, yang diumumkan bulan lalu. Dengan menjadi anggota oneworld, PAL akan mendapatkan akses ke jaringan global yang lebih luas, termasuk koneksi ke kota-kota di Eropa dan Amerika Latin. Ini akan mengakhiri status PAL sebagai salah satu dari sedikit maskapai bendera Asia besar yang berdiri sendiri di luar aliansi global.
Bagi Indonesia, ekspansi PAL ini patut dicermati. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group mungkin akan menghadapi persaingan yang lebih ketat di rute-rute yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Amerika Utara. Apalagi, PAL juga berencana memanfaatkan bandara baru yang sedang dibangun di Filipina untuk meningkatkan konektivitas global. Jika berhasil, PAL bisa menjadi hub alternatif bagi penumpang dari Indonesia yang ingin terbang ke AS tanpa harus transit di Singapura atau Bangkok.
Pertanyaannya, akankah maskapai Indonesia merespons dengan strategi serupa? Atau justru akan fokus pada pengembangan rute domestik dan regional yang masih memiliki potensi besar? Yang jelas, persaingan di langit Asia Tenggara semakin panas, dan konsumenlah yang akan diuntungkan.



