Bandara Soetta Ditutup Hingga Tengah Malam, Ribuan Penumpang Terlantar di Terminal 3
Baca dalam 60 detik
- Operasional Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara hingga pukul 23.59 WIB menyusul peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Penutupan ini memicu kekacauan di Terminal 3, dengan antrean panjang calon penumpang yang mencari jadwal ulang penerbangan.
- Penumpang diimbau memantau informasi resmi maskapai dan menghubungi Contact Center InJourney Airports untuk pembaruan status penerbangan.

Badai abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau kembali melumpuhkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang. Otoritas bandara memutuskan memperpanjang penghentian operasional penerbangan hingga pukul 23.59 WIB, Minggu (6/9/2026), menyusul peningkatan aktivitas gunung yang berada di Selat Sunda tersebut. Keputusan ini memicu gelombang penumpang yang berusaha menjadwalkan ulang perjalanan mereka di tengah ketidakpastian yang melanda sektor penerbangan nasional.
Pengumuman resmi yang disampaikan melalui akun Instagram @soekarnohattaairport menegaskan bahwa penghentian operasional ini merupakan langkah antisipatif terhadap penyebaran abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan. "Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan penghentian operasional penerbangan sampai pukul 23.59 WIB," demikian bunyi keterangan resmi yang dikutip Minggu sore. Langkah ini sejalan dengan prosedur standar keselamatan yang diterapkan otoritas penerbangan sipil ketika terjadi gangguan alam yang berpotensi merusak mesin pesawat.
Dampak langsung terasa di Terminal 3, di mana antrean penumpang yang ingin melakukan reschedule atau pembatalan tiket mengular hingga puluhan meter. Pantauan di lokasi menunjukkan konter check-in F menjadi titik konsentrasi massa, dengan antrean yang memanjang hingga ke ujung terminal—jarak yang diperkirakan mencapai 60 meter. Layar informasi penerbangan di terminal didominasi warna merah bertuliskan "dibatalkan", menambah suasana mencekam bagi ribuan calon penumpang yang terjebak.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar gangguan perjalanan biasa. Bandara Soetta adalah gerbang udara utama yang melayani lebih dari 40 juta penumpang per tahun, dan penutupan selama berjam-jam berpotensi memicu kerugian ekonomi yang signifikan—mulai dari sektor pariwisata, logistik, hingga bisnis MICE (meeting, incentive, conference, exhibition) yang mengandalkan konektivitas internasional. Para analis penerbangan memperkirakan setiap jam penutupan bandara utama dapat merugikan maskapai hingga miliaran rupiah, belum termasuk biaya kompensasi penumpang yang diatur regulasi.
Dalam situasi seperti ini, maskapai dan otoritas bandara berlomba memberikan informasi terkini. Penumpang diimbau untuk tidak gegabah menuju bandara tanpa konfirmasi jadwal, karena status penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu. Contact Center InJourney Airports di nomor 172 disiagakan untuk menjawab pertanyaan seputar kebandarudaraan, sementara masing-masing maskapai menyediakan kanal resmi untuk pembaruan status penerbangan. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin terjadi," tulis pengelola bandara, sebuah pernyataan yang mungkin terasa klise bagi mereka yang sudah berjam-jam menunggu di terminal.
Fenomena abu vulkanik ini mengingatkan kembali pada krisis serupa yang melanda Indonesia pada 2010 saat erupsi Gunung Merapi, yang melumpuhkan Bandara Adisutjipto Yogyakarta selama beberapa hari. Namun, yang membedakan kali ini adalah skala dampaknya yang langsung menghantam bandara tersibuk di Indonesia, memicu efek domino pada jadwal penerbangan domestik dan internasional. Para pengamat kebijakan publik menyoroti perlunya sistem peringatan dini yang lebih terintegrasi antara lembaga vulkanologi, otoritas bandara, dan maskapai agar penumpang tidak menjadi korban ketidakjelasan informasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian apakah penutupan akan diperpanjang lagi setelah pukul 23.59 WIB. Gunung Anak Krakatau yang terletak di antara Jawa dan Sumatra ini memang dikenal memiliki siklus erupsi yang tidak menentu. Pertanyaannya kini, mampukah otoritas penerbangan dan maskapai mengelola krisis ini dengan baik, atau akankah penumpang kembali menjadi pihak yang paling dirugikan? Satu hal yang pasti: esok hari, ribuan penumpang akan kembali memantau langit—berharap abu vulkanik segera reda dan pesawat kembali terbang.



