Media Asia-Pasifik Sepakat Kawal Etika di Tengah Disrupsi AI: Antara dan Xinhua Perkuat Kolaborasi
Baca dalam 60 detik
- Forum Media Asia-Pasifik di Shenzhen menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga akurasi dan transparansi di tengah maraknya konten sintetis.
- Kepala Redaksi Antara, Virgandhi Prayudantoro, menyerukan penguatan kerja sama peliputan dan berbagi pengetahuan antarnegara APEC.
- Menjelang KTT APEC November 2025, inisiatif pelatihan jurnalis dan jaringan cek fakta regional menjadi langkah konkret menghadapi tantangan AI.

Lebih dari 400 perwakilan media dari 40 negara Asia-Pasifik berkumpul di Shenzhen, China, akhir pekan ini, dan menghasilkan satu pesan tegas: kecerdasan buatan (AI) tidak boleh melunturkan nilai-nilai dasar jurnalisme. Forum yang digelar di pusat inovasi teknologi itu menjadi panggung bagi para pemimpin redaksi untuk merumuskan strategi bersama menghadapi era disrupsi digital, sekaligus memperkuat narasi kawasan yang kerap tenggelam oleh dominasi pemberitaan negara maju.
Forum yang mengusung tema "Membangun Jalan Menuju Kemakmuran Bersama Komunitas Asia-Pasifik: Konsensus dan Aksi Media" ini menjadi ajang pembentukan Komite Penyelenggara Program Kemitraan Media Asia-Pasifik yang melibatkan 16 organisasi pendiri dari berbagai negara. Para peserta sepakat bahwa media memiliki peran krusial dalam mendorong keterbukaan dan integrasi ekonomi kawasan, terutama dengan hadirnya berbagai tantangan baru seperti penyebaran disinformasi yang semakin canggih.
Kekhawatiran terhadap dampak negatif AI disuarakan dengan gamblang oleh Nur-ul Afida Kamaludin, CEO Kantor Berita Nasional Malaysia (Bernama). Menurutnya, meskipun AI menawarkan efisiensi luar biasa bagi jurnalis, teknologi yang sama juga mampu memproduksi berita palsu dan deepfake dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Teknologi harus meningkatkan kualitas jurnalisme, bukan menggantikan nilai-nilai fundamentalnya," tegasnya, seraya mengingatkan bahwa akurasi, keseimbangan, dan akuntabilitas manusia harus tetap menjadi jantung pekerjaan media.
Senada dengan itu, Felix Paz Quiroz, Direktur Utama Kantor Berita Peru (Andina), menyoroti dilema transformasi digital yang dihadapi banyak organisasi media. Baginya, teknologi memang melipatgandakan kemampuan peliputan, namun kepercayaan publik tetap bertumpu pada nilai-nilai yang tidak bisa digantikan oleh mesin. "Verifikasi, transparansi, netralitas, dan etika adalah harga mati yang tidak bisa ditawar," ujarnya. Sementara itu, Wakil Menteri Penerangan Myanmar, U Ye Tint, mengingatkan bahwa media justru semakin penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan di tengah banjir informasi palsu yang diproduksi AI.
Di tengah hiruk-pikuk kekhawatiran akan AI, muncul pula seruan untuk mengangkat sisi lain dari kawasan ini. Aminath Namza, Ketua Lembaga Penyiaran Publik Maladewa, mengkritik kecenderungan media global yang terlalu fokus pada kerentanan dan krisis di negara-negara Selatan. Menurutnya, negara-negara kecil pun memiliki kisah sukses yang layak dipelajari dunia. Pandangan serupa disampaikan Nur-ul Afida yang menegaskan bahwa Asia-Pasifik bukan sekadar kumpulan statistik ekonomi dan konflik, melainkan rumah bagi keberagaman sejarah, budaya, dan aspirasi manusia yang perlu dipahami secara utuh.
Bagi Indonesia, forum ini memiliki arti strategis. Virgandhi Prayudantoro, Pemimpin Redaksi LKBN Antara, menekankan pentingnya kolaborasi antarmedia di kawasan. "Melalui inisiatif peliputan bersama, pembelajaran kolaboratif, dan berbagi pengetahuan regional, kita dapat membangun platform yang kokoh untuk pertukaran intelektual dan dukungan bagi anggota APEC," ujarnya. Pernyataan ini relevan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan media di Asia Tenggara yang kerap menjadi rujukan pemberitaan kawasan.
Langkah konkret pun mulai diwujudkan. Xinhua, kantor berita China, telah meluncurkan program pelatihan bagi 100 profesional media Asia-Pasifik pada tahun ini. Program tersebut mencakup sesi mendalam tentang integrasi media China, aplikasi AI, pembuatan konten AIGC, dan inovasi diseminasi perkotaan. Selain itu, muncul pula wacana pembentukan jaringan cek fakta regional dan perluasan program pertukaran jurnalis muda sebagai wujud nyata dari konsensus yang telah disepakati.
Forum ini menjadi pemanasan jelang perhelatan besar: China akan menjadi tuan rumah KTT Ekonomi APEC ke-33 di Shenzhen pada November 2025. Ini merupakan kali ketiga China menjadi tuan rumah, setelah Shanghai pada 2001 dan Beijing pada 2014. Sekitar 300 pertemuan dan acara terkait APEC akan digelar di berbagai kota China sepanjang tahun ini. Shenzhen sendiri, yang berbatasan langsung dengan Hong Kong, telah bertransformasi dari kawasan ekonomi khusus menjadi pusat inovasi dan manufaktur maju global dalam empat dekade terakhir.
Pertanyaannya kini, apakah komitmen etis ini akan mampu bertahan ketika tekanan komersial dan politik semakin kuat? Atau justru kolaborasi regional seperti inilah yang menjadi benteng terakhir menjaga kredibilitas media di tengah gempuran algoritma? Waktu yang akan membuktikan, namun satu hal pasti: media Asia-Pasifik tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam revolusi AI yang mereka hadapi sendiri.



